Ketik disini

Praya

Ini Modus Kejahatan Baru

Bagikan

*Ganggu Kemajuan Pariwisata

PRAYA – Modus kejahatan di kawasan pariwisata wilayah selatan Lombok Tengah alami perubahan. Semula dilakukan di obyek wisata. Kini seringkali dijumpai di jalur menuju obyek wisata. Sasarannya, wisatawan asing dan nusantara atau mereka yang tidak menguasai medan.

Caranya, pelaku menghadang kendaraan wisatawan di area jalan yang dianggap sepi dari warga maupun aparat. Jumlah mereka berkelompok. Ada bagian mengawasi dan eksekusi. Hingga kini, permasalahan itu cukup mengganggu keamanan wisatawan. Sebagian mereka kapok datang lagi ke Loteng. Sungguh sayang bukan.

Kemajuan pariwisata pun menjadi taruhannya. Guna meminimalisasi modus baru itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Loteng HL Muhammad Putrie menilai butuh kerja sama semua pihak. Khususnya, kepolisian stanbay melaksanakan patroli rutin di wilayah yang dianggap rawan.

“Domain keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), tanggung jawab kepolisian, Satpol PP dibantu pam pantai. Sementara Disbudpar adalah menyangkut kemajuan pariwisata,” katanya, rabu (17/3) kemarin.

Kendati kamtibmas menjadi urusan bersama, namun, dia melihat dominan ada di pundak aparat keamanan. Apalagi, mereka dilengkapi senjata. “Ini yang sedang kita galakkan koordinasi. Khususnya, menyangkut kenyamanan dan keamanan menjelang tahun baru,” ujarnya.

Persoalan keamanan di Gumi Tatas Tuhu Trasna bukan rahasia umum. Pos keamanan terpadu yang dibangun pemkab sejak 2013 lalu sampai sekarang tidak ditempati.

“Alhamdulillah di obyek wisatanya aman dan kondusif. Tapi di luar obyeknya ini yang kita khawatirkan,” ujar Putrie.

Sebagai tokoh masyarakat wilayah selatan Loteng, pihaknya berharap dukungan warga lingkar obyek wisata bersama-sama menjaga keamanan. Khususnya pelaku pariwisata. “Setiap hari dan jam, kami tetap melaksanakan patroli rutin di obyek wisata, hingga lokasi yang dianggap rawan,” sambung Kapolsek Kuta AKP Saprudin.

Dikatakan, rasio jumlah personel dengan luas wilayah tanggung jawab menjaga kamtibmas tak seimbang. Untuk itu, pentingnya dukungan moral dari pemerintah desa setempat, kecamatan hingga dusun. Kendati demikian, selama dia memimpin Polsek Kuta, dia mengaku angka kejahatan mengalami penurunan.

Kalau pun terdapat riak-riak, dapat diatasi dengan cepat. Salah satu contoh, trek-trekan kendaraan roda dua yang menggunakan knalpot rasing. “Persoalan yang satu itu, cukup mengganggu kenyamanan wisatawan,” jelas Saprudin.(dss/r11)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *