Ketik disini

Metropolis

Letusan Tambora Lenyapkan Tiga Kerajaan

Bagikan

SEBELUM Gunung Tambora meletus, ada enam kerajaan di Pulau Sumbawa. Yakni Sumbawa, Bima, Dompu, Sanggar, Tambora, dan Pekat. Kerajaan Sanggar, Tambora, dan Pekat kemudian lenyap setelah Tambora meletus.

Hal itu digambarkan beberapa ilmuan dari dalam dan luar negeri berdasarkan penelitian yang dilakukan. Berdasarkan hasil penelitian yang ada, salah satu kerajaan, yakni Sanggar dikategorikan bukan bagian dari Bima. Bahasa yang digunakan bukan bahasa Mbojo, tetapi bahasa Kore. Bahasa ini mirip dengan bahasa Mon Khemer, Kamboja.Itu menjadi kesimpulan Prof Haraldur ‎Sigurdsson (ahli vulkanologi dunia) dan Dr Indyo Pratomo (ahli geologi dan mitigasi LIPI), yang dipaparkan dalam berbagai tulisan ilmiah.

Meski dinyatakan lenyap, Sanggar bisa kembali hidup, walaupun tidak seperti semula. Eksistensinya bisa dilihat dari sejumlah dokumen yang ada. Salah satunya tersimpan di Museum Negeri NTB.

Nama Gunung Tambora juga berasal dari salah satu kerajaan yang ada di sekitarnya. Ada sejumlah bukti yang ditemukan peneliti dari sisa peradaban kuno yang terkubur abu tambora.

Pada kedalaman tiga meter di kawasan perkebunan kopi Tambora, ditemukan kerangka dua orang dewasa yang tanpa sengaja ‘diawetkan’ letusan. Temuan inilah yang kemudian membuat Tambora mendapat julukan “Pompeii di Timur.” Pompeii adalah nama kota Romawi di dekat Naples, Italia, yang disapu oleh letusan dahsyat Gunung Vesuvius. Kota tersebut terkubur di bawah timbunan abu raksasa dan lenyap selama 1.600 tahun sebelum ditemukan kembali secara tidak sengaja.

Balai Arkeologi Denpasar juga sudah menemukan rangka rumah kayu tradisional dengan atap alang-alang , serta rumah yang sudah porak-poranda. Benda bersejarah lain seperti keris, pecahan keramik, alat tenun, tali kuda, dan perhiasan juga ditemukan. Hanya saja, hingga saat ini belum bisa dipastikan di mana letak istana Kerajaan Tambora maupun Pekat.

Namun, jika melihat kondisi geografis dan berbagai temuan, lokasinya diprediksi di perkebunan kopi yang ada di Kecamatan Tambora. Warga di kawasan Gunung Tambora hingga kini masih kerap menemukan harta dan perabotan yang terserak dari sebuah perkampungan masa silam.

Sejumlah literatur menyebutkan, nama raja yang memimpin kerajaan-kerajaan di kawasan Tambora. Misalnya Kerajaan Pekat, sebelum dimusnahkan letusan Tambora, dipimpin Abdul Muhammad. Ia mulai memerintah 1794. Ada juga La Kamea Daeng Nganjo Siamsuddin yang memimpin Sanggar pascaletusan.

Kerajaan Tambora melalui berbagai buku asing seperti Oud en Nieuw Oost-Indien (1726: 142) karya Francois Valentijn, menunjukkan adanya ikatan kontrak Kerajaan Tambora dengan VOC (1677). Wilayah Tambora meliputi Cadinding, Cankeeloe, Baraboen, Wawo, Lawasa, Papoenti, Laleekan, Salepe, Sakeewy, Laewong, Waro, Tanga, Soekon, Catoepat, Toewy, Tompo, Calomon, dan lainnya. Dan yang menjadi Raja Tambora pada tahun 1688 adalah Raja Nilaauddin Abdul Bazer. (tim/r9/r3)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *