Ketik disini

Headline Praya

Stok Pupuk Kurang 3.600 Ton

Bagikan

PRAYA – Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispernak) Lombok Tengah, merilis kekurangan stok pupuk pada masa tanam awal tahun ini, mencapai 3.600 ton. Akibatnya, harga pupuk semakin mahal, bahkan langka. Kondisi seperti itu pun, dimanfaatkan pihak-pihak tertentu, untuk menyebar dan menjual pupuk palsu.

Pemerintah provinsi pun, diharapkan dapat menyikapi permasalahan yang di hadapi Pemkab Loteng. Jika tidak, produksi pertanian tahun ini, mengalami kemerosotan lantaran minimnya ketersediaan pupuk. “Semoga ada jalan keluarnya dalam waktu dekat ini,” kata Kepala Dinas Pernak H Ibrahim.

Angka 3.600 ton itu, terangnya diperoleh dari kuota pupuk yang diterima Loteng setiap empat bulan sekali, atau terhitung November 2014 lalu, sampai Februari tahun ini. Totalnya mencapai 13.600 ton. Namun, yang tersalurkan baru 10 ribu ton. Itu pun secara bertahap. Dalam setahun, kuota pupuk yang diterima mencapai 20.250 ton.

Jumlah pupuk itu, digunakan secara merata di 139 desa/kelurahan di 12 kecamatan di Loteng. Tertinggi di tiga kecamatan meliputi, kecamatan Praya Barat 2.267 ton, Praya Timur 2.238 ton dan Kecamatan Jongkat 2.185 ton. Sebagian di kecamatan Batukliang Utara (BKU), Batukliang dan Kopang. “Secara umum kuota pupuk kita tidak ada perubahan,” katanya.

Perubahan kuota pupuk, bebernya dimulai sejak tahun 2013 lalu. Di mana, yang seharunya Loteng mendapatkan stok pupuk sebanyak 23.250 ton, justru dikurangi pemerintah pusat, dan provinsi menjadi 20.250 ton, atau berkurang sebanyak 2.947. Satu-satunya cara, petani pun diminta untuk mensiasati kekurangan tersebut.

Harga standar pupuk yang dijual ke petani yaitu, untuk jenis urea sebesar Rp 180 ribu per kwintal, SP36 Rp 200 ribu per kwintal, MPK Rp 230 ribu per kwintal, pupuk ZA Rp 140 ribu per kwintal, dan jenis pupuk organik Rp 50 ribu per kwintal.

Setiap masa tanam, pihaknya pun paling tidak menyiapkan 14,099 ton pupuk jenis urea, 5.621,87 ton jenis SP36, dan 2.737,17 ton jenis pupuk ZA, serta 7.804 ton NPK. “Kami berharap, agar para petani tetap bersabar, menunggu stok kuota pupuk yang belum disalurkan. Kami pun terus melakukan pemantauan, terkait pemanfaatan situasi ini, seperti peredaran pupuk palsu,” ujarnya.

“Kalau menurut saya, harusnya produsen pupuk melaksanakan Operasi Pasar (OP). Apa artinya, pemerintah memberikan subsidi pupuk itu,” sambung kepala Dinas Koperasi, Perindusterian dan Perdagangan (Diskoperindag) H Amir Husen.

Dikatakannya, dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 15/M-DAG/PER/2013, tentang pengadaan dan penyaluran pupuk bersubsidi, produsen berkewajiban menyiapkan pupuk secara berkala, di seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Khusus, di pulau Lombok terdapat dua produsen yang harus membijaksanai kelangkaan pupuk, yang terjadi saat ini. Apalagi, muncul pupuk palsu, yang itu terjadi di Loteng.

“Dalam aturan itu juga, kami berkewajiban ikut serta mendorong ketersediaan pupuk ini,” katanya. “Tabung gas LPJ 3 kilogram (kg), atau sembako saja bisa di OP. Kenapa tidak, pupuk juga,” tambahnya.

Dalam aturan itu juga, bebernya terdapat ketentuan harga eceran tertinggi (HET). Untuk jenis pupuk urea perkilogramnya mencapai Rp 1.800, jenis SP36 Rp 2.000 per kilo, MPK Rp 2.300 per kilo, ZA Rp 1.400 dan organik Rp 500 per kilo. “Semua jenis pupuk itu telah di subsidi. Jadi, saya minta distributor atau pengecer, jangan mempermainkan harga. Kalau itu dilakukan, maka kami tidak segan-segan mencabut izinnya masing-masing,” tegas Amir. (dss)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *