Ketik disini

Headline

Sembalun Bumbung Ancam Pindah ke KLU

Bagikan

* Pemerintah Lamban Mengambil Tindakan

SELONG — Warga Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun mengancam akan meminta status desa mereka pindah menjadi desa di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Ungkapan ini lantaran warga kecewa terhadap sikap pemerintah yang lamban menangani aksi teror terhadap warga Sembalun Bumbung.

Informasi yang diserap Lombok Post, sejumlah warga yang biasa ”turun” untuk beraktivitas ke berbagai wilayah di Lombok merasa resah belakangan. Pasalnya, di desa tetangga, Desa Bebidas tepatnya di Dusun Jerongkoak mereka kerap mendapat teror. Oknum kadus setempat, menurut warga, kerap melakukan pencegatan pada siapapun warga Sembalun Bumbung yang melintas. Bahkan kasus terbaru, Amaq Usmi dicegat saat hendak pulang usai berjualan sayur ke Mataram.

Pada Sabtu Malam lalu, kendaraannnya dihentikan sejumlah orang, yang salah satunya dikenali sebagai Kadus Jerongkoak. Dia diminta menunjukkan KTP. Setelah dilihat KTPnya, ia kemudian langsung menerima empat kali sabetan parang di sekujur tubuhnya tanpa mengetahui alasan yang jelas.

”Katanya pokoknya warga Sembalun Bumbung yang lewat akan dicegat,” ceritanya menjelaskan kronologi.

Bersiteganya kedua wilayah ini memang sudah satu bulan terakhir terjadi. Puncaknya ketika warga mengamuk dan menutup akses jalan akibat kesal dengan lambannya respon pemerintah (baca LP edisi kemarin, red). Kepala Desa Sembalun Bumbung, H Supdi mengatakan opsi pindah ke daerah lain dikatakan memang mencuat sebagai bentuk kekecewaan warga.

”Kalau pemerintah tidak bertindak cepat, ini akan semakin bahaya. Saya sudah sekuat tenaga redam rakyat,” katanya.

Tuntutan warga menurutnya adalah sederhana. Yakni pemberian rasa aman dan nyaman dalam beraktivitas. Selain itu, pemicu ketegangan kedua wilayah harus segera ditangkap dan diproses secara hukum.

”Warga cuma minta jaminan keamanan saja,” pungkasnya.

Sementara itu, aksi pemblokiran jalan menuju Sembalun yang dilakukan warga Jerongkoak menjadi buah bibir di kalangan wisatawan. Para wisatawan ini merasa takut dengan kondisi ini. Apalagi dalam aksi penutupan jalan itu, sejumlah warga membawa senjata tajam.

“Kami dilarang naik ke Sembalun,’’ kata Ayu, salah seorang wisatawan yang hendak berlibur ke Sembalun.

Menurutnya, aksi ini cepat menjadi buah bibir lantaran penutupan jalan bersamaan dengan momen liburan. Banyak wisatawan lokal yang hendak ke Sembalun mengurungkan niatnya. Mereka khawatir dengan kondisi keamanan.

“Kami takut juga kalau melintas diancam,’’ ujarnya.

Wisatawan lainnya, Bayu juga merasa khawatir dengan aksi itu. Apalagi setiap liburan banyak wisatawan dari luar daerah yang berlibur ke Sembalun.

“Banyak teman bertanya apakah Sembalun aman sekarang. Saya bingung juga menjelaskan,’’ katanya.

Budayawan Lombok, Moch Yamin meminta pemerintah daerah Lombok Timur harus cepat mengambil tindakan atas kasus ini. Pasalnya, selama ini Desa Bebidas dan Desa Sembalun tidak pernah ada kasus keributan.

“Saya kaget juga ketika mendengar ada kasus seperti ini. Jangan dibiarkan sampai berlarut,’’ kata pria yang pernah melakukan pendampingan budaya di Desa Bebidas ini. (yuk/fat)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *