Ketik disini

Headline Kriminal

Difoto, KPK Gadungan Mencak-Mencak

Bagikan

* Nekat, Sedang Diperiksa Masih Sempat Nilep Uang

MATARAM – Sayid Idrus Al Habsy, pria yang mengaku anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kini dalam penahanan Polres Mataram. Setelah kedapatan mengancam dan melakukan pemerasan terhadap Kepala Desa (Kades) Buwun Mas, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat (Lobar) Naim, Idrus pun resmi ditetapkan sebagai tersangka.

“Status SI (Sayid Idrus Al Habsy) sudah tersangka dan resmi ditahan,” kata Kasatreskrim Polres Mataram AKP Agus Dwi Ananto SH di ruang kerjanya, kemarin (7/4).

Diberitakan Lombok Post, Idrus diciduk Makorem 162/Wira Bhakti (WB) bersama AKPD Daryus dari Polda NTB saat hendak menerima uang dari Naim selaku korban, pada Senin malam (6/4). Penangkapan tersebut dilakukan tepat di muka Makorem yang beralamat di Jalan Lingkar Selatan, sesaat setelah polisi dan Korem menerima laporan dari korban yang hendak melakukan penjebakan terhadap pelaku.

“Polisi juga menerima laporan dari korban dan bersama-sama melakukan penangkapan bersama Korem,” tegas Agus.

Dalam penangkapan tersebut, aparat ikut menyita uang tunai sebesar Rp 50 juta yang dikantongi dalam kresek putih, sebuah handphone, dan identitas palsu yang digunakan pelaku untuk melancarkan aksinya sebagai anggota KPK bodong.

Menindaklanjuti penangkapan tersebut, aparat juga sudah memeriksa sejumlah saksi. Termasuk meminta keterangan dari kades yang menjadi korban. Kepada penyidik, korban mengaku ditakut-takuti oleh pelaku yang menyamar sebagai anggota KPK. Jika tidak menyerahkan uang sejumlah Rp 100 juta, korban diancam akan segera ditahan di Jakarta. Ancamannya, korban dituduh terlibat kasus penyuapan bersama Bupati Lobar H Zaini Arony yang saat ini memang dalam penahanan KPK.

“Kebetulan kasus yang terkait Pak Zaini itu kan juga berlokasi di Buwun Mas, jadi kades selaku korban ini juga ikut dikait-kaitkan dan ditakut-takuti oleh korban,” jelas Agus.

Awalnya, Naim sebagai korban mengaku tak menyimpan kecurigaan. Pasalnya, saat bertemu korban, Idrus mengenakan setelan safari, lengkap dengan lencana garuda dan identitas menyerupai logo KPK. Alhasil, Naim pun menyetorkan uang sebesar Rp 50 juta kepada pelaku.

Selain kesaksian korban, polisi juga sudah menggali keterangan dari tersangka Idrus. Dalam pernyataannya, ia tak mengelak sudah menerima uang dari korban sebesar Rp 50 juta. Namun, ia masih bersikeras tak pernah mengancam korban ataupun mengaku sebagai anggota KPK. Idrus mengaku sebagai anggota reclassering Indonesia wilayah NTB. Pekerjaannya sehari-hari sebagai pemerhati sejumlah instansi pemerintahan.

“Dari barang bukti dan keterangan itulah, menjadi dasar aparat menetapkan SI sebagai tersangka,” jelas Agus.

Selain Idrus, polisi kini masih memburu satu oknum lain yang disebut ikut menjadi dalang atas upaya penipuan tersebut. Oknum yang dimaksud merupakan saudara Idrus, berinisial FH. Keterangan korban, FH juga sempat bertemu dan ikut mengaku sebagai anggota KPK serta mengancam korban. “Hari ini (kemarin), kita sudah buat surat penangkapan terhadap FH ini,” lanjut Agus.

Dalam kesempatan yang sama, Kasatreskrim membantah keterlibatan oknum polisi dalam kasus penipuan tersebut. Memang dibenarkan, saat penangkapan ada seorang polisi berpangkat Bripka dan sehari-hari bertugas di Ditnarkoba Polda NTB. Namun dari keterangan pelaku dan para saksi, lanjut Agus, memastikan bahwa polisi itu tidak tahu menahu prihal perkara ini. Ia hanya diminta pelaku untuk mendampinginya ke lokasi.

“Pelaku sendiri memastikan bahwa oknum polisi ini tidak tahu menahu. Dia cuma diminta nemenin pelaku ke lokasi karena polisi ini memang kenal dengan pelaku, mereka sahabat lama,” jelas Agus.

Sehingga, menurutnya, tidak ada alasan untuk menyeret oknum polisi tersebut dalam kasus ini. Ia hanya dimintai keterangan sebagai saksi. Saksi lain yang ikut diperiksa polisi adalah Kepala Desa Tawun Nursimah. Nursimah diperiksa karena dia yang awalnya menghubungi korban untuk mengagendakan pertemuan dengan para pelaku.

“Namun, pengakuan Kades Tawun ini, dia juga tidak tahu kalau itu anggota KPK palsu. Dia memang menghubungi korban untuk memberikan informasi saja sebagai sesama kades,” terang Agus.

Sementara, polisi masih terus melakukan pengembangan terhadap kasus ini. Termasuk mencari tahu apakah ini merupakan aksi penipuan pertama kali dilakukan pelaku.

Hingga berita ini ditulis, pelaku masih dalam pemeriksaan penyidik polres Mataram. Selain itu, pada waktu bersamaan, korban, Na’im juga diperiksa. Namun, pemeriksaannya tertutup untuk wartawan.

Wartawan yang hendak mengambil photo pun kesulitan. Sebab, tersangka menutup pintu pemeriksaan. Kemudian dari balik jendela, dia marah-marah. “Mau apa kalian? Ni foto, ni foto,” ujarnya dari balik jendela.

Selain mengaku dari Intel KPK, SI juga mengaku dari sebuah lembaga yang memonitor kerja instansi-instansi di NTB. Dari penggeledehan, diamankan beberapa barang bukti. Diantaranya, uang cash senilai Rp 50 juta dan dua ID card.

Lucunya, pada saat pemeriksaan berlangsung, polisi menghitung uang barang bukti tersebut. Tapi jumlahnya tinggal Rp 40 juta. Ternyata, setelah dicek, SI pada saat polisi lengah sempat nilep kembali uang tersebut sebesar Rp 10 juta. “Dia sembunyiin di tasnya,” imbuh Dwi.(uki/cr-deq/r8)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *