Ketik disini

Feature

Sekolah Wiranto Mirip SMA Taruna Nusantara

Bagikan

* Sekolah-Sekolah Unggulan yang Didirikan Para Tokoh di Bone Bolango, Gorontalo (2-Habis)

Seperti halnya MAN Insan Cendekia yang didirikan BJ Habibie, SMA Terpadu Wira Bhakti yang digagas istri mantan Menhankam/Pangab Wiranto dan MA/MTs Pondok Pesantren Hubulo milik keluarga Rachmat Gobel berbeda dengan sekolah kebanyakan. Dua sekolah itu memang istimewa.

***

TERIK matahari di Bone Bolango, Gorontalo, Kamis (29/1) siang itu begitu menyengat. Meski begitu, hal tersebut tidak menyurutkan puluhan remaja berseragam putih abu-abu, berambut cepak, berbaris rapi sambil menyanyikan lagu-lagu penyemangat di halaman sekolah.

Pemandangan seperti itu terlihat di SMA Terpadu Wira Bhakti, Bone Bolango, setiap hari. Setiap pukul 12.00, jam istirahat sekolah, siswa dan siswi sekolah tersebut akan membentuk beberapa regu dan berbaris rapi dari ruang kelas mereka ke tempat makan. Jaraknya sih tidak jauh, sekitar 500 meter. Tapi, mereka harus berbaris di bawah sengatan matahari yang posisinya tepat di atas kepala.

Model pendidikan di sekolah tersebut memang bergaya militeristis. “Kami memang mengadopsi SMA Taruna Nusantara di Magelang dan SMA Krida Nusantara (didirikan mantan Wapres Try Sutrisno) di Bandung,” kata Yusman Yusuf, kepala SMA Terpadu Wira Bhakti, kepada Jawa Pos yang berkunjung ke sekolah itu Kamis lalu.

Bedanya, kata Yusman, SMA Terpadu Wira Bhakti merupakan Islamic Boarding School. Sekolah yang menanamkan kedisiplinan dan nilai-nilai religiusitas. Misalnya, saat bertemu senior, guru, atau tamu, siswa harus memberi hormat sambil mengucap assalamualaikum.

SMA Terpadu Wira Bhakti berada di bawah Yayasan Al-Fath Wiraga Mulia. Pendirinya adalah Uga Wiranto, istri mantan Menhankam/Pangab Jenderal Wiranto. Uga memang asli Gorontalo. Menurut Yusman, saat sekolah dulu, Uga adalah siswa yang tergolong pintar di Gorontalo. Suatu ketika, dia ke Solo dan bertemu saudara-saudaranya. Uga menilai, di bidang pendidikan, Gorontalo tidak ada apa-apanya jika dibandingkan Solo. Sejak itulah dia terobsesi untuk memiliki sekolah yang bagus di Gorontalo.

Atas masukan sang suami, sekolah tersebut akhirnya dirancang seperti SMA Taruna Nusantara di Magelang yang sudah teruji menjadi tempat menggembleng bibit-bibit unggul penerus bangsa. Beberapa kali panitia pendirian sekolah melakukan studi banding ke SMA Taruna Nusantara dan SMA Krida Nusantara. “Baru pada 2012 cita-cita itu terwujud,” jelas Yusman.

Setiap tahun, SMA Terpadu Wira Bhakti yang terakreditasi A menerima 60 siswa untuk tiga kelas. Padahal, calon siswa yang mendaftar lumayan banyak. Tahun lalu, pendaftar mencapai lebih dari 400 orang. Kebanyakan berasal dari Sulawesi dan kawasan Indonesia Timur. Mereka diseleksi melalui tes akademis, tes kesehatan, tes urine, dan tes baca Alquran.

“Kami memang belum memberlakukan syarat yang ketat untuk standar fisik,” kata Yusman.

Setelah lulus seleksi, siswa mengikuti orientasi siswa selama tiga hari. Kegiatan tersebut melibatkan anggota TNI dan Polri.

Begitu diterima, para siswa tinggal di asrama yang sudah disiapkan. Mereka mengikuti pelajaran mulai Senin sampai Sabtu, pukul 07.00-15.10. Namun, siswa harus sudah bangun pukul 04.30 untuk salat Subuh. Kemudian, pukul 06.00 sarapan bareng di ruang makan.

Sebelum masuk kelas, siswa mesti mengikuti apel pagi, pukul 06.45. Setelah pulang sekolah, para siswa mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Salah satu yang wajib diikuti adalah ekstrakurikuler baris-berbaris.

Selama di asrama, mereka tidak boleh sembarangan keluar masuk. Kalau tidak sangat penting, siswa dilarang keluar dari asrama. Misalnya, ke rumah sakit untuk berobat. Namun, pada Minggu, siswa mendapat kesempatan untuk berpesiar ke Gorontalo.

Bila melanggar aturan sekolah, siswa terancam hukuman, fisik atau administratif. Hukuman fisik berupa push-up, sit-up, atau lari. Hukuman administratif berupa pencabutan hak pesiar mereka hingga pemulangan ke orang tua.

“Bagi anak-anak, hukuman paling berat adalah dicabut hak pesiarnya. Mereka lebih memilih hukuman fisik daripada tidak bisa jalan-jalan,” ungkap La Iha, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.

Berbeda dengan MAN Insan Cendekia yang gratis, siswa di SMA Terpadu Wira Bhakti dikenai SPP Rp 1,5 juta per bulan. Itu untuk makan tiga kali sehari, snack, asrama, dan biaya pendidikan. “Banyak alumnus kami yang sukses diterima di Akademi Militer (Akmil) atau Akademi Kepolisian (Akpol) atau ke sekolah kedinasan seperti STPDN,” tandas La Iha.

Sekolah unggulan lain, MA/MTs Pondok Pesantren Hubulo, lain lagi keistimewaannya. Sekolah itu dimodel seperti pendidikan ala pondok pesantren. Pondok yang didirikan pada 1987 tersebut digagas almarhum Thoyyin Mohammad Gobel, ayah Menteri Perdagangan Rachmat Gobel. Sukses sebagai pengusaha industri elektronika, Mohammad Gobel berinvestasi untuk bekal ke akhirat dengan mendirikan lembaga pendidikan.

Cita-cita itu diwujudkan anak-anak Mohammad Gobel, termasuk Rachmat Gobel, dengan mendirikan Pesantren Hubulo di atas tanah 14 hektare. Pesantren tersebut didirikan di Kecamatan Tapa, Bone Bolango. Makam Mohammad Gobel juga berada di kompleks pesantren tersebut.

Melalui Yayasan Annie Ebu Gobel, Pesantren Hubulo kali pertama menerima siswa untuk jenjang tsanawiyah (SMP). Pesantren tersebut mendapat sebutan Gontor-nya Indonesia Timur karena menerapkan sistem pendidikan pondok pesantren modern.

“Sebelum jadi pondok, tempat ini dulu hanyalah TPA (tempat pendidikan anak) yang didirikan di rumah adat Gobel,” jelas Abdul Hakim, wakil ketua I Ponpes Hubulo, kepada JPNN Kamis sore (29/1).

Guru TPA saat itu didatangkan dari beberapa pondok pesantren di Jawa. Kemudian, alumni TPA dikirim untuk mondok di pesantren di Jawa seperti Ponpes Darunnajah, Jakarta Selatan, dan Ponpes Pabelan, Magelang. Baru pada awal 1990-an, Pesantren Hubulo akhirnya berdiri. Santrinya berasal dari berbagai daerah di Sulawesi, Papua, Maluku, Ternate, dan sebagainya.

“Pada 1992, kami bisa mendirikan madrasah aliyah di pondok ini,” ujar Hakim.

Kini pesantren tersebut sudah sangat maju. Kompleks bangunannya rapi dan modern. Pesantren Hubulo memiliki asrama putra dan putri. Asrama putra (Fajrul Islam) terdiri atas 12 kamar. Empat unit asrama putri (Shofa, Mawar, Mekkah, dan Madinah) terdiri atas 33 kamar. Selain itu, terdapat satu unit asrama guru dan enam rumah guru berkeluarga.

Tahun lalu, Pesantren Hubulo menerima 180 santri dari 300-an pendaftar. Mereka dibagi, 75 persen MTs dan 25 persen MA. Jumlah ustad saat ini mencapai 50 orang.

Menurut Hakim, kurikulum yang diterapkan di Hubulo adalah kurikulum berbasis kompetensi serta kurikulum pesantren yang merupakan modifikasi kurikulum pesantren Gontor dan Darunnajah. Siswa juga tidak gratis. Mereka harus membayar SPP Rp 600 ribu per bulan.

“Setiap bulan, kami juga disubsidi yayasan,” kata Hakim.

Rachmat Gobel juga termasuk sering datang. Terakhir datang pada November 2014, belum lama setelah dilantik menjadi menteri perdagangan dalam Kabinet Kerja Jokowi-JK. Selain ziarah ke makam orang tua, dia menengok pesantren. (Tomy C Gutomo/Gorontalo/c5/ari)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *