Ketik disini

Headline Opini

Sosok, Sebuah Kisah Penuh Inspiratif

Bagikan

* Oleh : Heri Kurniawansyah HS (Puskap Sumbawa & Alumni Fisip Unsa)

Kisah perjalanan hidup seorang anak tukang becak yang menjadi mahasiswa dan sekaligus wirausahawan yang sukses. Dengan keterbatasan yang dimiliki namun dia tidak kenal menyerah untuk meraih prestasi.

SAYAA�A�(penulis) mulai mengenal sosok anak yang penuh inspiratif ini ketika saya mengenal ayahnya yang sangat luar biasa perjuangannya untuk keluarganya. Saya mengenal beliau (ayahnya) ketika saya selalu mengantar ibu ke pasar. Dengan senyum sahaja beliau selalu menyapa saya. Setiap bertemu beliau selalu senyum santun menyapa saya dengan panggilan a�?a��naka�?. Saya pun selalu membalas dengan senyuman seraya saya berpikir betapa bersahaja dan semangatnya beliau dengan pekerjaannya ini yang tentunya tidak semua orang bisa seperti beliau. Setiap hari mulai dari selesai sholat subuh beliau sudah mengayunkan kakinya di atas pedal membawa alat tiga roda tanpa mesin. Senyum sahaja di wajahnya seakan menggambarkan betapa beliau mencintai pekerjaannya ini, entah panas terik matahari dan hujan beliau selalu semangat karena beliau sadar bahwa beliau adalah kepala keluarga yang bertugas sebagai pencari nafkah. Beliau adalah Sahapuddin seorang Tukang Becak yang selalu bersahaja.

Saya begitu kagum melihat sosok beliau yang tak kenal menyerah dengan pekerjaannya itu. Saya pun kadang-kadang bersilaturrahim ke rumah beliau. Sebuah rumah tanah berdindingkan bambu anyaman dan triplek beratapkan seng tepatnya berada di pintu gerbang Istana Dalam Loka Sumbawa. Deretan rumah yang dimana rumah beliau merupakan rumah yang paling sederhana dan sangat berbeda dengan rumah warga lainnya. Wajahnya yang cukup kusam dengan rambut yang mulai beruban serta berpakaian ala kadarnya seakan menggambarkan betap susah hidupnya, namun ternyata beliau sangat bahagia walaupun hidup pas-pasan. Rasa syukur dari setiap rejeki yang ada yang membuat beliau tetap senyum dan berkecukupan.

Saya pun semakin kagum ketika saya mengetahui kedua putra putrinya sama-sama kuliah di Universitas negeri di Provinsi ini yaitu di Universitas Mataram. Tidak semua orang bisa kuliah, begitu banyak masyarakat kita yang hidupnya jauh lebih mampu dari sosok tukang becak tersebut, namun kadang-kadang tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya. Dengan kegigihan beliau walaupun hidup pas-pasan, beliau mampu menghantarkan anak-anaknya melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Putra putrinya bernama Aziz Satria Putra alumni SMAN 1 Sumbawa Besar dan Wiwin Arwinda alumni SMAN 3 Sumbawa Besar.

Bekerja sambil kuliah, Menjadi ketua BEM dan Membiayai adiknya kuliah

Sadar akan kekurangan orang tuanya, akhirnya Aziz memutuskan untuk bekerja sambil kuliah agar kuliahnya bisa diselesaikan dan tidak terlalu membebani orang tuanya yang hanya seorang tukang becak. Dia bekerja sebagai marketing perusahaan Provider, dia pun tidak pernah kecil hati dan gengsi walaupun hanya anak dari seorang tukang becak. Dia berusaha mengembangkan dirinya sebagai seorang mahasiswa. Dia mulai berkompetisi untuk menjadi ketua BEM di fakultasnya (Fakultas Pertanian Unram). Menjadi ketua BEM walaupun di fakultas, itu tidak mudah apalagi di universitas negeri. Akhirnya dia terpilih menjadi ketua BEM fakultas yang didukung oleh organisasi eksternalnya. Pada saat itu dia semakin semangat untuk lebih maju dan mulai mempunyai banyak jaringan. Semangat semakin meninggi ketika dia selalu mewakili kampusnya dalam agenda kemahasiswaan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Dia pun sudah terbiasa mondar mandir Mataram-Jakarta dan kota-kota besar lainnya.

Jaringan pun semakin luas sehingga memudahkan dia untuk mencari jalan hidup walaupun berada di kampung orang. Bermodalkan seorang BEM, akhirnya dia tinggal di asrama mahasiswa sambil bekerja. Dia sangat menikmati aktivitasnya sebagai ketua BEM dengan segala program-programnya serta bekerja untuk mempertahankan kuliahnya. Dengan kondisi seperti ini, dengan kesadaran bahwa orang tuanya tidak mampu, dia pun memutuskan untuk membiayai adik satu-satunya untuk melanjutkan study di tempat yang sama (Unram) dengan fakultas yang berbeda (Fakultas Teknologi Pangan dan Agro Industri). Sebuah usaha yang sangat langkah yang mampu dilakukan oleh orang lain. Bayangkan, dia sebagai seorang mahasiswa dengan biaya sendiri dan sekaligus membiayai adiknya untuk kuliah juga. Adiknya yang mulai masuk kuliah membuat dia memutuskan untuk kontrak rumah bersama adiknya. Mempunyai jaringan yang cukup luas membuat dia cukup mudah survive di perantauan, bahkan yang lebih luar biasanya lagi dia pun menampung sahabatnya yang tidak mampu kuliah agar bisa kuliah sambil bekerja, sehingga sahabatnya pun yang tadinya tidak pernah terpikirkan untuk kuliah akhirnya mampu melanjutkan pendidikannya. Woww..sebuah prinsip dan karakter yang sangat luar biasa.

Menjadi pengusaha jamur sukses selama masih menjadi mahasiswa

Tidak mudah menjadi mahasiswa perantauan, kuliah sambil kerja, membiayai adiknya kuliah sekaligus membantu sahabatnya untuk melanjutkan studi. Hanya orang-orang yang mempunyai mental baja yang bisa seperti itu. Bermodalkan tabungannya dari hasil kerjanya, kini dia mengembangkan dirinya menjadi pengusaha jamur. Budidaya jamur yang dikembangkannya itu berada di sebuah desa di Lombok Tengah yang sebagian besar penduduknya sebagai TKI di luar negeri. Usahanya semakin berkembang pesat. Dia pun mampu mempekerjakan orang lain di daerah yang sebagian besar penduduknya itu menjadi TKI. Atas usaha kerasnya tersebut, akhirnya dia memiliki sertifikat organik usahanya dari dinas terkait, sehingga jamur budidayanya merambah ke pasar tradisional dan modern di Mataram, seperti Hero dan Hypemart serta permintaan rumah makan kelas atas dan konsumen lainnya yang sangat luar biasa. Tidak hanya itu, usaha jamurnya telah merambah ke kota kelahirannya yaitu kota Sumbawa. Kadang-kadang saya (penulis) ketika berkunjung ke mataram, saya sempatkan mampir di rumah kontrakannya dan dia selalu memberikan buah tangan khususnya jamur istimewanya ketika saya balik ke Sumbawa. Dia pun menikmati hidupnya sebagai mahasiswa sekaligus sebagai wirausahawan muda.

Menjadi Finalis Nasional Wirausaha Mandiri(WMM) tahun 2014

Kegigihannya selama ini membuat dia dilirik oleh salah satu Bank Nasional untuk berkompetisi sebagai wirausaha muda di region Nusa Tenggara yaitu di Bali. Dia pun terpilih menjadi lima besar terbaik dan berhasil menjadi finalis satu-satunya mewakili NTB sebagai Wirausaha Mandiri (WMM) tingkat nasional di Jakarta Convention Centre pada tanggal 8-15 maret mendatang. Dia akan mempersentasekan usaha jamurnya yang hanya bermodalkan tabungannya tersebut didepan juri dan ribuan wirausahawan nasional. Sangat tidak mudah menggapai apa yang telah digapai oleh sang anak tukang becak ini. Walaupun dia sebagai anak tukang becak dan ekonomi yang serba kekurangan, namun dia mampu menunjukan sebuah prestasi yang sangat luar biasa yang patut ditiru oleh kaula muda lainnya. Para pemuda yang memiliki orang tua yang mampu secara finansial seharusnya seribu langkah lebih maju dari dia. Keterbatasan finansial sama sekali bukan sebagai hambatan dalam sukses, hal itu telah dibuktikan oleh mahasiswa dan pemuda Sumbawa yang satu ini. Kisah ini adalah inspirasi buat kita. Era globalisasi dan desentralisasi telah menyongsong bumi pertiwi, hanya orang-orang kreatif dan mau berusaha yang akan mampu bersaing dalam hidup. Dimana ada kemauan, disitu ada jalan. (Heri Kurniawansyah HS )

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys