Ketik disini

Praya

Tanaman Bambu Dikemas Agar Memiliki Nilai Jual

Bagikan

* Dari Pengukuhan Pengurus APBL Lombok Tengah

Bupati HM Suhaili FT menyarankan, agar tanaman hasil hutan bukan kayu, salah satunya bambu, dapat digunakan sebagai kerajinan tangan.

Pernyataan itu disampaikan orang nomor satu di Loteng itu, saat dirinya mengukuhkan pengurus asosiasi pengelola bambu Lombok (APBL) Loteng Sabtu, kemarin di halaman kantor desa Wajegeseng, kecamatan Kopang. Asosiasi yang ketuai HM Nasrun dan sekretaris M Amrillah itu, diharapkan mampu menjawab tantangan perkembangan modernisasi. Dengan cara, menyiapkan kebutuhan masyarakat, dalam bentuk anyaman atau kerajinan tangan dari tanaman bambu.

Sebut saja, kursi, lampu hias, tas, lampit, kotak tisu, bakul nasi, topi, kipas dan berbagai produk kerajinan lainnya. Dia tidak ingin, produk tradisional itu justru tenggelam, ditengah kemajuan teknologi. Untuk itulah, Orang nomor satu di Gumi Tatas Tuhu Trasna itu menginginkan, tanaman bambu tersebut memiliki nilai jual, sehingga secara langsung mampu meningkatkan taraf ekonomi masyarakatnya, baik sebagai pekerjaan utama, maupun sampingan.

Ditangan pengurus APBL, Suhaili meminta agar sebagian warga di Loteng, diberikan pendidikan dan pelatihan tentang kerajinan yang dimaksud. Sehingga, jika di produksi secara masal, maka pemerintah pun siap mengintervensi, baik dari sisi permodalan, maupun akses pemasaran.

Bagi bupati, menanam pohon bambu tidak sesulit tanaman lain. Apalagi, di wilayah utara yang dikenal subur. Tanaman yang satu itu, sering dijumpai diperkebunan milik warga atau hutan. Hanya saja, sebagian warga tidak memanfaatkan nilai jual bambu tersebut. “Semoga tanaman bambu disulap dan dikemas sedemikian rupa, sehingga memiliki nilai jual, baik domestik, nasional sampai internasional,” ujarnya.

Dia melihat, di beberapa daerah di NTB hingga Indonesia, kerajinan atau anyaman yang satu itu, seringkali menjadi perbincangan dunia. Karena, hanya Indonesia yang memiliki kekayaan sumberdaya alam tersebut. Jika manfaat bambu itu, diselaraskan dengan kekayaan destinasi wisata yang dimiliki Loteng, maka Loteng menjadi satu-satunya daerah yang sifatnya terpadu.

Artinya, datang ke Loteng, tidak saja menikmati keindahan alamnya. Tapi, terdapat juga buah tangan yang dibawa ke daerah, atau negara asal. “Kita punya batu akik, mutiara, atau kerajinan songket. Mari kembangkan seluruh potensi yang ada tersebut. Khususnya, tanaman bambu,” serunya.
Berkurangnya produksi kayu karena maraknya penebangan liar, menjadikan bambu sebagai alternatif. Bisa saja, menurut Suhaili bambu itu dikemas sebagai pengganti kayu, untuk kebutuhan pembuatan lemari, meja atau bangunan rumah dan sebagainya. Langkah itu, menjadi pekerjaan rumah pengurus APBL, untuk memformulasikan dari berbagai sumber atau pengalaman di luar.

“Saya mendukung berdirinya APBL ini. Tapi, saya menyarankan agar usulan saya sebelumnya dijalankan, yaitu perubahan nama menjadi Apel Bubok, bukan APBL. Nama Apel Bubok itu memiliki arti tersendiri,” usulnya.

“Kami atas nama pengurus, yang resmi dikukuhkan Bapak Bupati, menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya. Apa yang menjadi saran dan bimbingan Bapak Bupati, Insya Allah kami laksanakan dalam waktu dekat ini,” lanjut ketua APBL Loteng HM Nasrun.

Dasar di dirikannya APBL itu, kata Nasrun untuk menyatukan persepsi warga, dalam mengelola, memanfaatkan, atau mengembangkan bambu, sehingga memiliki nilai jual.(dedi)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *