Ketik disini

NASIONAL

Pulang, Langsung Disembunyikan

Bagikan

*12 dari 16 WNI yang Ditangkap Polisi Turki

JAKARTA – Sebanyak 12 dari 16 WNI yang ditangkap pemerintah Turki akhirnya dideportasi. Mereka tiba di Bandara Soekarno Hatta kamis (26/3)A�tadi malam dengan penerbangan komersial maskapai Turkish Airlines KT-006.

Ketatnya penjagaan membuat kedatangan 12 WNI tersebut luput dari pantauan media. Pengamanan serba tertutup dilakukan karena delapan dari 12 WNI tersebut masih berstatus anak-anak. Salah seorang petugas bandara mengatakan, 12 WNI tersebut keluar dari Bandara Soetta dengan dijemput minibus hitam dan dikawal dua sepeda motor patwal sekitar pukul 21.15 WIB. “Sudah keluar semua lewat landasan, lalu melalui kargo,” katanya pada JPNN.

Menurut dia, dari 12 WNI tersebut, ada dua orang perempuan mengenakan cadar. Yang satu terlihat sudah dewasa, dan satu lagi perawakannya masih remaja. “Yang lainnya anak-anak, ada yang bermain handphone juga,” papar sekuriti tersebut.

Kemungkinan, 12 WNI itu dibawa menuju ke Mabes Polri untuk dimintai keterangan dan selanjutnya dikarantina. Namun, pantauan JPNN suasana di Mabes Polisi terlihat sepi. Tidak ada penjagaan ketat. Hanya ada petugas piket di pos jaga. Kondisi sama terlihat di Bareskrim.

Informasi yang dihimpun hingga pukul 23.00, polisi membawa 12 WNI itu ke dua tempat. Yakni di Mako Brimob, Depok. Ada juga yang mengatakan mereka dibawa ke NTMC.

Namun, Kabagpenum Kombes Pol Rikwanto membantah informasi itu. “Dibawa Densus. Tempatnya tidak diberi tahu,” katanya saat dihubungi.

Menurut data yang dilansir Polri, 12 orang itu adalah Ririn Andrian Sawir (istri Achsanul Huda, terduga teroris yang diyakini tewas di Suriah) bersama tujuh anaknya. Sedangkan tujuh anaknya adalah Qorin Munadiyatul Haq, Nayla Syahidah, Jauza Firdaus Nuzula, Ikrimah Waliturohman, Alya Nur Islami, Agha Rustam Rohmatulloh, dan Abdurahman Umarov.

Lainnya adalah Tiara Nurmayanti Marlekan (istri M Hidayah, terduga teroris yang tewas ditembak Densus di Tulungagung, Jawa Timur) dan anaknya Syifa Hidayah Kalashnikova. Lalu ada Muhammad Ihsan Rais (asal Ciamis) dan Aisyhanaz Yasmin (asal Bandung).

Dengan kedatangan 12 WNI tadi malam, berarti ada empat WNI yang masih diperiksa otoritas Turki. Mereka adalah Daeng Stanza (asal Ciamis, Jabar) dan istrinya Ifa Syarifah, serta dua anaknya Ishaq dan Asiyah Mujahidah.

Rencananya, polisi akan melakukan program pembinaan deradikalisasi pada 12 orang itu, khususnya mereka yang dewasa. Program itu akan dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bekerja sama dengan pemda dan ulama.

Pemetaan

Sementara itu, makin banyaknya terduga anggota ISIS yang berhasil diringkus, menyadarkan Polri tentang perlunya pemetaan. Siapa saja yang murni anggota ISIS dan siapa yang hanya ikut-ikutan. Diprediksi ada juga sejumlah orang yang terpaksa ikut karena adanya hubungan keluarga.

Kabagpenum Mabes Polri Kombespol Rikwanto memastikan tidak semuanya merupakan anggota ISIS atau terduga teroris. Hal ini diperlukan agar pendalaman kasus terduga ISIS bisa fokus. “Kami juga perlu memastikan semuanya,” paparnya kamis (26/3) kemarin.

Pemeriksaan delapan terduga anggota ISIS yang ditangkap Polri, sejauh ini diperlukan untuk mengembangkan siapa saja jaringan yang terlibat. “Kami berupaya mendapatkan informasi dari delapan orang ini, apakah ada orang lainnya yang terlibat,” paparnya.

Informasi yang diterima JPNN menyebutkan, tiga orang yang ditangkap di Malang merupakan orang yang pernah masuk wilayah ISIS. Mereka kembali ke Indonesia karena kecewa apa yang didapat di wilayah ISIS berbeda dengan yang diiming-imingkan.

Dikonfirmasi terkait hal tersebut, Rikwanto membenarkan tiga orang itu pernah ke wilayah ISIS. Namun, alasan kembali ke Indonesia masih didalami.”Lihat nanti, setelah pemeriksaan selesai,” terangnya.

Minta Semua Pihak Jaga Islam

Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan, semua WNI yang terdampar di negara lain harus dipulangkan. Untuk tahap awal, 12 orang dipulangkan terlebih dahulu. Namun, karena sudah ada dugaan mereka hendak bergabung dengan ISIS, maka kepolisian tetap bisa memeriksa mereka dengan dasar Undang-undang Antiterorisme. a�? Kalau salah ya salah, kalau tidak ya tidak,a�? ucapnya.

Sebelumnya, Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdijatno dan Wakapolri Badrodin Haiti sempat menyatakan keraguan mereka terkait penanganan 16 WNI yang tertangkap di Turki. Sebab, mereka belum memenuhi syarat perbuatan terorisme. Karena itulah keduanya mengusulkan wacana Perppu ISIS.

Saat membuka Musabaqah Hafalan Quran dan Hadist Pangeran Sultan bin Abdul Aziz Alusua��ud tingkat nasional ke-7 serta ASEAN dan Pasifik ke-6 di Istana Wakil Presiden, JK meminta agar semua pihak menjaga Islam dari hal-hal yang bersifat radikal, ekstrem, dan brutal. Seperti yang terjadi di banyak negara yang mayoritas penduduknya Islam. Seperti Afghanistan, Pakistan, Irak, Suriah, Libya, Mesir dan sebagainya. “Menghancurkan, menewaskan, membunuh begitu banyak umat Islam yang tidak berdosa, itu bukan Islam,” ujarnya. JK menyebut, munculnya radikalisme Islam di banyak wilayah, sebenarnya lebih diakibatkan faktor internal, seperti pemimpin yang zalim di masa lalu. Faktor itulah yang menyebabkan terjadinya pelemahan terhadap suatu negara, sehingga akhirnya dapat diintervensi pihak dari luar.a�?Dengan kondisi rakyat yang susah (secara ekonomi dan politik), kezaliman dari luar akan lebih mudah masuk,a�? jelasnya. (idr/aph/owi/kim/r3)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *