Ketik disini

Headline Praya

Tim Pengaman BIL Mulai Bekerja

Bagikan

* Pedagang ‘Nakal’ Ditertibkan

PRAYA – Minggu, kemarin merupakan hari pertama tim pengamanan Bandara Internasional Lombok (BIL) bekerja. Tim yang terdiri dari perwakilan warga desa Ketare, Tanak Awu dan Penujak itu, melakukan penertiban seluruh pedagang yang dianggap ‘nakal’. Mereka diminta, untuk menempati area lapak yang telah disiapkan.

Tinjauan langsung koran ini di lokasi penertiban, situasi berjalan lancar dan aman, tidak ada perlawanan dari pedagang. Tim yang dikomandani Persatuan Masyarakat Penujak, Tanak Awu, Ketare (Permata Peta) Loteng Lalu Siaga itu, juga menempatkan 20 personilnya untuk menjaga pedagang, agar tidak berjualan di tempat yang dilarang.

Karena, dari pengalaman sebelumnya, tiga atau empat hari setelah penertiban, biasanya pedagang kembali menempati area steril di beberapa titik di bandara. “Untuk menjaga itu, makanya kami tempatkan 20 personil. Setelah itu, barulah kita bekerja dengan sistem bergantian,” kata Lalu Siaga pada Lombok Post, kemarin usai melaksanakan penertiban pedagang.

Lalu Siaga, yang ditunjuk tiga kepala desa (kades) di lingkar bandara itu optimis, membawa situasi bandara lebih aman. Kesan jorok, kotor atau pun kumuh dipastikan tidak ada lagi. “Kami tiga kades, sebagai penanggungjawab dalam penertiban ini, terus mengontrol. Jadi, tahap pertama kami lakukan sosialisasi. Alhamdulillah, para pedagang satu persatu memindahkan dagangannya di tempat yang disiapkan pengelola bandara,” sambung kades Tanak Awu Lalu Nudiana.

Dia pun meminta kepada ketua Permata Peta, untuk secepatnya mengatur penempatan personilnya. Dengan harapan, pedagang tidak melanggar ketentuan yang telah disepakati. “In Sha Allah, kami menjamin kepada Angkasa Pura (AP) dan pemerintah, bahwa mereka mematuhi seruan kami ini,” katanya.

Yang terpenting, kata Nudiana pengelola bandara membuat kebijakan, agar lokasi pedagang yang baru tetap diramaikan pengunjung. Dengan cara, membuat regulasi agar travel resmi, atau kendaraan bandara, memarkir di lokasi yang di maksud. “Konsentrasi awal, kita arahkan soal penertiban pedagang ini saja. Semoga, kesan bandara tradisional atau layaknya terminal, bisa kita atasi pelan-pelan,” ujarnya.

Hal yang sama dikatakan Kades Katere, Lalu Buntaran. Dia mengatakan, mayoritas pedagang yang berjualan di bandara tersebut, adalah warganya sendiri. Sehingga, dia optimis pelaksanaan tugas tim yang ditandai dengan perjanjian kerjasama dengan AP, berjalan sukses. Apalagi, mendapat dukungan dari aparat hukum terkait.

Di lokasi penertiban, terdapat petugas kepolisian, dibantu Satpol PP dan Dishubkominfo NTB. Mereka bersama-sama membantu tim Permata Peta bekerja pada hari pertama Minggu, kemarin. “Kami atas nama managemen AP, menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada tiga desa lingkar bandara. Karena, permasalahan sosial ini merupakan pertaruhan kemajuan bandara kita,” sambung General Manager (GM) AP BIL Pujiono.

Selama ini, menurutnya permasalah sosial, yaitu pedagang dan keamanan bandara, seringkali menjadi sorotan di luar. Di satu sisi, pemerintah provinsi, khususnya Pemkab menutup mata untuk membantu.

“Kami menaruh harapan besar kepada tiga desa ini. Kami pun sangat berharap dukungan semua pihak. Karena, bandara ini milik warga NTB umumnya, dan Loteng khususnya. Mari kita jaga bersama-sama aset ini,” serunya.(dss)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *