Ketik disini

NASIONAL

Wujudkan Mobnas, Indonesia Gandeng Malaysia

Bagikan

JAKARTA – Mimpi memiliki mobil nasional kembali dihidupkan oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo. Jika di era 1996-1998, Indonesia pernah menggandeng KIA dari Korea Selatan, saat ini, Jokowi memilih mengarahkan kerja sama dengan produsen mobil asal Malaysia, Proton.

Juru Bicara Kemenlu Micahael Tene yang ikut dalam rombongan presiden di Malaysia membenarkan kalau telah ada MoU seputar mobil nasional bersama Proton. “Iya, memang direncanakan,” kata Michael Tene, saat dihubungi, Jumat (6/2).

Di bidang perdagangan, selain berkaitan dengan mobil nasional, pemerintah Indonesia juga memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi investor Malaysia untuk mengerjakan sejumlah proyek strategis. Di antaranya, proyek-proyek untuk jalan tol, kereta api, pelabuhan, dan juga investasi powerplant (pembangkit listrik).

“Kemudian juga disepakati sebuah appraisal (penilaian, Red) bagi persatuan di ASEAN agar dapat ditindaklanjuti,” terang Jokowi seperti dilansir situs resmi Setkab RI.

Sementara itu Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie Sugiarto mengaku belum mengetahui adanya MoU antara Presiden Jokowi dengan produsen mobil Malaysia, Proton untuk pengembangan mobil nasional. “Kita belum tahu, karena mobil nasional itu memang inisiatifnya dan targetnya dari pemerintah,” ujarnya.

Dia mengaku kaget dengan keputusan pemerintah yang tiba-tiba memilih Proton sebagai mitra untuk menciptakan mobil nasional. Namun Gaikindo akan mengikuti jika hal itu sudah menjadi keputusan pemerintah. “Potensi pasarnya memang menggiurkan, siapa saja boleh bersaing. Apalagi nanti kita masuk Masyarakat Ekonomi ASEAN,” tukasnya.

Menurut Jongkie, kriteria mobil nasional sudah tidak ada lagi sejak dihapusnya Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 1996 tentang Pembangunan Industri Mobil Nasional. “Saat itu krisis 1998, dan Indonesia kalah di WTO (World Trade Organization) diminta mencabut Inpres itu. Jadi, sekarang tidak ada lagi definisi pasti mobil nasional itu seperti apa,” tukasnya.

Oleh karena itu dia menyarankan agar pemerintah membuat Inpres yang baru, memuat tentang kriteria yang wajib dipenuhi, mulai dari merek, pemegang saham wajib lokal, tingkat kandungan komponen dalam negeri yang harus dipenuhi dalam beberapa tahun, dan lain sebaginya. “Sehingga kerja sama dengan Proton menjadi jelas,” tambahnya.

Menurut Jongkie, Indonesia masih punya kesempatan untuk memiliki mobil nasional tapi tetap membutuhkan dana investasi yang besar dan pengembalian investasi jangka panjang. “Pertama, mengembangkan sendiri mobil itu dari nol. Insinyur Indonesia jago-jago, pasti bisa melakukan itu, tetapi waktu yang dibutuhkan tidak sebentar, bisa bertahun-tahun,” sebutnya.

Cara kedua, relatif bisa lebih mempersingkat waktu, yakni dengan membeli teknologi milik merek-merek global yang sudah eksis di pasar. Cara ini dilakukan Hyundai dan Proton ketika membeli teknologi salah satu sedan milik Mitsubishi Motors Jepang. “Istilahnya mencontek model yang sudah ada, untuk pengembagan model-model lain,” terangnya.

Indonesia wajib meminta klausal pengembangan desain (redesign), supaya bisa dikembangkan menjadi mobil nasional. “Masalahnya membeli hak paten dan teknologi suatu merek itu pasti mahal sekali. Tapi, kalau sudah bisa desain ulang, hasilnya seperti sekarang, Hyundai dikenal sebagai merek dari Korsel, Proton dikenal sebagai produk dari Malaysia,” jelasnya.(dyn/wir)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *