Ketik disini

Ekonomi Bisnis

Tujuh Aspek Kendalikan Inflasi

Bagikan

MATARAM – Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) NTB terus berupaya mengendalikan inflasi. Langkah yang dilakukan, intensifkan tujuh aspek.

Ketujuh aspek tersebut, menstabilkan harga beras; penanganan kenaikan dan kelangkaan LPG 3 kilogram (kg); dan pembentukan pusat informasi harga pangan strategis (PIHPS). Selain itu, ketersediaan komoditas sembilan bahan pokok (sembako); ketersedian perikanan baik budidaya dan tangkap; penyusunan roadmap TPID; dan evaluasi inflasi bulan Februari 2015.

Kepala Biro Perekonomian NTB H Manggaukang Raba mengatakan, terkait ketersediaan beras, Maret dan April sekitar 200 hektare (ha) lahan padi akan panen.

Hal ini akan menambah ketersediaan beras di Bulog sehingga akan mencukupi kebutuhan selama beberapa bulan ke depan.
“Dari pemaparan Bulog, harga beras paling mahal Rp 11.000 per kilogram. Paling laku Rp 10.500, standar Bulog Rp 7.500 per kilogram,” katanya pada sejumlah wartawan, senin (16/3) kemarin.

Menurutnya, kenaikan harga beras akibat keterlambatan laporan ketersediaan beras dari masing-masing lumbung Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Stok beras di NTB juga lebih banyak dibawa keluar. “Beras kita cukup banyak lari ke Bali,” jelasnya.

Ketersediaan gas elpiji 3 kg, lanjut Manggaukang, kuota untuk NTB 61.538 metrik ton. Sudah diajukan penambahan dan mempercepat konversi mitan ke gas di Sumbawa. “Pemaparan dari Pertamina, disalurkan 200 metrik ton setara 66 ribu tabung per hari,” katanya.

Soal terjadinya kelangkaan, akibat penyelundupan, pengoplosan sehingga perbedaan harga cukup tinggi.

Ketika Sumbawa telah dikonversi, sambung dia, akan ada perbedaan antara gas elpiji masing-masing daerah dari warna tutup. Serta mewaspadai pendistribusian, saat musim omprongan tembakau.

“Perlu regulasi menentukan siapa yang berhak menerima. Pergub (Peraturan Gubernur) akan disiapkan. Terutama hindari pengomprongan tembakau,” jelasnya.

Kepala Bank Indonesia (BI) NTB Pridjono mengatakan, ketersediaan daging ayam, sapi, telur, dan ikan masih aman. Nantinya, TPID akan membangun PIHPS dalam menyediakan data harga sembako hingga tahap kabupaten/kota per pasar. Terkait penggunaan papan informasi harga, akan diusulkan dari APBD-Perubahan.

“PIHPS akan dibuat sistematis, waktu terukur, pantau dengan cermat. Sehingga masyarakat bisa lebih mudah melihat harga pangan,” katanya.

Dikatakan, perlu dicermati risiko yang mengakibatkan inflasi bulan Maret 2015. Seperti cuaca yang tidak menentu, harga minyak naik, dan kelangkaan elpiji 3 kg. Selain itu, kenaikan tarif dasar listrik, rencana kenaikan tarif cukai rokok, dan kenaikan harga semen akibat meningkatnya permintaan.

“Pembangunan gedung dan infrastruktur di mana-mana. Tentu juga berdampak pada kenaikan ongkos tukang,” tutupnya. (cr-ewi)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *