Ketik disini

Selong

Guru Takut Melawan, Siswa Jadi Korban

Bagikan

*Gonjang-ganjing Pemutaran Film Merariq di Lotim

Film Merariq menjadi topik perbincangan hangat belakangan ini. Bukan soal kualitas film yang dibintangi Bjah dan Ardinas Rasti. Melainkan kewajiban pemotongan dana BOS Rp 15 ribu per siswa.

***

WAKTU masih menunjukkan pukul 10.00 Wita. Sejumlah guru di salah satu SMPN di Selong berkumpul di ruang guru. Beberapa meja terlihat kosong, lantaran mereka masih mengajar di kelas. Saat kedatangan Lombok Post di sana, Kepala SMPN tersebut sedang tak berada di tempat. Ia sedang mengikuti rapat dinas di sekolah lain.

Guru-guru yang lain pun mempersilakan duduk. Pembicaraan langsung menghangat ketika mengetahui kedatangan para wartawan untuk menanyakan soal Film Merariq. Para guru lebih tertarik membahas cara yang dilakukan untuk menonton film itu.

Ya, memaksa. Kata ini mungkin tepat digunakan setelah membaca Surat Edaran Dikpora yang mewajibkan setiap siswa menyaksikan film itu. Mereka diwajibkan membayar Rp 15 ribu per orang. Sumbernya dari dana BOS. Setiap siswa tanpa terkecuali akan dipotong. Jika tidak menyaksikan film itu, tetap dipotong.

Dengan jumlah siswa mencapai 632 orang, sekolah itu mengeluarkan dana hingga Rp 9.480.000 hanya untuk film. Padahal jika digunakan membeli komputer, mungkin bisa mendapat dua unit. Atau membeli meja dan kursi untuk guru mungkin bisa mendapat 10 unit. a�?Aneh, nonton film kok wajib, potong uang BOS pula,a�? kata para guru ini kompak.

Kalangan dewan juga keras bersuara tentang hal ini. H Khairul Rizal, politisi Demokrat ini mengatakan harus dipikirkan apa urgensi menonton film itu. Pihak sekolah menurutnya boleh saja menolak jika tak merasa film itu dibutuhkan. a�?Tolak saja,a�? kata sang ketua dewan.

Alih-alih menolak, para guru lebih memilih diam dan menggerutu dalam hati. Mereka agaknya malas protesnya menuai polemik di kemudian hari. Bisa-bisa mereka dimutasi jika melawan. Saking a�?nurutnyaa�? diwajibkan membayar tiket seharga Rp 25 ribu pun akan dijalani. Kendati gaji harus dipotong, mereka lebih memilih diam. Padahal beberapa PNS yang sudah menerima tiket mengatakan tak tertarik menonton film. Tiketnya pun diberikan ke orang lain atau dibiarkan mubazir.(WAHYU PRIHADI SAPUTRA)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys