Ketik disini

Sportivo

Fokus Jadi Pelatih, Pilih Mundur Jadi Wasit Nasional

Bagikan

Ketekunan menjadi modal yang sangat penting jika ingin meraih kesuksesan. Lebih baik diam tapi bekerja adalah prinsip yang dipegang teguh oleh Pelatih Tarung Derajat (Boxer) Pelatda NTB Dedy Noorcholish.

***

SETIAP atlet dan pelatih yang masuk Pelatda Sentralisasi Tambora merupakan orang pilihan dari cabang olahraga unggulan yang berasal dari seluruh wilayah NTB. Tentunya banyak kisah inspiratif dan menarik yang bisa dipetik. Seperti dari cerita hidup Dedy Noorcholish pelatih Tarung Derajat.

Pria kelahiran Mataram 23 1971 ini memiliki darah Bima karena orang tuanya berasal dari Bima. Ia mulai mengikuti olahraga bela diri tarung derajat sejak tahun 1989 saat duduk di bangku kelas 3 SMAN 2 Mataram. Alasannya ikut tarung derajat cukup menarik. a�?Aku ikut karena sering jadi bahan olokan di sekolah. Dulu badanku kurus kering makanya jadi bahan ejekan teman-teman,a�? tuturnya.

Ia memilih olahraga bela diri ini karena dikenal sangat keras dalam latihannya. Ia rela berlatih keras untuk membentuk otot dan tubuhnya agar ideal. Dedy merupakan angkatan pertama saat Tarung Derajat resmi dibuka di NTB. Kala itu latihan dipusatkan di Universitas Mataram.

a�?Kebanyakan dari kalangan mahasiswa. Hanya beberapa orang saja yang dari SMA termasuk saya,a�? jelas pria yang kini menjadi staf Dinas Dikpora NTB tersebut.

Dampak yang dirasakan dengan mengikuti tarung derajat bukan hanya pada perubahan fisik. Namun, ia juga merasa ada perubahan psikologis yang dialami. a�?Jadi ngerasa lebih mandiri, percaya diri dan nggak manja lagi meski saya anak paling kecil,a�? beber suami Sayyida Maria ini.

Setelah tamat SMA, Dedy melanjutkan kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Mataram. Dengan berbagai kesibukan dan aktivitas kuliah, ia tetap tekun berlatih tarung derajat. Saat menjadi atlet, Dedy kerap mengikuti kejuaraan nasional kelas bebas di luar daerah. Meski belum berhasil meraih medali atau prestasi tinggi ketika menjadi atlet, pengalaman bertandingnya dirasakan menjadi modal penting saat ia memutuskan menjadi pelatih.

Sebenarnya, pria yang kini memiliki tiga anak ini lebih banyak berkontribusi di belakang layar. Pasalnya, ia awalnya merupakan wasit nasional dan lebih banyak membantu pelatih yang lainnya dari belakang. Namun, sejak tahun 2006, ia memutuskan untuk mudur dari dunia perwasitan dan memilih menekuni dunia kepelatihan. a�?Saya memilih mundur dari wasit nasional karena saya ingin fokus jadi pelatih. Saya melihat atlet NTB memiliki potensi besar untuk menjadi juara namun mereka sering terkendala aturan,a�? terangnya.

Maksudnya, beberapa penyebab atlet NTB sering kalah dalam pertandingan adalah karena pemotongan poin. Hal ini diakibatkan para atlet sering melanggar aturan saat bertanding. Oleh karena itu, pengalamannya sebagai wasit ingin dimanfaatkan untuk membantu para atlet bertanding agar bisa menghindari kesalahan pelanggaran aturan.

Kini, bersama Imran atau Yong, Dedy mempersiapkan lima atlet Tarung Derajat untuk menghadapi Pra PON yang akan digelar Oktober mendatang. a�?Target utama kami kini adaloh lolos PON dulu. Baru kita berbicara target berikutnya,a�? tegasnya.

Kekonsistenan dan tekad Dedy membangun olahraga ini di NTB tidak diragukan lagi. Pasalnya, dari semua atlet dan anggota angkatan pertama di NTB, dia adalah satu-satunya yang masih tersisa. (Hamdani Watohoni/Mataram)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys