Ketik disini

Giri Menang

Sekolah Serba Gratis, Hanya Terima Siswa Miskin

Bagikan

Gabriele Swoboda Sokti bertekad membantu anak-anak dari kalangan miskin. Perempuan asal Jerman ini mendirikan sekolah yang diberi nama Montessori School Lombok Futura Indonesia.

***

SORE itu, Gabi, panggilan akrab pendiri sekolah Montessori School Lombok Futura Indonesia tengah duduk di sebuah berugak di halaman sekolah. Ia mengenakan baju warna pink dikombinasikan dengan warna biru.

Di tangan perempuan dengan rambut sebahu itu terdapat sebuah dokumen bersampul biru. Ia memegang erat kertas-kertas berisi profil sekolahnya.

Kala Lombok Post bertandang ke sekolahnya, Gabi menyambut dengan ramah. Ia mempersilakan untuk melihat langsung aktivitas di sekolah serta media pembelajaran.

Ia selaku pendiri sekolah tersebut menunjukkan satu per satu ruang pembelajaran hingga peraga. Disamping itu, dia juga berbagi cerita seputar berdirinya sekolah ini.

Awalnya, Gabi tak pernah berpikir membangun sekolah di Lombok. Kala itu, dia datang bersama rekannya untuk berselancar di wisata Lombok.

Setelah mengelilingi Lombok, niatnya untuk membangun sekolah mulai terbesit. Apalagi, ia melihat kesempatan anak-anak miskin dan yatim piatu banyak terganjal biaya.

Rupanya, kondisi itu membuat dirinya mematangkan niatnya untuk mendirikan sekolah itu. Kebetulan, Gabi ini memiliki pengalaman cukup sebagai pengajar.

a�?Saya dulunya mengajar sekolah future di Jerman. Di sana anak orang-orang kaya yang sekolah,a�? katanya.

Ia bercerita dirinya berasal dari kalangan keluarga miskin. Untuk itu, dia berkeinginan membantu anak-anak yatim piatu dan miskin supaya mendapat kesempatan meneruskan cita-citanya.

Gabi kali pertama menginjak Lombok tahun 2009. Kala itu, dia bertemu dengan seorang guru SMKN 3 Mataram yang mengajar bahasa Jerman. Ia pun menceritakan keinginannya untuk membangun sekolah khusus bagi anak-anak miskin.

a�?Saya ceritakan juga pada Kadispora kala itu. Saya ingin bantu anak-anak tapi belum adaa�Z tempat,a�? aku perempuan yang sudah lancar berbahasa Indonesia ini.

Untuk mematangkan niatnya membangun sekolah, dia mencari dukungan kemana-mana. Termasuk mempresentasikan ke sekolah RSBI di Cakranegara.

Setelah mendapat dukungan, ia pun memberanikan diri untuk membangun sekolah. Tepatnya, tahun 2012, ia merintis sekolah menggunakan modal pribadi.

Guna menghidupkan sekolahnya, ia mencari dukungan dana ke rekannya, termasuk para sahabatnya di Jerman. Di samping itu, dia juga urunan modal dengan warga lokal di Lombok.

a�?Kami bangun menggunakan uang sendiri. Teman-teman di Jerman bantu kirim perlengkapan seperti alat peraga. Kami juga urunan untuk dirikan bangunan ini,a�? ujar dia.

Di tahun pertama, keberadaan sekolahnya mendapat sambutan hangat warga sekitar. Dukungan pun banyak yang mengalir, apalagi sekolahnya sangat mengutamakan pembelajaran agama.

a�?Di sini kami baru buka untuk TK dan SD. Disini sekolahnya gratis. Khusus hari Jumat, kami adaa�Z kegiatan keagamaan. Kita ajarkan ahlak kepada siswa,a�? ujar dia.

Hingga saat ini, jumlah siswa yang ditampung sekolahnya sebanyak 40 orang. Murid SD baru 10 orang, sedangkan sisanya 30 orang menghuni kelas TK.a�?Siswanya beragam. Ada yang dari Jatisela, Sesela hingga Mataram,a�? ujar dia.

Murid ini ditanggung semuanya. Mulai dari urusan makan, minuman, buku, media pembelajaran, hingga seragam sekolah. Tidak hanya itu, para murid ini juga dijemput dan diantar pulang lagi.
a�?Karena ingin membantu, kami gratiskan semuanya. Kami tidak tarik biaya apapun dari mereka,a�? ujarnya.

Untuk masuk ke sekolah tersebut, tidak sembarang siswa yang mendaftar diterima. Kehidupan calon murid itu disurvei lebih dulu. Jika benar-benar tidak mampu, maka siswa itu diterima.a�?Kami hanya terima orang miskin. Yang ekonominya rendah,a�? pungkas dia. (Islamuddin/Lombok Barat)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys