Ketik disini

Giri Menang

Warga Batu Kumbung Tolak Pembangunan Hotel

Bagikan

GIRI MENANG – Pembangunan salah satu hotel di Dusun Tratak Desa Batu Kumbung, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat mendapat penolakan dari warga setempat. Mereka tidak setuju karena dikhawatirkan disalahgunakan untuk tempat asusila.

Penolakan itu tidak hanya datang dari warga. Namun, Kepala Desa Batu Kumbung turut bereaksi untuk menolak pembangunan hotel yang diketahui milik AG (Inisial, Red) warga Cakranegara.

“Kami khawatir disalahgunakan untuk tempat mesum. Jadi, kami minta hentikan pembangunan hotel itu,” kata Kades Batu Kumbung, Marni, kemarin.

Ia menjelaskan, pembangunan hotel itu sudah berlangsung. Bahkan, pengerjaan sudah mencapai 75 persen. Hanya saja, sejak pembangunan itu pemiliknya sama sekali tidak memberitahukan desa.

Pihaknya, sambung dia, mengetahui ketika mereka memasang plang dan lampu di depannya. Melihat itu, dirinya bersama Kadus datang dan menegur agar mengentikan pembangunan.

“Satu hotel yang mau dibangun tapi tidak adaa�Z rekomendasi,” jelasnya.

Ia menegaskan, alasan dirinya menolak mengeluarkan rekomendasi, karena warga menolak keberadaan hotel tersebut. “Yang tolak bukan saya saja, tapi masyarakat. Kadus dan warga mengizinkan. Adaa�Z surat penyataannya,” aku dia.

Marni mengaku, paskapemasangan plang hotel itu, dirinya selaku kades memanggil pemiliknya. Tapi, mereka tidak memenuhi undangan tersebut.

“Beberapa hari kemudian adaa�Z yang datang ke rumah. Adaa�Z tiga orang, salah satunya pemilik hotel, AG (disebutkan nama lengkap) asal Cakra. Dia minta jalan keluar pembangunan hotel itu,” beber dia.

Dalam pertemuan itu, Marni mengungkapkan, pemilik mengaku adaa�Z orang yang membekinginnya. Tapi, dia tidak menyebutkan nama oknum tersebut, termasuk pekerjannya.

“Bukan oknum dewan. Pokoknya adaa�Z orang dibelakang dia. Namanya tidak disebutkan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, mengenai pembangunan hotel ini dirinya pernah dipanggil asisten I. Saat itu, dirinya diminta membeberkan alasan penolakannya.

“Dua kali dipanggil asisten I, saat itu di jabat Pak Udin (HMS Udin). Dia tanya alasan saja, saya bilang masyarakat tetap tolak,” pungkas dia.

Persoalan hotel ini menjadi perdebatan hangat di meja panitia khusus (pansus) perizinan. Mereka mempersoalkan izin yang keluar tanpa adaa�Z rekomendasi dari desa. Perdebatan itu melibatkan Ketua Pansus Nurul Hidayah dengan anggotanya Bakti Jaya.

Debat kusir ini bermula ketika Nurul Hidayah yang memimpin pertemuan dengan SKPD menanyakan bangunan salah satu bangunan losmen di wilayah Lingsar, Lombok Barat. Ia mempersoalkan losmen tersebut karena pembangunan belum ada rekomendasi dari desa, tapi izinnya keluar.

a�?Kami minta penjelasan dari badan perizinan,a�? kata Nurul Hidayah.

Usai Nurul Hidayah selesai bicara, tiba-tiba Bakti Jaya nyeletuk. Tanpa diminta menjelaskan, dia langsung menjawab jika pembangunan tersebut sudah melibatkan desa dan tidak ada permasalahan lagi.

a�?Kami sudah melibatkan desa,a�? katanya.

Nurul pun merespon reaksi dari Bakti Jaya, dia menegaskan, dirinya tidak meminta penjelasan dari anggota pansus, namun badan perizinan selaku pihak yang mengeluarkan izin.

a�?Kami siapa Pak Bakti?,a�? kata Nurul. Hal itu dipertanyakan pula, anggota pansus lain Munawir Hari mengenai pernyataan Bakti Jaya yang menyebutkan kata a��kamia��.
a�?Kata kami ini mewakili siapa, dewan kah atau pemilik losmen,a�? ujarnya.

Namun, pertanyaan itu tidak digubris Bakti Jaya. Dia malah meminta alasan Desa menolak pembangunan losmen tersebut.

a�?Kalau desa menolak, kasih alasan. Jangan main tolak menolak,a�? katanya.
Menengahi ketegangan itu, Nurul Hidaya memberikan kesempatan kepada badan perizinan untuk menguraikan masalah izin losmen tersebut.

Kabid Perizinan Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPMP2T) Lobar, Junaidi menjelaskan, awalnya memang ada kesalahan pada rekomendasi dari desa dan camat. Lalu, pihaknya meminta untuk diperbaiki, tapi berminggu-minggu tidak kunjung diperbaiki.

a�?Kita turun bersama tim untuk mengecek lokasi,a�? ujar dia.

Saat itu, sambung dia, tim melakukan koodinasi dengan desa untuk mengetahui akar permasalahannya. Dari penjelasan desa, penolakan itu didasari penolakan dari warga sekitar losmen itu.

a�?Tapi kami cek ke lapangan, tetangganya tidak permasalahkan. Yang tidak setuju itu, warga yang jauh dari lokasi pembangunan,a�? terang dia.

Selain itu, tambah Junaidi, tim juga mendapat restu dari camat. Kala itu, camat bersurat kepada badan perizinan perihal mempersilahkan terbitkan izin lebih dulu. Untuk urusan rekomendasi akan diberikan menyusul.

a�?Camat bilang, keluarkan izin dulu, lalu rekomendasi belakangan,a�? tandasnya.
Nurul Hidayah kembali bicara, dia mengatakan, camat cukup hebat, menyuruh izin duluan sementara rekomendasi belakangan.

a�?Kami cium adaa�Z permainan. Kalau memang harus adaa�Z rekomendasi desa, kenapa harus terbitkan izin. Desa kan belum keluarkan rekomendasi. Ini melangkahi aturan,a�? katanya. (jlo)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys