Ketik disini

Metropolis

Diam, Tertawa, Menangis, Lalua��

Bagikan

* Cerita dari Sekolah Dongeng Indonesia

Dongeng menjadi sarana efektif menyampaikan pesan. Keterampilan mendongeng kini dibutuhkan, bukan hanya bagi pendongeng profesional, namun juga warga biasa. Terutama guru dan orang tua yang sedang mendidik anak.

***

SUASANA aula Green Yard School Mataram pagi itu nampak berbeda. Tempat yang biasanya digunakan murid untuk belajar dipenuhi orang dewasa. Duduk lesehan, diam, dan khusyuk mendengar arahan dari seorang trainer. Namanya Kak Wawan, pendongeng asal Mataram.

Aksi kocak sang trainer mengobok-obok emosi peserta Sekolah Dongeng Indonesia. Berbagai macam ekspresi wajah ditunjukkan. Raut muka setiap orang yang ada di sana berubah-ubah. Ceria, senyum, diam, tertawa dan diakhir sesi mereka dibuat menangis.

Suasana inilah yang mewarnai Sekolah Mendongeng Indonesia dari 3-5 April di Mataram. Peserta berjumlah 29 orang. Mereka berasal dari latar belakang berbeda. Ada guru, karyawan swasta, dan mahasiswa.

Selama tiga hari, mereka dibekali berbagai macam keterampilan. Mulai dari olah vokal, olah gerak, memberikan nyawa pada boneka, menirukan suara binatang dan sebagainya. a�?Keterampilan ini dibutuhkan untuk bisa mendongeng dengan baik,a�? tutur Kak Wawan.

Ia menjelaskan, suasana sekolah memang dirancang sedemikian rupa. Tujuannya, agar efektif dan tentu menyenangkan. Terbukti, selama tiga hari penuh, peserta terlihat ceria. Mereka tak bosan mendengar cerita-cerita kocak penuh makna. Namun dalam satu sesi, para peserta dibuat menangis sejadi-jadinya.

Kak Wawan menjelaskan, sesi ini sebenarnya tidak termasuk dalam materi sekolah dongeng. Namun dianggap perlu agar para peserta lebih menghayati dan mendalami karakter dirinya. Mereka diminta berintrospeksi diri, menghayati kembali tentang dirinya. a�?Mereka bercermin melihat dirinya sendiri,a�? ujarnya.

Sekolah dibagi dalam dua sesi, pembekalan materi dalam ruangan dan praktik mendongeng di Taman Udayana. Di sini para peserta diajak mendongeng kepada setiap orang yang sedang menikmati suasana Car Free Day.

Sesi ini sekaligus menjadi penutup rangkaian kegiatan sekolah. Setelah mengikuti sekolah dongeng, para peserta tidak harus menjadi pendongeng profesional. Namun mereka bisa bercerita di masing-masing profesi. Baik sebagai guru, ibu rumah tangga, mahasiswa dan sebagainya. a�?Tidak mesti jadi pendongeng,a�? tandasnya. (Sirtupillaili/Mataram/bersambung/r8)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys