Ketik disini

Feature

Ketemu sang Idola, Abie Keluar Keringat Dingin

Bagikan

*Abie Abdillah, Desainer Furnitur Rotan Indonesia Berkelas Dunia

Kreativitas anak muda kelahiran Bandung, 31 Desember 1986, ini telah mendapat pengakuan internasional. Lewat desain-desain mebel rotannya, Abie Abdillah mulai disejajarkan dengan desainer-desainer negara lain yang memiliki jam terbang internasional.

***

KERINGAT dingin Abie Abdillah karena nervous tidak terbendung lagi ketika itu. Lulusan Desain Produk ITB 2009 tersebut masih belum percaya bahwa dirinya bisa berdiri menjadi salah seorang peserta pameran International Furniture Fair Singapore 2011. Pameran itu diikuti sejumlah desainer top dari berbagai negara.

Rasa canggung bertambah ketika salah seorang idolanya, desainer asal Jepang Naoto Fukusawa, hadir dalam event tersebut. Bahkan, guru besar desain dari Tama Art University peraih berbagai penghargaan internasional itu sempat mengunjungi stan Abie.

Dengan telapak tangan yang basah karena keringat dingin, Abie memberanikan diri menjulurkan tangannya menyalami sang idola yang sebelumnya hanya ditemui di laman-laman internet tersebut.

“Saya norak, ya. Pertama pameran di luar (negeri) dan ketemu desainer-desainer top, saya ndeso sekali waktu itu,” kenang Abie saat ditemui di kediaman orang tuanya di Ciamis, Jawa Barat, Selasa (24/3).

Dia berkesempatan mengikuti pameran internasional tersebut setelah karyanya berhasil terpilih menjadi pemenang kedua Singapore Furniture Design Award 2011. Abie meraih Honorable Mention Winner.

“Tapi, seiring waktu, saya sadar bahwa ketika berada di satu ring, saya tidak boleh lagi menunduk. Saya harus bisa menatap sejajar dengan mereka (desainer-desainer top dunia, Red),” tutur Abie Rotan, sapaan akrab desainer kelahiran Bandung itu.

Konsistensinya dalam menekuni desain dengan material rotan telah mengantar anak kedua pasangan Ahmad Muslihat dan Eni Prilistanti itu menjadi seperti sekarang. Tidak hanya berkesempatan mengikuti pameran dalam sejumlah event internasional, dia juga meraih berbagai penghargaan. “Terakhir, pertengahan Maret lalu, dia mendapat dua penghargaan sekaligus atas desain dengan material rotannya.

Pertama, pada 13 Maret, Abie dinobatkan sebagai salah seorang di antara enam penerima Rising Asian Talents di acara Maison & Objet Asia 2015 di Singapura. Kedua, beberapa hari berikutnya dia meraih penghargaan Innovative Craft Award edisi pertama untuk kawasan ASEAN. Pemberian penghargaan itu diselenggarakan bersamaan dengan International Innovative Craft Fair (IICF) di BITEC Bangna, Bangkok, Thailand.

Rising Asian Talent merupakan penghargaan bergengsi di kalangan desainer furnitur. Sebab, pada waktu yang tidak berselang lama, event sejenis yang didedikasikan bagi para desainer berbakat tersebut juga dilaksanakan di sejumlah kawasan lain. Yakni, Maison & Objet Paris dan Maison & Objet Amerika.

Di ajang yang dilaksanakan di Marina Bay Sands tersebut, Abie terpilih bersama Zhou Ziaojie dari Tiongkok, Poetic Lab dari Taiwan, Monica Tsang dari Hongkong, Outofstock dari Singapura, dan Wonmin Park dari Korea Selatan. Meski dari Asia, mereka rata-rata telah memiliki visi yang mendunia. Selain menempuh pendidikan di luar negeri, lima desainer tersebut telah membangun jaringan internasional.

Pemenang asal Tiongkok, misalnya. Selain dia bersekolah di Inggris, produk desainnya telah masuk ke sejumlah galeri top di berbagai negara. Begitu pula, pemenang dari Taiwan dan Korsel yang telah memiliki kantor dengan base di Inggris dan Belanda.

“Kalau saya, Bandung untuk kuliah dan Jakarta untuk kantor,” kata dia lantas tersenyum.

Kemantapan Abie menekuni rotan bukan baru-baru ini saja. Sejak kuliah, dia bertekad untuk berkonsentrasi kepada hasil hutan nonkayu yang spesies dan jumlahnya di dunia paling banyak ada di Indonesia tersebut. Berdasar data di Kementerian Perdagangan, 80-90 persen bahan baku rotan terdapat di Indonesia.

Fakta itulah yang mendasari mimpi Abie sejak di bangku kuliah untuk menekuni rotan. Sebab, di sisi lain, menurut dia, desain produk rotan relatif stagnan ketika itu. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia.

Sejak puncak perkembangan rotan terjadi pada era 1980-an dan awal era 1990-an, dinamika penjualan kerajinan rotan menurun dari tahun ke tahun. “Terus terang, saya merasa tertantang. Di satu sisi, bicara tentang rotan mengingatkan kita kepada zaman nenek kita masing-masing. Tetapi, di sisi lain, (rotan) ini adalah kekayaan Indonesia yang harus dijaga dan dikembangkan,” bebernya memberikan alasan.

Atas niatnya menyeriusi rotan itulah, dia menemui sejumlah pihak di berbagai daerah. Termasuk mendatangi perusahaan PMA (penanaman modal asing) asal Jepang Yamakawa di Cirebon. Saat itu dia bahkan beruntung sempat berkomunikasi dengan pemiliknya, Yuzuru Yamakawa.

“Ada satu kalimat dia yang selalu saya kenang, desainer Indonesia kalau mau dikenal dunia jadilah desainer rotan,” ungkapnya.

Setelah lulus kuliah dengan tugas akhir tentang rotan, Abie semakin dalam mengenali hasil bumi sendiri itu. Dalam proses interaksinya dengan sejumlah pihak dari negara lain, kemantapan hatinya menekuni pengembangan desain bahan baku yang kini masih dilarang diekspor dalam bentuk tanpa olahan tersebut semakin kuat pula.

“Saat ini memang masih berat. Tetapi, saya yakin rotan punya masa depan,” tandasnya.

Selain jumlah bahan baku yang melimpah dimiliki Indonesia, menurut Abie, sekarang masyarakat dunia mulai melirik rotan. Yakni, sebagai bahan alternatif pengganti kayu.

Kecenderungan beralih ke rotan itu berbanding lurus dengan kesadaran masyarakat terkait dengan ancaman global warming. Seperti halnya bambu, penggunaan rotan secara masif diharapkan bisa mengurangi kegiatan penggundulan hutan di seluruh belahan dunia.

Kondisi itu pada akhirnya bukan semata-mata menjadi potensi. Tetapi, harus ada tantangan besar yang menyertai itu. Yaitu, bagaimana membawa produk rotan Indonesia naik menjadi kelas dunia.

“Ini tentu menuntut kita semua tidak boleh hanya jago di kandang. Kita juga harus siap menjadi warga dunia,” tandasnya.

Dalam proses itu pula, Abie kemudian menyadari bahwa desain-desain produk rotan ke depan tidak boleh semata-mata untuk kepentingan art. Dalam waktu yang sama, juga harus dipikirkan desain-desain rotan yang bisa membumi dan diterima pasar.

“Tentu, tanpa melupakan detail kualitas produk. Sebab, itu harus menjadi kekuatan produk Indonesia untuk bisa bersaing di luar negeri,” ingatnya.

Konsistensi Abie di bidang rotan selama ini akhirnya mengantarkan dirinya masuk menjadi bagian dari Pusat Inovasi Rotan Nasional (Pirnas) yang berkantor pusat di Palu. Di lembaga yang dipimpin Prof Andi Talla Tellu dari Universitas Tadulako itu, Abie dipercaya sebagai wakil kepala.

Pirnas adalah institusi di bawah Direktorat Pengembangan Fasilitasi Industri Wilayah III Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian. Berbagai kegiatan dilakukan di sana. Mulai riset hingga pengembangan produk rotan Indonesia.

“Intinya, sebelum terlambat dikuasai orang luar, rotan harus mulai mendapat perhatian banyak pihak. Sebelum kita menyesal nanti,” tegas Abie sembari mengingatkan tantangan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang semakin dekat. (*/ari)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Up