Ketik disini

Feature

Sembilan Puluh Persen dari AS, Satu Persen Dalam Negeri

Bagikan

* Petshopbox Studio, Creative Agency Indonesia yang Dikontrak Perusahaan Dunia

Dalam satu dasawarsa, Petshopbox Studio menjelma menjadi salah satu creative agency ternama di Indonesia. Diawali dari sekadar kecintaan menggambar manga, roda bisnis Petshopbox Studio semakin moncer.

Enam gambar stiker ikon Path seukuran kartu pos yang terbingkai pigura kaca menghiasi salah satu bangunan di kawasan Jalan Padjadjaran Bandung. Enam gambar itu adalah Cubic, Digital Love, Cubbie, Ollie, Shelly and Shelby, serta Usagi.

Enam stiker itu bisa diunduh gratis jika Anda menjadi pengguna premium (berbayar) di Path. Dengan stiker tersebut, kita pun akan terbantu dalam mengungkapkan ekspresi jika ingin berkomentar pada setiap momen yang ditulis rekan kita di media sosial.

Selain gambar ikon Path, berbagai minifigure terpajang cantik di bangunan bercat putih itu. Misalnya, Dart Vader, Sailormoon, Minions, dan Hello Kittty. Nah, di samping rak minifigure itulah terdapat sebuah banner bertulisan Petshopbox Studio dengan ikon kucing berkepala kardus.

“Inilah suasana kantor kami. Penuh keriangan, pokoknya. Kami berusaha membuat semuanya bisa senyaman mungkin berproses kreatif di Petshopbox Studio ini,” kata CEO Petshopbox Studio Sissy di Bandung pekan lalu.

Sejak 2012, produk gambar Petshopbox Studio mulai bisa dinikmati di Path. Sissy tidak mau membocorkan harga yang diberikan Path kepada Petshopbox Studio untuk satu jenis stiker. Ibu satu anak itu beralasan, harga setiap karya punya nilai yang berbeda dengan sistem beli putus.

Keberhasilan Petshopbox Studio menembus media sosial yang salah satu pemilik modalnya adalah perusahaan Indonesia Bakrie Global Ventura itu perlu diapresiasi. Sebab, Petshopbox menjadi creative agency pertama di Asia yang karyanya menarik dan kemudian dibeli Path.

“Yang kami sukai bekerja dengan Path, kami tidak dibatasi dalam berproses kreatif. Pihak Path juga tidak pernah memaksa kami harus membuat jenis stiker sesuai keinginannya. Kami dibebaskan berkreasi,” ucap alumnus Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2000 itu.

Sissy menuturkan, konsep desain Petshopbox Studio adalah 3C (clean, cute, dan colorful). Sesuai dengan namanya, kebanyakan ikon yang mereka ciptakan terinspirasi dari binatang peliharaan. Misalnya, anjing, kucing, dan kura-kura.

“Kami pernah tanya kepada klien kami, kenapa memilih kami. Alasannya, mereka merasa desain kami pas dengan target pasar yang mereka incar. Selain itu, kami mengutamakan ketepatan waktu pengerjaan,” sebut Sissy.

Petshopbox Studio berdiri dari sebuah kumpulan anak muda yang suka menggambar komik di Bandung. Dari situlah, kemudian Sissy dan COO Petshopbox Studio Kuswanto sepakat membuat sebuah usaha kreatif. Pada 2002, ketika kali pertama digagas, komunitas itu masih bernama Petshop.

Tapi, tiga tahun kemudian, komunitas itu tumbuh semakin besar. Sissy dan Kuswanto lalu mendapat proyek pembuatan komik edutainment bertema biologi dari salah satu penerbit besar di Indonesia. Setelah itu, makin banyak order yang mereka dapatkan. Pada 2005 pula nama Petshop berubah menjadi Petshopbox Studio. Sebab, mereka menangani dua proyek sekaligus. Selain Petshop, ada Zeus Box yang bergerak di bidang digital studio.

Sejak itu pula Petshopbox Studio menjajal semua jalan untuk lebih mengenalkan diri kepada dunia luar. Mereka ikut forum di situs freelancer.com untuk mendapat pekerjaan desain dari seluruh dunia.

Dari situ, mereka mendapat proyek untuk mendesain website, membuat ikon perusahaan, atau mengkreasi logo. Harga per ikon mereka patok USD 65. Sedangkan sebuah app icon dihargai USD 250.

Perkembangan pesat Petshopbox Studio terjadi pada 2009. Saat itu mereka mendapat order dari salah satu perusahaan Amerika Serikat bernama Handy Point. Handy Point kemudian diakuisisi Slide, perusahaan di bawah Google.

Di Slide itulah, Petshopbox melahirkan game bernama Social Star. Sayang, game tersebut tak bertahan lama seiring ditutupnya Google Game oleh Google pada 2010.

“Saat itu Google Playstore belum ada dan penggunaan Android belum semarak sekarang. Google Game menyasar khusus para gamer. Tapi, karena pasar Google Game kurang bagus, maka lalu ditutup,” jelas Sissy.

Di sisi lain, menurut COO Petshopbox Studio Kuswanto, creative agency miliknya itu laris karena mereka peka dengan perubahan yang ada. Sebab, pada era 2000 sampai 2010, banyak perusahaan menginginkan punya ikon sendiri. Sementara itu, era berikutnya, 2010 sampai sekarang, banyak perusahaan yang menginginkan maskot perusahaan.

“Di situlah kami termasuk yang menjadi jujukan pemesanan,” kata dia.

Yang unik, 13 pegawai Petshopbox Studio, termasuk Sissy dan Kuswanto, memiliki ikon gambar sendiri-sendiri. “Kalau Sissy, ikonnya anjing chihuahua. Kalau saya, kucing hitam. Pokoknya, apa yang terlintas di kepala para kreator dan ingin dicitrakan sesuai keinginan sang kreator, itu harus dihargai,” ujar Kuswanto yang menikahi Sissy pada 2010.

Dia menambahkan, tak cuma Path yang menjadi klien mereka. Petshopbox juga menangani pesanan Line dan Kakao Talk. Sama dengan di Path, mereka berjualan stiker di dua sarana chatting tersebut.

Sementara itu, Chief Marketing Officer Petshopbox Studio Ratri Adityarani mengatakan, 90 persen klien perusahaannya berasal dari Amerika Serikat dan Eropa. Sisanya dari Asia. Di antara 10 persen itu, klien dari Indonesia hanya 1 persen.

“Klien Indonesia paling ribet. Ketemu Senin, bahas kerja Selasa dan Rabu. Kamis baru penawaran harga. Makanya, jadinya juga lama,” kata Ratri.

Agar pasar dalam negeri makin laris, Ratri punya tip sendiri. “Pokoknya, harus berani tampil di setiap event industri kreatif. Semua didatangi dan semua jalan dicoba,” sebut Ratri.

Menurut Chris Lie, salah seorang klien, sejauh ini kerja sama perusahaannya, Caravan Studio, dengan Petshopbox Studio sangat baik. “Kami bangga bekerja sama dengan creative agency dalam negeri yang punya prestasi mendunia,” ujarnya.

“Petshopbox adalah studio yang profesional. Selama bekerja sama dengan mereka, kami tidak pernah komplain karena hasilnya selalu sesuai dengan yang dijanjikan dan tepat waktu,” tulis Chris dalam testimoni singkatnya. (*/c5/c10/ari)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *