Ketik disini

Feature

Tak Kenal Bahasa Jawa, tapi Tradisi Nyadran Dipertahankan

Bagikan

*A�Mengunjungi Kampung Jawa Tondano di Minahasa, Sulawesi Utara

A�

Di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, terdapat satu kelurahan yang bernama Kampung Jawa. Orang setempat menyebutnya Jaton alias Jawa Tondano. Warga Jaton adalah keturunan Kyai Modjo, orang kepercayaan Pangeran Diponegoro, dan para pengikutnya.A�

***

MENUJU kampung Jaton tidaklah sulit. Jaraknya hanya sekitar 45 km atau satu jam dengan naik mobil pribadi dari Kota Manado. Warga Tondano, ibu kota Minahasa, sudah sangat familier dengan kampung tersebut. Jadi, kalau menanyakan lokasi kampung Jaton kepada warga Tondano, mereka hampir pasti tahu.

Kampung Jaton, yang seluruh warganya muslim, berbatasan dengan desa atau kelurahan yang seluruh warganya beragama Kristen. Yakni, Desa Tonsea Lama, Kelurahan Wulaan, Kelurahan Luaan, dan Kelurahan Ranowangko. Hebatnya, mereka hidup rukun dan damai. Tak pernah terjadi gesekan.

Luas Kampung Jawa itu sekitar 45 hektare, terdiri atas permukiman penduduk dan lahan pertanian. Di luar itu, masyarakat Kampung Jawa juga memiliki perkebunan seluas 450 hektare dan lahan pertanian lain seluas 50 hektare.

Meski namanya Kampung Jawa, tidak terlihat ornamen Jawa pada rumah-rumah warga. Wajah warga Jaton juga tidak mirip dengan orang Jawa pada umumnya. Malah sebagian tampak seperti indo-Belanda: berbadan tinggi besar dan berhidung mancung. Yang mengejutkan lagi, “orang-orang Jawa” itu tidak bisa berbahasa Jawa sama sekali. Mereka hanya tahu beberapa kata bahasa Jawa seperti sego (nasi), wedang (minuman), ngarep (depan), dan mburi (belakang).

“Kami di sini banyak mengikuti bahasa ibu. Sudah tidak ada lagi yang bisa berbahasa Jawa,” kata Taufik Kiay Demak, warga Jaton, generasi keenam Kiai Demak.

Bahasa warga Jaton sebenarnya merupakan perpaduan bahasa Jawa dan Tondano. Misalnya, miendonulah dewe (kamu ke sini, ambil sendiri) dan endonomi sego (ambilkan nasi).

Di kampung itu, masih tersisa beberapa bangunan Jawa yang terawat dengan baik. Yaitu, Masjid Al Falah Kyai Modjo dan kompleks makam Kyai Modjo. Masjid yang memiliki daya tampung hingga seribu jamaah itu beratap joglo, mirip dengan Masjid Agung Demak, Jawa Tengah. Masjid tersebut dibangun Kyai Modjo pada 1854. Kemudian mengalami berbagai renovasi dan pemugaran terakhir pada 1994.

Menurut Ahmad Kiay Demak, imam Masjid Al Falah Kyai Modjo, bagian yang masih asli di masjid itu adalah empat tiang penyangga alias saka guru setinggi 18 meter. Di bagian bawah tiang tersebut, terdapat ukiran khas Jepara. Mimbar yang digunakan untuk khotbah Jumat juga asli dan terdapat ukiran kaligrafi Arab yang dibuat para kiai. “Beduk dan kentongan ini juga asli peninggalan zaman Kyai Modjo,” ungkap Ahmad Kiay.

Sejarah Jaton dimulai pada masa perang Diponegoro, 1825-1830. Pada 1828, Kyai Modjo yang mewakili Pangeran Diponegoro untuk berunding dengan Belanda ternyata ditangkap dan diasingkan bersama 63 pengikutnya. Semua laki-laki. Setelah dibawa ke Batavia, Kyai Modjo dan pengikutnya itu dikirim pihak Belanda ke Minahasa. Mereka sempat transit di Ambon.

Rombongan Kyai Modjo tiba di Minahasa pada awal 1829. Mereka kemudian bermukim di sekitar Danau Tondano, sebuah daerah yang asing dengan masyarakat yang bahasanya juga asing. Sejak itu, hubungan para pengikut Kyai Modjo dengan sanak keluarganya di Jawa terputus.

Kyai Modjo, yang memiliki nama asli Muslim Muhammad Halifah, meninggal pada 20 Desember 1849 atau di usia 84 tahun dan dimakamkan di pemakaman Jawa Tondano. Untuk menuju makam Kyai Modjo, pengunjung harus meniti 115 anak tangga. Di tempat tersebut, juga dimakamkan pahlawan nasional KH Ahmad Rifa’i, tokoh asal Kendal, Jawa Tengah, yang dikenal sebagai pencipta musik rebana.

Beberapa tokoh lain yang menyusul diasingkan ke Tondano dan bergabung dengan kelompok Kyai Modjo adalah Pangeran Ronggo Danupoyo dari Surakarta, Kiai Hasan Maulani asal Cirebon, Sayyid Abdullah Assegaf (Palembang), Gusti Perbatasari (Banjarmasin), Abdul Karim (Banten), Tengku Muhammad (Aceh), dan Haji Saparua (Maluku). Tuanku Imam Bonjol juga diasingkan oleh Belanda ke Minahasa. Namun, Imam Bonjol tidak dimakamkan di Kampung Jaton, melainkan di Desa Lotak Pineleng, sekitar 25 km dari Jaton ke arah Manado.

Untuk bertahan hidup, Kyai Modjo bersama pengikutnya bercocok tanam. Kemampuan bercocok tanam itulah yang membuat warga setempat menaruh hormat dan simpati kepada Kyai Modjo dan pengikutnya. Banyak gadis Tondano yang cantik dan berkulit putih bersih pun tertarik dengan para pemuda asal Jawa yang rajin bercocok tanam itu.

Asimilasi pun terjadi. Seluruh pengikut Kyai Modjo menikah dengan gadis Tondano. Para gadis Tondano itu pun masuk Islam. Kyai Modjo sendiri yang tidak menyunting gadis Tondano. Sebab, istri Kyai Modjo, yang dikenal dengan sebutan Mbah Wedok, kemudian dikirim Belanda ke Tondano pada 1831.

Anak-anak Kampung Jaton diberi nama marga atau fam di belakang nama depannya. Nama marga itu diambil dari nama leluhur mereka. Seluruh keturunan Kyai Modjo menggunakan nama fam Modjo. Salah satunya adalah vokalis band Sheila on 7 Akhdiyat Duta Kyai Modjo (Duta Modjo).

Nama belakang warga Jaton menunjukkan garis keturunan mereka. Misalnya Arifin Kiay Demak, merupakan keturunan Kiai Demak. Kemudian, Mahmud Thayeb merupakan generasi dari Haji Thayeb. Selain itu, ada Umar Haji Ali yang merupakan generasi dari Haji Ali. Penulisan kiai di belakang nama mereka juga bermacam-macam. Ada yang memakai “kyai”, ada juga yang memilih “kiay”. Keturunan Kiai Demak lebih menuliskan namanya dengan “kiay”, bukan kiai atau kyai.

Menurut Sukirman Hadji Djafar, generasi kelima Hadji Djafar, generasi tertua di Jaton merupakan keturunan keempat. Yang paling muda adalah generasi kesepuluh. Kebanyakan keturunan Kyai Modjo pindah ke Gorontalo dan mendirikan kampung Jawa di sana. Yang paling banyak di Jaton saat ini adalah generasi Kiai Demak dan Haji Ali.

“Saat ini ada 800 kepala keluarga yang tinggal di Jaton,” kata Sukirman, tokoh adat Jaton, saat ditemui JPNN di Masjid Al Falah Kyai Modjo Jumat lalu (30/1).

Mantan syahbandar Bitung itu mengatakan, beberapa warga Jaton juga pernah mencari asal usul mereka hingga Jawa. Husnan Kiay Demak, salah seorang khatib Masjid Al Falah Kyai Modjo, mengatakan pernah datang ke Demak untuk mencari keturunan Kiai Demak yang masih hidup. “Kesulitannya, di Jawa tidak disertai nama fam seperti di Jaton,” kata Husnan.

Meski sudah tidak ada yang bisa berbahasa Jawa, tradisi-tradisi Jawa di Kampung Jawa Minahasa masih dipertahankan warga Jaton. Misalnya dalam upacara pernikahan, mereka menggunakan pakaian adat Jawa. Pengantin perempuan mengenakan kebaya, jarit, sanggul, serta riasan dan aksesori pengantin Jawa pada umumnya. Prosesinya juga sama dengan upacara perkawinan di Jawa. Mulai malam midodareni hingga temu manten. Namun, tidak ada gamelan di Jaton.

“Sepertinya hanya gamelan dan wayang yang tidak dibawa Kyai Modjo ke sini. Mungkin karena mereka rombongan ulama,” kata Arifin Kiay Demak.

Biasanya, papar Arifin, resepsi pernikahan dilangsungkan dua kali. Yang pertama mengenakan pakaian adat Jawa dan yang kedua ala Barat. Warga Minahasa memang biasanya mengadakan pernikahan dengan tradisi Barat.

Menurut Arifin, beberapa tradisi Jawa lainnya juga masih dipertahankan. Misalnya menjelang bulan puasa atau Idul Fitri, mereka juga nyekar ke makam leluhur.

“Kami menyebut makam dengan sarehan. Sama dengan di Jawa, kan?” kata kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Minahasa itu.

Kalau bersih-bersih makam di Jawa dikenal dengan nyadran, warga Jaton menyebutnya punggoan. Bedanya, saat punggoan, mereka melaksanakan zikir gholibah di kompleks makam Kyai Modjo. Saat itulah keturunan Kyai Modjo dari berbagai generasi yang tersebar di banyak daerah berdatangan. Selain itu, apabila ada kerabat yang meninggal, anggota keluarga menyiapkan kenduri untuk tujuh hari berturut-turut serta peringatan empat puluh hari, seratus hari, seribu hari, dan pendak (setahun sekali).

Di Jaton juga dikenal ba’da (Lebaran) ketupat atau Lebaran Ketupat sepekan setelah Idul Fitri. Setelah Idul Fitri, mereka berpuasa selama tujuh hari. Pada hari terakhir, mereka masak ketupat dan aneka lauk. Saat itu, warga bersilaturahmi.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW juga meriah di kampung Jaton. Saat mauludan, warga Jaton menggelar salawatan sejak 1 Rabiul Awal. Pada malam 12 Rabiul Awal, ibu-ibu membuat wedang dan ambeng. Ambeng merupakan nasi dengan serundeng, sayur, telur, ikan asin, dan ingkung (ayam utuh). Kemudian, siangnya ada musik hadrah. Semua dipusatkan di kompleks Masjid Al Falah Kyai Modjo.

Di akhir mauludan, warga Jaton membuat gunungan dari aneka buah. Masing-masing lingkungan (setingkat RT) biasanya menyumbangkan satu gunungan. Dari tiap-tiap lingkungan, gunungan itu diarak ke masjid. Setelah itu, gunungan diperebutkan oleh masyarakat setempat.

Kampung Jaton sangat potensial dijadikan desa wisata. Warga Jaton rutin mengadakan Festival Seni Budaya Jaton (FSBJ). Dua minggu lagi (19/2) FSBJ Ke-10 dilangsungkan.

“Misi festival ini untuk menyambung silaturahmi di antara warga keturunan Jaton yang tersebar di berbagai daerah,” kata Arifin sembari menambahkan bahwa dalam festival nanti hadir kerabat Keraton Jogjakarta dan Surakarta. (Tomy C Gutomo/Minahasa/c11/ari)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *