Ketik disini

Metropolis

Jangan Menangkan Incumbent, Ganti Rezim

Bagikan

*Berebut Kursi Kuasa di Pilkada (1)

Regulasi Pilkada kini sudah jelas, tak ada lagi sisa pertanyaan. Bagaimana dinamika politik daerah jelang pilkada. Berikut ulasan Lombok Post dari diskusi #forumwiken akhir pekan lalu.

***

DALAM diskusi ini, Pilkada Kota Mataram dan Lombok Tengah paling banyak disinggung, salah satunya dari Pakar Kebudayaan Dr Salman Faris yang menolak, perbaikan jalan sebagai indikator keberhasilan kepala daerah. Sebab, jika hanya jalan, pemimpin hanya menunjukkan diri sebagai tukang. Seharusnya pemimpin menunjukkan kualitas arsitek.

Kata Salman, adanya pelebaran jalan di Mataram, bukanlah sukses pemimpin Mataram, apalagi jika merujuk sumber rencana dan dana dari APBN, dan konsekuensi dari status Mataram sebagai Ibu Kota Provinsi.

a�?Jalan Gajah Mada, sudah ada bluprint sebelum Ahyar, itu ketiban keberuntungan saja. Sekarang, konsepnya saja nggak jelas,a�? kata Salman.

Salman menyebutkan, informasi yang diperoleh, justru jumlah ruko yang dibangun semasa kepemimpinan Ahyar Abduh-Mohan Roliskana, lebih banyak dibanding periode wali kota sebelumnya, almarhum H Moh Ruslan. Hanya saja, Salman tidak bisa menyebutkan angka ataupun persentase perbandingan. Bahkan, konsep pembangunan kota dianggap tidak jelas. Ibaratnya membangun rumah, harus jelas konsepnya, dapurnya dimana, mengapa begini, mengapa begitu, ventilasinya dimana, dan aspek lainnya. Tapi justru nyatanya tidak demikian.A� a�?Mataram seperti lost city,a�? cetus Laduni, salah satu peserta diskusi. a�?Ya, saya setuju dengan istilah lost city itu,a�? timpal Salman.

Salman juga mengkritik pembangunan taman oleh Pemda Lombok barat sepanjang by pass BIL. Sebab, justru infrastruktur dasar seperti jembatan penyeberangan tidak diinisasi.

Jika pemimpin Mataram ingin dikatakan sukses, sebut Salman, maka soal dasar Mataram sebagai identitas keurbanan harus jelas. Soal populasi, tingkat stres, persaingan dan lainnya tidak bisa dibendung. Hal pokok bagaimana membangun manajemen agar Mataram tetap dicintai warganya sendiri. Seluruh kabupaten/kota, mentalitasnya masih orba, lipstik. Bangun jalan dan ruku dianggapA� berhasil.

a�?Bicara pilkada, jangan menangkan incumbent, ganti rezim,a�? tandasnya.

Sementara itu, tokoh muda Lombok Tengah Laduni menyoal kondisi politik para tokoh di Loteng yang berebut jadi wakil Suhaili. Padahal, jika melihat keberhasilan Suhaili, justru tidak ada yang terlalu patut dibanggakan. Bahkan Laduni menyebut Loteng sebagai daerah paling terpuruk di NTB.

Pembangunan jembatan dan jalan melalui hutang di PIP dengan bunga tinggi, tidak bisa dibanggakan. Apalagi dari hasil jual aset parkir di BIL.

a�?Imajinasi dengang wisata sampai hari ini tidak terwujud, bahkan berkasus kawasan hutan pengolong ternyata hilang,a�? tegasnya.

Rencana warga untuk reclimeing gawah tunak hak ulayat juga bersoal. Sebab, justru Pemda memberikan ijin pada investor untuk kelola kawasan. a�?Ada bara terpendam di loteng,a�? bebernya.

Cuma, kata Laduni, siapa calon yang bisa mengakumulasi kekecewaan publik ini masih jadi pertanyaan. Sebab, para elit yang punya napsu dan kekuatan, justru berebut jadi calon wakil petahana. a�?Bagi saya, politk hari ini harus lebih maju dari kemarin,a�? terangnya. (M Nashib Ikroman-Mataram)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys