Ketik disini

Feature

Panser Rusak Parah Itu Kini Beroperasi Lagi

Bagikan

*Mayor Heri Haryadi, Hidupkan Kembali Kendaraan-Kendaraan Bersejarah

Mayor Heri Haryadi bukan tentara biasa. Tangan dinginnya terampil sehingga mampu menyulap kendaraan-kendaraan bersejarah yang sudah lama mati bisa “hidup” kembali.

***

DENGANA�kendaraan “kebesarannya”, Mayor Heri Haryadi keliling menyusuri perumahan TNI-AU di Kompleks Auri Sukaraja II, Bandung, sore itu (17/3). Itu adalah aktivitas rutinnya setiap sore.

Meskipun hanya berkeliling di perumahan, perjalanan Hari sering “terganggu”. Misalnya, dia dicegat warga yang penasaran dengan mobil antiknya tersebut. Selain menanyakan ini dan itu, tidak jarang ada yang ingin mencobanya. Malahan, ada yang sekadar ingin berfoto selfie dengan latar mobil Hari tersebut.

Ya, kendaraan yang dipakai Hari berkeliling kompleks perumahan itu memang lain dari mobil pada umumnya. Sekilas bentuknya terlihat aneh. Baik dari jenis bahan yang dipakai, panjang dan lebarnya, serta bobot kendaraan beroda empat itu.

Mobil tersebut terlihat mini, bahkan lebih kecil daripada city car. Kapasitasnya hanya cukup untuk dua orang. Bodinya terbuat dari baja dengan cat hijau army. Tidak ada satu pun pabrik mobil yang mengeluarkan kendaraan jenis itu.

“Ini Panser Scout Daimler Dingo namanya,” ujar Hari saat ditemui di rumahnya setelah “patroli”.

Dia menjelaskan, Panser Scout Daimler Dingo adalah nama sebuah kendaraan perang zaman kemerdekaan. Dulu, kendaraan itu digunakan tentara Sekutu yang diboncengi Netherlands-Indies Civil Administration (NICA) datang ke Indonesia pada 1945. Mereka ingin merebut wilayah kekuasaan Jepang yang kalah dalam Perang Dunia II. Salah satu wilayah yang ingin dikuasai adalah Pulau Jawa.

Ketika masuk ke Jawa, pasukan Sekutu dan NICA langsung menyebar ke seluruh penjuru wilayah. Mereka berhasil menaklukkan satu per satu kota di Jawa Barat. Dari Ciamis, mereka lalu berusaha menaklukkan Tasikmalaya. Namun, di Karangresik pasukan itu disergap Detasemen Garuda Putih yang dipimpin Kapten Burdah yang tidak lain adalah ayah kandung Si Raja Dangdut Rhoma Irama. Terjadilah pertempuran dahsyat. Dengan perlawanan tidak kenal menyerah, Garuda Putih akhirnya berhasil menaklukkan pasukan Belanda.

Setelah mengalahkan pasukan Sekutu-NICA, kata Hari, tentara Indonesia kembali masuk ke hutan. Sementara itu, pasukan Sekutu-NICA meninggalkan sejumlah kendaraan perang, termasuk Panser Scout Daimler Dingo.

Nah, untuk menghormati perjuangan warga Ciamis dan Tasikmalaya yang ikut bertempur bersama pasukan Detasemen Garuda Putih, Kodam III/Siliwangi membangun Monumen Karangresik di lokasi pertempuran. “Kendaraan perang peninggalan tentara Sekutu itu juga dipajang di monumen tersebut sebagai saksi bisu,” jelas prajurit 41 tahun itu.

Semula, ada tiga kendaraan yang dipajang di monumen tersebut. Selain Panser Scout Daimler Dingo, ada tank dan Jeep Gurkha. Namun, seiring berjalannya waktu, satu per satu kendaraan itu hilang dijarah orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Hari mengaku sempat melihat monumen tersebut pada 1987 saat masih kelas 6 SD. Waktu itu, sekolah Hari mengadakan study tour di Monumen Karangresik. Menurut dia, kondisi monumen sudah tidak terawat. Banyak coretan dan sampah di sana-sini. Selain itu, banyak benda koleksinya yang hilang. Tinggal patung-patung dan Panser Scout Daimler Dingo yang sudah rusak.

“Bodi panser itu sudah berkarat. Terlihat tidak terawat,” ungkap lulusan Pascasarjana ITB itu.

Selang 27 tahun kemudian, tepatnya Agustus 2014, Hari kembali melihat panser itu. Kali ini dia sudah menjadi tentara dengan pangkat mayor. Saat itu, dia bersama para pemerhati sejarah ingin melihat dari dekat lokasi pertempuran Detasemen Garuda Putih melawan pasukan Sekutu-NICA tersebut.

Saat kembali melihat panser itu, Hari sangat sedih. Sebab, kondisi kendaraan tempur tersebut semakin mengenaskan. Banyak bagian mobil yang hilang. Mulai ban, mesin, gear box, serta lampu. Bagian bodinya juga dijarah orang. “Bodi kendaraan itu dicuri dan dijual kiloan,” terangnya.

Tidak ingin saksi sejarah itu punah, Hari kemudian memutuskan untuk membawa pulang panser tersebut. Namun, upaya itu tidak semudah membalik telapak tangan. Hari harus menghadapi perlawanan dari pemilik lahan monumen. Pasalnya, Pemkab Tasikmalaya ternyata sudah menjual lahan Monumen Karangresik ke pihak swasta.

Lewat perjuangan panjang, akhirnya panser antik itu bisa jatuh ke tangan Hari. Pada 17 September 2014, dengan menggunakan mobil derek, kendaraan tersebut diangkut dari Karangresik ke bengkel Hari di dekat rumahnya. “Saat itu juga kami perbaiki. Kami restorasi ke kondisi semula,” terangnya.

Sebelum melakukan restorasi, perwira yang kini menjabat staf engineering Komando Pemeliharaan Materiil Angkatan Udara (AU) tersebut mengecek bagian mobil yang masih utuh dan perlu diperbaiki. Hasilnya, sekitar 80 persen kondisinya rusak parah. Mulai bodi, sepatbor, pintu, dan steering system. Komponen yang hilang juga tidak sedikit. Misalnya, gear box, mesin, jok, lampu, serta ban. Mau tidak mau, seluruh komponen itu harus diganti jika kendaraan tersebut ingin kembali berfungsi.

Untuk itu, Hari harus memperhatikan dua hal. Yakni, soal biaya dan ketersediaan spare part. Maklum, proyek restorasi tersebut adalah inisiatif Hari sendiri. Jadi, mau tidak mau, biayanya ditanggung sendiri. Tidak ada bantuan dari pemda maupun kesatuannya. Untuk spare part, Hari mesti cermat mencari komponen yang cocok sebagai pengganti spare part asli. “Sebab, di pasaran, spare part kendaraan itu sudah tidak ada,” tuturnya.

Proyek restorasi panser itu pun dimulai. Hari bertindak sebagai pemimpin proyek. Dia dibantu tiga staf. Bodi baja yang sudah hilang diganti pelat besi biasa. Tebalnya 3 mm. Bodi awal kendaraan perang berusia 74 tahun tersebut berupa besi baja. Tebalnya 1,25-3 cm. “Mobil ini antipeluru,” ujarnya. Agar bodi panser terlihat baru, dia mengecat ulang. Hari menggunakan cat green army.

Bodi selesai, giliran interior. Untuk jok, Hari menggantinya dengan jok bekas ekskavator. Untuk power steering, dia mencomot dari Colt diesel dan kabel gas dari Toyota Hardtop. Suspensi diambil dari Mitsubishi Colt L-300. Untuk mesin, Hari mengaku sempat sulit menemukan mesin yang cocok. Awalnya, dia menggunakan mesin Hardtop, namun bodi mesinnya terlalu besar. Lalu, dia menggantinya dengan engine Jeep CJ7, tapi lagi-lagi tidak cocok lantaran terlalu besar.

Akhirnya, Hari menggunakan mesin Toyota HiAce. “Mesin Toyota HiAce dipilih lantaran pas dengan bodi dan tenaganya kuat untuk menggerakkan bobot kendaraan yang mencapai 6 ton itu,” jelas Hari.

Akhir Februari lalu, kendaraan perang tersebut selesai direstorasi. Test drive pun dirancang untuk melihat apakah panser itu bisa beroperasi lagi atau tidak. Setelah dinyatakan layak, 1 Maret 2015, kendaraan yang diproduksi pada 1941 tersebut dibawa ke Jogjakarta. “Dipakai untuk pergelaran teater Serangan Umum 1 Maret,” paparnya.

Di Jogjakarta, mobil tempur itu mencuri banyak perhatian. Tidak jarang orang ingin menaiki panser tersebut sambil berfotoria. Sempat ada turis asing yang meragukan mobil itu bisa berjalan. “Saya langsung menyalakan mesinnya dan berkeliling di arena pameran. Mereka pun kaget, hampir tidak percaya,” ungkapnya.

Meski sudah kembali berfungsi, Hari belum puas dengan karyanya tersebut. Sebab, masih ada beberapa komponen panser yang belum sempurna. Di antaranya, komponen elektrikal yang belum berfungsi sehingga lampunya belum bisa menyala. Aksesori seperti antena, radio, serta senjata juga belum ada. “Mobil ini terus kami sempurnakan.”

Bukan hanya panser, puluhan kendaraan bersejarah yang sudah mati jadi hidup kembali di tangan Hari. Misalnya, ambulans yang digunakan untuk mengevakuasi pemimpin NII Kartosoewirjo setelah ditembak mati. Hari juga pernah merestorasi kendaraan Unimog 1970 milik tentara Fretilin.

Ke depan, dia berencana memperbaiki tank Stevart peninggalan Jenderal MacArthur, pemimpin Sekutu. Kendaraan itu merupakan sisa-sisa peninggalan Perang Dunia II. Konon, tank tersebut berada di Pulau Morotai, Maluku.

Menurut Hari, dirinya hobi merestorasi kendaraan sejarah itu karena ketertarikan pada benda antik. Dia juga sangat mencintai sejarah Indonesia. “Sayang, Indonesia punya banyak peninggalan sejarah yang tidak dirawat. Padahal, sejarah merupakan bagian penting perjalanan sebuah bangsa,” tuturnya. (*/c5/ari)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *