Ketik disini

Sumbawa

Pengeboman Ikan, Musuh Wisata Mancing dan Snorkling

Bagikan

* Mengunjungi Desa Wisata Ai Bari Sumbawa (2-habis)

Salah satu kelebihan kawasan Pantai Ai Bari adalah bisa menikmati keindahan Pulau Moyo. Naik perahu 20-30 menit, pengunjung bisa menjejakkan kaki di Pantai Tanjung Pasir, salah satu keindahan tersembunyi di Pulau Moyo. Keindahan yang mulai terancam.

Mesin perahu buatan China meraung keras ketika Yaqub menarik tuas. Mesin tua yang dipasang di bagian lambung perahu itu berkarat. Asapnya hitam mengepul. Ketika benar-benar hidup, suaranya ibarat berada di dekat bandara ketika pesawat landing. Memekakkan telinga.

Perahu dengan lebar 1 meter dan panjang 5 meter itu digunakan Yaqub menangkap ikan. Memancing dan jaring. Hasilnya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Berada di perairan yang cukup banyak ikannya, Yaqub cukup dengan penghasilannya itu. Dia bahkan bisa menyekolahkan putra putrinya. Ada yang kuliah.

“Sekitar sini dan Pulau Moyo,’’ kata Yaqub ketika ditanya tempatnya mancing dan menjaring.

Dengan kondisi laut yang cukup tenang, terumbu karang masih terjaga, ikan masih senang bermain di perairan Ai Bari. Nelayan begitu tergantung dengan kelestarian laut setempat. Mereka bukan pelaut yang bepergian jauh. Itu bisa dilihat dari ukuran perahu mereka. Perahu yang biasa menyisiri perairan dangkal.

Selain memancing dan menebar jala, Yaqub mendapatkan tambahan penghasilan dari jasa wisata mancing. Yaqub menemani para penggemar olahraga mancing . Mereka memberikan Yaqub biaya bahan bakar, dan uang saku. Cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Kadang kala dia mendapatkan bonus ketika orang yang ditemani mendapatkan tangkapan banyak. Mereka puas. Yaqub dinilai tahu tempat ikan mangkal.

“Sekarang cuaca rusak, belum ada yang menghubungi. Kalau cuaca bagus, ada saja yang minta ditemani mancing,’’ katanya.

Sebagai nelayan tradisional, dan kini nyambi usaha wisata mancing, pendapatan Yaqub cukup. Dia meyakini betul jika laut lestari bisa menghidupi nelayan. Ini terbukti dari para nelayan di Ai Bari, rata-rata memiliki sepeda motor. Mereka membeli dari hasil menangkap ikan.

Tapi tidak semua nelayan berpikiran seperti Yaqub. Beberapa nelayan lainnya, dari luar Ai Bari mengambil jalan pintas dalam menangkap ikan. Mereka menggunakan potasium dan bom ikan. Hasil dari bom ikan lebih banyak, dan lebih cepat. Sekali lepas bom ikan, mereka bisa mendapatkan puluhan ikan.

Bom ikan tidak hanya mematikan ikan-ikan besar. Ikan-ikan yang masih kecil pun mati. Selain itu, bom ikan merusak terumbu karang. Rumah ikan-ikan di sekitar Ai Bari dan Pulau Moyo. Sekali lepas bom ikan, bisa bermeter-meter terumbu karang yang rusak. Bisa dipastikan ikan kapok berada di tempat itu. Tidak ada lagi rumah.

“Masih kami dengar suara bom ikan,’’ katanya.

Akhir pekan lalu wartawan Koran ini menemukan puluhan ikan yang mati di sekitar Tanjung Pasir Pulau Moyo. Ikan-ikan itu, kata Yaqub, mati akibat bom. Ikan-ikan berukuran dua sampai tiga jari itu tidak diambil oleh nelayan yang mengebom. Mereka hanya mengambil ikan besar. Di antara ikan-ikan yang ditinggalkan itu banyak ikan hias, yang harganya mahal ketika hidup.

“Kalau yang kecil sudah mati, bagaimana mau besar,’’ katanya.

Tumpukan terumbu karang mati yang dibawa ombak juga bekas pengeboman. Terumbu karang memang bisa mati dan rusak. Tapi tidak sebanyak yang tercecer di Tanjung Pasir itu. Terumbu karang itu memang tidak berasal dari sekitar perairan Tanjung Pasir. Arus yang mengarah ke Tanjung Pasir membawa terumbu karang rusak, termasuk bangkai ikan. Yaqub memperkirakan lokasi pengeboman tidak terlalu jauh dari tempat itu.

“Kemungkinan tadi pagi-pagi lepas bom. Ikan ini masih segar,’’ katanya menunjukkan beberapa jenis ikan.

Pulau Moyo memang dijaga oleh Polhut. Di bawah pengawasan Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) terlihat kelestarian Tanjung Pasir itu. Tapi dengan jumlah tenaga yang terbatas, tidak semua aktivitas pengeboman terlacak. Keberadaan bangkai ikan di sekitar pantai berpasir putih itu menjadi bukti masih ada aktivitas bom ikan.

Bukan hanya Yaqub yang resah dengan aktivitas pengeboman ikan. Para pecinta wisata bahari juga menyayangkan aktivitas yang merusak lingkungan itu. Padahal di kawasan Ai Bari dan Tanjung Pasir dikenal sebagai tempat snorkling yang baik. Air tidak terlalu dalam. Air laut jernih, dan terumbu karang masih sehat.

“Kalau terus pengeboman lama-lama habis terumbu karang,’’ kata Lulu Wulandari, salah satu anggota Adventurous Sumbawa.

Adventurous Sumbawa adalah salah satu komunitas yang getol mempromosikan pariwasata Sumbawa melalui dunia maya. Mereka memburu destinasi baru. Membuatkan rute, termasuk diantara mereka menyediakan rumah bagi pejalan singgah sebelum menuju destinasi.

“Wisata snorkling Sumbawa mulai naik daun. Banyak spot menarik dan masih alami,’’ kata staf di Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) ini.

Dituturkan Lulu, belakangan ini banyak traveller yang datang ke Sumbawa untuk menikmati keindahan wisata bahari. Tanjung Pasir dan beberapa lokasi di Pulau Moyo adalah salah satunya. Tapi melihat puluhan ikan mati akibat pengeboman itu, Lulu mulai khawatir.

“Kalau tidak ada tindakan hukum, jangan-jangan nanti mereka ngebom di dekat perairan yang selama ini spot snorkling,’’ katanya.

Inilah tantangan bagi pemerintah daerah Sumbawa. Selain menyiapkan daratan Ai Bari untuk siap menerima lebih banyak wisatawan, menjaga kelestarian laut juga penting. Jangan sampai ketika wisatawan datang mereka justru disuguhkan bangkai ikan hasil pengeboman, dan menyaksikan puing-puing terumbu karang. (Fat)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Up