Ketik disini

Metropolis

Penanganan DBD Tidak Boleh Telat

Bagikan

* Komisi IV Akan Panggil Dikes

MATARAM —  Penanganan wabah demam berdarah dengue (DBD) di Kota Mataram tidak boleh terlambat dilakukan. Sebab, wabah ini sangat cepat menyebar dan mengancam jiwa warga.

”Kami harap Dinas Kesehatan sudah melakukan langkah-langkah cepat untuk menangani ini, yang penting kita tidak boleh telat,” kata Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Mataram Herman, Jumat (6/2).

Diberitakan sebelumnya, DBD mulai mewabah di Kota Mataram. Dari Januari hingga awal Februari, kasus DBD mencapai 78 kasus. Ada kecendurungan kasus ini akan terus bertambah untuk beberapa bulan ke depan mengingat tahun ini merupakan siklus lima tahunan dari nyamuk aedes aegypti, jenis nyamuk yang membawa virus dengue penyebab demam berdarah.

Peningkatan kasus DBD dari hari ke hari menjadi peringatan bagi semua pihak, baik masyarakat maupun pemerintah, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan nyamuk mematikan tersebut. Masyarakat harus berupaya mencegah perkembangan nyamuk ini dengan melakukan gerakan 3 M (menguras, menutup dan mengubur).

”Gerakan 3 M ini harus lehih intensif dilakukan masyarakat,” imbaunya.

Dewan tidak ingin wabah DBD berkembang menjadi kejadian luar biasa (KLB). Untuk itu harus dilakukan upaya pencegahan semaksimal mungkin. Pemerintah dalam hal ini harus pro aktif mencegah menyebarnya penyakit ini. Seperti dengan melakukan pembagian abate, gotong royong gerakan 3 M, hingga melakukan pengasapan atau fogging.

”Lebih baik mencegah daripada mengobati,” katanya.

Menindaklanjuti masalah tersebut, Komisi IV berencana memanggil Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Mataram untuk dimintai keterangan dalam penanganan kasus DBD di Kota Mataram. ”Akan kita jadwalkan untuk pemanggilan,” katanya.

Sementara itu, Abdul Jabar salah seorang warga mengatakan, berharap mencegah penyebaran DBD tidak hanya dilakukan di lingkungan pemukiman penduduk, namun juga lingkungan sekolah. Dia menilai, lingkungan sekolah juga rawan DBD. Salah seorang rekannya yang berprofesi sebagai guru bahkan terkena DBD di sekolahnya.

”Dari pagi sampai siang dia selalu di sekolah, kemungkinan besar dia digigt nyamuk DBD di sekolahnya,” ungkapnya.

Menurut dia lingkungan sekolah juga harus mendapat perhatian serius. Apalagi yang rentan terkena adalah anak-anak. (ili)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *