Ketik disini

Sumbawa

Jadi Sentra Kuliner, Pantainya Indah tapi Jorok

Bagikan

* Mengunjungi Desa Wisata Ai Bari Sumbawa (1)

Sumbawa tidak kekurangan objek wisata pantai. Salah satunya di Dusun Ai Bari, Desa Kukin, Kecamatan Moyo Utara, Kabupaten Sumbawa. Pemerintah pun melirik pantai ini sebagai sentra kuliner ikan.

Menempuh perjalanan 30 menit dari Kota Sumbawa Besar, perjalanan menuju Ai Bari menjadi bagian dari wisata. Melewati perbukitan nan hijau dengan view lembah Kota Sumbawa Besar. Jika melintas sore hari di hari panas, rugi rasanya tidak berhenti untuk mengabadikan deretan rumah-rumah di bawah matahari sore. Sayangnya ketika menjelang sore akhir pekan lalu, Kota Sumbawa Besar diguyur hujan.

Jalan menuju Ai Bari relatif bagus. Dari pusat kecamatan, jalan sudah diperlebar. Dalam waktu dekat, jalan utama menuju pantai yang berbatasan dengan Pulau Moyo itu akan diaspal. Kabar gembira bagi warga Ai Bari dan pelancong yang biasa menikmati Pantai Ai Bari.

a�?Kalau dulu jalannya rusak sekali,a��a�� kata Rizal, pelajar SMKN 2 Sumbawa yang berasal dari Ai Bari.

Akses jalan lebar di kawasan tambak, sebelum sampai ke Ai Bari itu menjadi bukti keseriusan Pemkab Sumbawa mengembangkan Ai Bari. Pemkab menetapkan Ai Bari sebagai kawasan pariwisata, khususnya wisata kuliner ikan laut. Apalagi Ai Bari menjadi rute dari konsep SAMOTA (Teluk Salah, Pulau Moyo, Tambora), sebuah konsep pengembangan pariwisata Sumbawa.

Sesampai di Pantai Ai Bari, pemandangan disambut dengan deretan rumah-rumah nelayan. Sederhana. Sebagian rumah panggung. Sebagian rumah batu. Banyak yang belum jadi.

Saat cuaca bagus, Pantai Ai Bari menggoda bagi pecinta renang. Laut biru dengan ombak yang tenang, aman untuk anak-anak. Apalagi di Ai Bari tidak banyak perahu nelayan terparkir. Bebas bermain di garis pantai. Pasir yang luas cocok sebagai tempat voli pantai. Inilah yang membuat warga Kota Sumbawa Besar berkunjung ke Ai Bari. Air Bari cocok untuk wisata keluarga.

Di salah satu sudut Pantai Ai Bari, pemerintah membangun berugak (semacam gazebo). Deretan pohon kelapa di sekitar berugak menjadi perpaduan pas untuk melepas penat, setelah perjalanan dari Kota Sumbawa Besar. Sebelum merendam badan di air pantai yang hangat.

a�?Di sini memang mau disiapkan jadi kuliner ikan,a��a�� kata Fatimah, warga Ai Bari.

Fatimah yang sehari-hari membuka kios di rumahnya, menunggu realisasi sentra kuliner ikan itu. Kalau semua fasilitas sudah jadi, dia sudah menyiapkan lahan di depan rumahnya untuk membuka lapak ikan bakar. Dia tidak kerepotan mencari ikan. Suaminya, Yaqub adalah nelayan.

Para istri nelayan Ai Bari menunggu kapan dimulainya sentra ikan itu. Kalau sudah terealisasi, pengunjung ramai, mereka tidak perlu kerepotan menjual ikan ke pasar. Mereka bisa menjual di tempat. Setelah diolah harga bisa lebih mahal.

a�?Kami senang dengan program itu. Kami menunggu,a��a�� katanya.

Tapi, pendapat Fatimah tidak diamini oleh putrinya, Tiara. Wanita 21 tahun ini menganggap program sentra kuliner itu bertolak belakang dengan kondisi Ai Bari. Menurutnya, pemerintah semestinya memperhatikan kebersihan pantai terlebih dahulu. Tidak cukup membangun jalan dan berugak.

a�?Kalau mas ke sini malam-malam, banyak orang buang air besar di pantai,a��a�� katanya.

Sebagai warga Ai Bari dia merasa malu jika suatu saat ada tamu berkunjung, menikmati ikan bakar, tapi di depan mereka berjejer kotoran. Siang hari, ketika panas menyengat, bau kotoran keluar. Apalagi di beberapa sudut pantai, seolah menjadi WC umum warga sekitar.

a�?Kalau kurang hati-hati bisa nginjak kotoran,a��a�� kata perempuan beranak satu ini.

Pemerintah memang pernah membangun WC umum di Ai Bari, tidak jauh dari masjid setempat. Tapi WC umum itu tidak pernah digunanakan masyarakat. Mereka lebih memilih pantai tempat membuang kotoran. Ada yang langsung di laut. Ada yang menggali lubang. Padahal di hari libur, Pantai Ai Bari kedatangan pengunjung.

a�?Kalau masih jorok kami malu juga jadi sentra kuliner,a��a�� ujar perempuan yang mengaku memiliki WC ini.

Selain persoalan WC, kondisi lingkungan sekitar pantai juga masih terlihat semerawut. Posisi rumah tidak teratur. Sampah masih dibiarkan berserakan. Di beberapa titik, pantai menjadi pilihan membuang sampah.

Di sekitar berugak yang dibangun pemkab juga belum terlihat fasilitas tempat sampah. Pengunjung yang datang membuang sampah sembarangan. Diperparah lagi dengan ketiadaan petugas kebersihan khusus untuk menangani sampah di Pantai Ai Bari. Pada kondisi seperti ini, layakkah Pantai Ai Bari dipromosikan sebagai sentra kuliner ikan? (bersambung)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys