Ketik disini

NASIONAL

Polisi Waspada

Bagikan

* Antisipasi Kepulangan 16 WNI yang Diduga Bergabung dengan ISIS

JAKARTA – Polisi mulai waspada. Ada kemungkinan potensi teror terjadi di Indonesia, jika 16 WNI yang bergabung dengan ISIS kembali ke Indonesia. Mengingat, pernah ada ancaman dari  Abu Jandal Al Yemini Al Indonesi, salah seorang anggota ISIS.

Kadivhumas Polri Irjen Ronny F Sompie mengatakan, bila anggota ISIS yang juga WNI kembali ke Indonesia, bisa jadi memiliki tujuan tertentu. “Ini memang yang dikhawatirkan,” ujarnya.

Saat ini, pihaknya masih menelusuri latar belakang 16 WNI yang hilang tersebut. Apakah memang menguatkan dugaan mereka bergabung dengan ISIS atau malah sebenarnya tidak ada hubungan. “Kami akan tanya tetangga, keluarga, hingga semua pihak yang memahami 16 WNI tersebut,” paparnya.

Salah satu indikator yang akan dicari, kemungkinan 16 WNI ini memiliki hubungan komunitas atau suatu kelompok agama. Semua itu hingga saat ini belum ditemukan benang merahnya. “Kami mengerahkan semua petugas dari polda hingga polres,” ujarnya.

Hal yang juga penting sebenarnya mencegah modus menggunakan tur wisata agar bisa bergabung dengan ISIS. Karena mau tidak mau, dengan bergabungnya WNI itu akan memperkuat ISIS, sekaligus mengancam keamanan Indonesia. “Kami bekerja sama dengan Kemenlu agar bisa memperketat peluang pergi ke negara yang berdekatan dengan ISIS,” katanya.

Yang pasti, Polri mengetahui ada modus lain yang digunakan seseorang untuk bisa keluar dari Indonesia untuk bergabung dengan ISIS. Namun, modus itu tidak bisa diungkapkan, karena Polri berupaya mengantisipasi dan mencegahnya. “Kami akan berupaya agar tidak terulang kembali dengan cara apa pun,” jelasnya.

Sayangnya, hingga saat ini belum ada aturan yang memungkinkan menjadi dasar bahwa bergabung dengan ISIS itu bisa ditindak dan dianggap sebagai pelanggaran. Ronny mengatakan, ke depan perlu ada formulasi aturan agar bisa bertindak lebih cepat mencegah ancaman dari ISIS. “Ancaman ISIS sudah cukup nyata. Salah satunya, dari anggota ISIS yang tersebar beberapa waktu yang lalu,” paparnya.

Dia berharap, pemerintah, dalam hal ini presiden dan DPR bisa mengakomodasi pembuatan regulasi tersebut. Jangan sampai terlambat dalam menangani permasalahan ISIS yang mengancam keamanan Indonesia. “Saya yakin semua akan mendukung,” ujarnya.

Karopenmas Mabes Polri Kombespol Rikwanto menambahkan, penyelidikan terhadap hilangnya 16 WNI ini mengarah ke dugaan bergabung dengan ISIS. Namun, masih sedikit bukti yang disusun. “Belum pasti, siapa tahu ada tindakan pidana,” ujarnya.

Salah satu indikator yang menguatkan dugaan bergabung dengan ISIS adalah jarak antara Turki dengan ISIS cukup dekat. Bahkan, Turki berbatasan dengan wilayah ISIS.

Dia mengatakan, ancaman dari ISIS tidak bisa diselesaikan Polri sendiri. Namun, berbagai lembaga seperti Kemenlu, TNI, dan semua pihak bisa bersama-sama untuk mengantisipasi dan mencegah kejadian yang sama terulang. “Koordinasi pemerintah harus lebih baik lagi,” ujarnya.

Agen Travel Tidak Curiga

Sementara itu, pihak PT Smailing Tour yang menjadi agen travel peserta tur dari Surabaya dan Surakarta itu mengaku tidak curiga terhadap rombongan yang ingin berpisah itu. Chief Operational Officer (COO) PT Smailing Tour Davi Batubara mengatakan, pihaknya tak punya prasangka sebelumnya kepada rombongan yang terpisah. Apalagi peserta tur tujuan Turki waktu itu mendaftar dengan prosedur umum.

Rombongan 16 WNI itu mendaftar secara online. “Mereka email ke perusahaan meminta penawaran. Kami balas dengan proposal yang berisi itenary (jadwal) dan harga. Mereka bilang cocok dengan paketnya dan setelah itu mengirimkan fotokopi paspor. Setelah itu proses seperti biasa saja, tak ada omongan ingin mengunjungi keluarga sebelum mereka berangkat,” terangnya di Jakarta.

Saat mereka meminta berpisah, Davi mengaku sang pemandu pun sudah berusaha merayu agar tetap mengikuti paket tur. Apalagi, perusahaan hanya menugaskan satu personel sebagai pemandu. Namun, mereka tetap kukuh dengan alasan keluarganya ada di sekitar Istanbul.

“Di sana mereka berjanji akan bertemu di Pamukkale pada 26 Februari. Guide melihat kondisi mereka memang keluarga dengan balita. Jadi, masih percaya bahwa memang mau mengunjungi keluarga,” terangnya.

Namun, sejak komunikasi terakhir 26 Februari saat keluarga mengatakan akan bertemu saat kepulangan di bandara, bagian rombongan tersebut semakin sulit dihubungi. Saat ingin pulang pun, telepon dari pemandu tak diangkat hingga nomor tak aktif lagi.

“Saat lapor perwakilan pemerintah di sana pun kami masih belum curiga. Dugaan kami, mereka dapat kesempatan kerja di sana hingga memutuskan memboyong keluarga. Baru-baru ini saja muncul informasi dugaan kalau mereka bergabung dengan ISIS,” terangnya.

Saat ditanyai tindak lanjut, Davi mengaku belum mempunyai rencana untuk terlibat. Menurutnya, hal tersebut saat ini sudah masuk dalam ranah pemerintah. “Kami sudah tidak dilibatkan lagi. Semua data yang kami punya sudah kami serahkan ke otoritas terkait. Tapi, kami memang tak punya alamat saudara yang katanya ingin dikunjungi,” jelasnya.

Dia pun tak berencana menghentikan paket wisata ke Turki setelah kejadian tersebut. Menurutnya, saat ini negara tersebut memang ingin menggenjot sektor pariwisata dengan memudahkan perizinan terkait. Salah satunya visa on arrival yang katanya hanya membutuhkan biaya sekitar USD 25 per orang.

“Turki sekarang sedang tren. Jadi, kalau dari kami memang belum ada rencana itu. Tapi, belum ada rencana pemberangkatan ke sana dalam waktu dekat. Karena bulan ini memang low season. Paling satu minggu satu rombongan berangkat. Karena biayanya juga tak murah. Sekitar USD 2 ribu per orang.

Terpisah, Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri (PWNI&BHI Kemenlu) Lalu Muhammad Iqbal memastikan, dokumen yang diterima bukanlah surat pernyataan. Namun, paraf di buku program yang menjadi bukti peserta tak akan menuntut pengembalian uang.

“Di sana memang ada tulisan mereka kembali 26 Februari. Tapi, sebenarnya sampai saat ini peserta itu masih tanggung jawab mereka (Smailing Tour). Yang menjadi masalah, tak ada pihak keluarga yang mengadukan kehilangan atau protes ke pihak perusahaan,” jelasnya.

Menag IKut Menyoroti

Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Syaifuddin ikut menyoroti tentang hilangnya 16 WNI dari rombongan travel PT Smailing Tour di Turki. Termasuk dugaan mereka menyeberang dari Turki ke Irak atau Suriah untuk bergabung dengan kelompok ISIS.

Lukman mengaku perkembangan terkini tentang pencarian WNI menjadi otoritas Kemenlu. Namun dia mengatakan, atas kejadian ini Kemenag mendapatkan perintah khusus dari Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam) Tedjo Edhi Purdjianto. “Kami diminta kembali mengingatkan seluruh biro travel umrah yang resmi,” jelas Lukman di kantornya kemarin.    Saat ini banyak paket perjalanan umrah yang memberikan trip tambahan mengunjungi Turki. Dari kejadian ini perjalanan WNI langsung ke Turki akan diawasi karena berpotensi jadi jalan bergabung dengan ISIS. Sebagai gantinya pergi dengan skema umrah plus kunjungan ke Turki bisa dimanfaatkan untuk menuju ke negara beribu kota di Ankara itu.

Lukman mengatakan aturannya memang biro travel harus dengan seksama mengawasi jamaahnya. “Tidak boleh ada yang lepas. Harus dikawal terus selama di luar negeri,” ujar menteri sekaligus politisi PPP itu.

Dia optimistis sampai saat ini semua biro travel umrah mematuhi regulasi keamanan dan kenyamanan jamaahnya. Sebab jika menelantarkan atau tidak mengawasi jamaahnya, izin operasionalnya bisa dihapus. Termasuk untuk kasus kaburnya 16 WNI ini, Lukman yakin pihak travelnya sudah berupaya mengawasi jamaahnya. Tetapi memang ada sejumlah jamaah yang berniat kabur dari rombongan travel.

Di sisi lain, Wakil Presiden Jusuf Kalla masih belum bisa memercayai isu bergabunnya 16 WNI ke ISIS. Menurut dia, jika yang pergi hanya orang-orang dewasa, mungkin masih bisa masuk akal jika mereka hendak bergabung dengan ISIS. ”Kalau mau jihad, pasti tidak bawa anak kecil, istri, macam-macam,” ujarnya di Kantor Wakil Presiden kemarin.

JK juga tidak yakin jika WNI yang menghilang di Turki itu sengaja membawa keluarga karena kabarnya ISIS memberikan imbalan besar untuk orang-orang yang bergabung dengan kelompok itu. ”Walaupun ada imbalan, tapi bagaimana bawa anak-anak ke situ,” katanya.    Karena itu, lanjut dia, pemerintah akan tetap berkoordinasi untuk melakukan pencarian 16 WNI tersebut dengan mengandalkan diplomat-diplomat Indonesia di Turki, termasuk informasi intelijen dari dalam negeri. Namun, jika memang mereka sudah keluar dari Turki dan masuk ke Suriah, proses pencarian akan sulit. ‘Itu kan daerah konflik,’ ucapnya.

Sebelumnya, dugaan bergabungnya 16 WNI ke kelompok ISIS sudah disampaikan oleh kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Marciano Norman saat ditemui di Istana Negara akhir pekan lalu. Menurut dia, modus seperti itu juga dilakukan dalam kasus-kasus WNI yang ingin menjadi TKI di Arab Saudi. Caranya, mereka kabur dari rombongan travel saat Umrah. ”Kita sedang dalami motif mereka dan mengumpulkan informasi-informasi dari keluarga mereka di sini,” ujarnya. (bil/idr/wan/owi/r3)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *