Ketik disini

Sumbawa

Bukti Peradaban Kuno Sumbawa yang Masih Misterius

Bagikan

*Mengunjungi Kompleks Sarkofagus Ai Renung (1)

Sebuah kuburan bisa menjadi petunjuk asal usul komunitas masyarakat. Kuburan memberikan pesan siapa saja orang-orang pertama yang menempati lokasi itu. Tapi ada juga petunjuk yang masih menjadi misterius. Kompleks Situs Ai Renung adalah salah satu misteri itu.

***

ADA hawa mistis ketika memasuki gerbang kompleks Situs Ai Renung. Berada di tengah rimbun pepohonan, rumah penjaga di kompleks itu seperti rumah hantu. Rumah panggug kayu itu tampak keropos di beberapa bagian. Menandakan lama tak dihuni.

Sepi. Suara kerbau liar yang mandi kubangan bersahutan dengan suara burung yang masih merasakan kemerdekaan. Akses yang sulit dan perjalanan jauh dari perkampungan, membuat para pemburu berpikir dua kali untuk ke lokasi itu.

“Itu dia kuburan pertama yang paling dekat,’’ kata Sahabudin, 34 tahun, penjaga kompleks Situs Ai Renung.

Dari kejauhan, batu besar itu seperti onggokan batu biasa. Sama seperti bebatuan yang dijumpai sepanjang perjalanan. Di belokan terakhir jalan setapak menuju kompleks itu juga berupa batu besar. Layaknya sebuah gerbang.

Setelah mendekat barulah batu besar yang tingginya sekitar 150 meter itu berbeda. Di bagian atasnya bertengger sebuah atap. Atap itu menutup lubang menganga di batu besar itu.

“Ini adalah salah satu kuburan,’’ kata Sahabudin.

Sarkofagus pertama yang kami lihat ini lebar lubangnya sekitar 45 centimeter. Panjangnya 125 centimeter. Kedalaman lubang di batu itu 80 centimer. Ketika melongok ke dalam lubang, air mengggenang. Bekas hujan. Sangat sedikit petunjuk di lokasi sarkofagus ini. Termasuk relief di batu besar itu.

Sekitar 200 meter dari lokasi pertama itu, kompleks sarkofagus lainnya terlihat lebih terawat. Di kompleks kedua ini, ditempatkan rumah penjaga. Lebih terawat. Ada juga fasilitas kamar mandi dan sumur. Selain itu areal tersebut lebih bersih dibandingkan kompleks pertama.

“Ini dipugar tahun 1999,’’ kata Sahabudin.

Di kompleks kedua ini, ada dua buah sarfokagus. Dibandingkan sarkofagus pertama, di kompleks kedua ini terlihat jelas relief yang diukir di batu itu. Di salah satu sarkofagus yang atapnya sudah diturunkan, rusak akibat gempa, masih bisa dikenali ukiran di atas batu itu.

Di salah satu sisi, tergambar sosok perempuan. Sosok itu sebenarnya tidak dikenali dari wajahnya. Kepalanya terputus.

“Coba perhatikan kelaminnya,’’ kata Sahabudin menunjuk ukiran itu.

Posisi ukiran, orang yang sedang melebarkan paha. Ketika diamati dari dekat, terlihat seperti perempuan yang kelaminnya terbuka.

Di sisi yang lain, terukir sosok lelaki. Lagi-lagi dikenali dari kelaminnya. Ada juga relief yang tidak menonjolkan kelaminnya. Dalam posisi berdiri, relief itu sepertinya menggambarkan sosok anak-anak. Kemungkinan itu relief perempuan, karena tidak terlihat kelamin.

Di samping relief lelaki dan perempuan itu, diukir juga binatang melata. Jika melihat ukurannya, kemungkinan itu ukiran buaya.

Dalam beberapa keyakinan, binatang yang diukir itu menggambarkan mereka sebagai penjaga arwah. Sementara penggambarakan manusia dan kelaminnya yang menonjol menggambarkan kesuburan.

“Saya tidak tahu banyak,’’ kata Sahabudin ketika ditanya tentang data-data sarkofagus itu.

Sarkofagus di Ai Renung itu kini menjadi tanggung jawab Balai Cagar Budaya, Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang berada di Denpasar, Bali. Menurut Sahabudin, sarkofagus itu sudah memiliki penjaga sejak zaman penjajahan Jepang. Setidaknya begitu yang dia dengar dari orang tuanya.

Di kompleks Situs Ai Renung tersebut ditemukan 7 buah sarkofagus di lima lokasi. Masing-masing lokasi cukup berjauhan. Bahkan ada yang berada di dekat dinding bukit.

“Kalau diukur lima lokasi itu kemungkinan luas keseluruhan kompleks ini 4 hektare,’’ kata Sahabudin.

Di kompleks sarkofagus tersebut memang tidak ada petunjuk apapun. Asal usul sarkofagus masih misterius. Siapa yang dikubur di sarkofagus juga belum ada petunjuk. Bahkan tidak banyak warga Sumbawa sendiri yang tahu daerah mereka memiliki peninggalan masa lalu.

“Saya saja baru kali ini ke sini,’’ kata Subhan, mahasiswa yang berasal dari Desa Air Tering, Kecamatan Moyo Hulu, wilayah tempat sarkofagus tersebut. (Fathul Rakhman )

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *