Ketik disini

Tanjung

Menengok Aktivitas Perajin Tahu Tempe

Bagikan

* Kedelai Lokal Mahal, Beralih ke Impor

Tahu dan tempe. Mendengar nama itu, kesan murah dan enak langsung terngiang. Keduanya makanan favorit sebagian masyarakat. Namun tak semua orang tahu bagaimana kesulitan para perajin dalam membuatnya.

***

TIDAK banyak yang mengetahui di Lombok Utara ada sentra usaha mikro perajin tahu tempe. Letaknya memang di tengah permukiman warga yakni Dusun Karang Bayan, Desa Tanjung, Kecamatan Tanjung.

Menyusuri gang kecil diapit bangunan rumah, pengunjung dari kejauhan sudah bisa melihat kepulan asap membumbung ke langit. Semakin mendekat, aroma khas kedelai yang direbus tercium. Begitu juga suara mesin penggiling kedelai sayup-sayup terdengar. Usaha tahu tempe ini milik Mustafa, warga Praya, Loteng. Dia sudah tinggal bertahun-tahun di Lombok Utara.

Sampai di lokasi, dua pekerja laki-laki tampak sibuk mencuci kedelai sebagai bahan baku tahu dan tempe. Setelah bersih dicuci, kedelai dimasukkan ke mesin penggiling yang ukurannya tidak terlalu besar. a�?Untuk tahu, kedelai digiling sekitar 20 menit,a�? ujar salah seorang pekerja Ahmad, Selasa (17/3).

Setelah selesai digiling hingga berubah seperti bubur, tangan Ahmad memindahkan kedelai ke wadah berupa ember untuk disaring. a�?Setelah itu direbus dulu hingga matang,a�? imbuhnya.

Proses perebusan memakan waktu tidak terlalu lama. Tempat perebusan juga terlihat sederhana. Hanya bak yang di bawahnya diletakkan ampas kayu dan kayu bakar untuk memanaskan bak tersebut. Setelah dipanaskan, hasil gilingan kemudian disaring kembali menggunakan kain kasa. Penyaringan dilakukan untuk memisahkan sari kedelai dengan ampas. Setelah dipisah, ampasnya bisa dijual untuk dijadikan pakan ternak.

Hasil gilingan yang sudah menjadi adonan langsung dicetak. Satu cetakan berbentuk kotak berukuran sedang dapat menghasilkan 121 tahu dalam bentuk kotak lebih kecil. a�?Paling banyak sehari bisa menghasilkan 34 cetakan tahu. Kalau banyak yang mesan ya bisa 40 cetakan,a�? jelasnya.

Tidak jauh berbeda dengan pembuatan tahu. Untuk pembuatan tempe, kedelai digiling kasar selama setengah jam. Ini untuk memisahkan kulit dengan isinya. Kemudian dicuci dan dibersihkan serta didiamkan sehari. a�?Setelah didiamkan kedelai direbus hingga mendidih, selanjutnya didinginkan hingga kering kemudian dicetak,a�? ujar pekerja lainnya Erna.

Dalam sehari, menurut Erna, dirinya yang bekerja bersama seorang rekannya bisa menghasilkan 208 lonjor tempe menggunakan bahan baku 25 kilo kedelai.

Pemilik sentra industri rumahan tahu dan tempe Mustafa mengatakan, naiknya harga kedelai lokal saat ini membuat dirinya beralih menggunakan kedelai impor. a�?Sudah dua minggu kita pakai kedelai impor. Yang lokal harganya naik karena belum masa panen,a�? ungkapnya.

Dijelaskan, harga kedelai lokal sebelum kenaikan sekitar Rp 6.600 per kilogram. Tetapi sudah dua minggu terakhir harga kedelai lokal naik menjadi Rp 7.600 per kilogram, sedangkan kedelai impor malah mengalami penurunan menjadi Rp 7.700. a�?Karena yang impor lebih murah akhirnya kita pakai yang impor sekarang,a�? cetusnya.

Menurut Mustafa, ia sudah lima tahun menekuni usaha tahu tempe ini. Kedelai lokal maupun impor memiliki kelebihan masing-masing. Untuk hasil produksi, kedelai impor memang menghasilkan tahu dan tempe lebih enak ketimbang kedelai lokal. Tetapi untuk sari, lebih enak hasil dari kedelai lokal.

Dalam sehari, biasanya Mustafa membeli bahan baku 100 kilogram kedelai untuk bahan baku tahu sedangkan untuk tempe membutuhkan 25 kilogram kedelai. a�?Hasil produksinya kita pasarkan di pasar tradisional yang ada di Lombok Utara, tetapi lebih banyak di wilayah Tanjung,a�? ungkapnya. (Pujo Nugroho/Tanjung)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *