Ketik disini

Opini

Jika Tambora Meletus (Lagi) Apakah Kita Sudah Siap ?

Bagikan

* Oleh: Uzlifatul Azmiyati (Warga Lendang Nangka. Saat ini sedang menempuh Studi Magister Manajemen Bencana UGM)

a�?Muncul pertanyaan dalam benak kita bahwa mungkinkah letusan gunungapi seperti letusan Tambora terjadi lagi pada waktu yang akan datang?. Jawabannya adalah mungkin. Kejadian bencana seperti gunung meletus dan gempabumi merupakan bencana yang dapat berulang pada periode waktu tertentua�?

Dua ratus tahun yang lalu tepatnya pada bulan April tahun 1815 telah terjadi sebuah letusan gunungapi dahsyat yaitu letusan gunungapi Tambora.A� Pada skala VEI (Volcanic Explosive Index) letusan Tambora mencapai skala 7 yang berarti bahwa ketika meletus Tambora melontarkan material sejumlah 100-1000 km3 dengan tinggi kolom lontaran lebih dari 40 km. Hampir setengah bagian Tambora yang dulunya mempunyai tinggi 4.300 meter terlontar menjadi material letusan. Letusan tersebut 10 kali lebih kuat dari letusan Krakatau pada tahun 1883. Jadi tidak mengherankan jika letusan gunungapi ini termasuk letusan yang sangat besar pada abad 19.
Kedahsyatan letusan Tambora menimbulkan efek kerusakan yang parah, mempengaruhi iklim di bumi, dan menyebabkan kematian yang tidak sedikit. Selain itu, letusan Tambora juga menyebabkan masyarakat menjadi kekurangan makanan, menimbulkan penyakit, mengacaukan perekonomian masyarakat dan mempengaruhi demografi Nusa Tenggara Barat. Terdapat tiga kerajaan yang mendiami kaki Tambora yaitu kerajaan Tambora, kerajaan Sanggar, dan kerajaan Pekat yang pada waktu itu langsung hilang dalam sekejap tersapu material letusan Tambora. Tercatat bahwa letusan tersebut menewaskan lebih dari 88.000 jiwa di pulau Sumbawa dan Lombok, baik secara langsung maupun tidak langsung. Letusan ini adalah bencana vulkanik paling besar pada masa tersebut.

Gunungapi Tambora berada di pulau Sumbawa yang merupakan salah satu pulau besar yang menjadi bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Gunungapi ini terletak di dua kabupaten, dimana bagian lereng sisi selatan hingga barat laut dan kaki hingga puncak sisi timur sampai utara terletak di Kabupaten Bima, sedangkan sebagian kaki sisiA� selatan hingga barat laut berada di Kabupaten Dompu. Jika dilihat secara geografis gunungapi Tambora terletak di titik 8015a�� Lintang Selatan dan 1180 Bujur Timur. Tambora merupakan gunungapi yang terbentuk sebagai konsekuensi dari letak kepulauan Nusa Tenggara yang berada di atas pertemuan lempeng bumi yang membentuk jalur subduksi yaitu lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia.

Masyarakat yang berada dekat dengan Tambora pada waktu itu tidak pernah menyangka jika Tambora akan meletus, karena Tambora semula tidak dianggap sebagai gunungapi. Berdasarkan kesaksian masyarakat lokal pada tahun 1812 yaitu tiga tahun sebelum letusan besar Tambora mulai menunjukkan keaktifannya dengan menghasilkan awan hitam di sekitar puncaknya. Sebelum Tambora meletus masyarakat pada umumnya merasa aman hidup dengan Tambora di dekat mereka. Pada waktu itu masyarakat tidak merasa perlu untuk mempunyai pengetahuan tentang gunungapi dan bencana, apalagi mempunyai kesiapsiagaan terhadap bencana. Sehingga ketika letusan terjadi masyarakat belum sempat mengungsi ke tempat lain, karena tidak menyadari tanda-tanda akan terjadi letusan yang telah diberikan oleh Tambora. Akibatnya adalah jumlah korban meninggal yang besar.

Gunungapi dan bencana merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, terlebih lagi di Indonesia. Kita semua telah menyadari bahwa Indonesia kaya akan gunungapi yang tersebar di berbagai bagian wilayahnya, dimana gunungapi tersebut merupakan rangkaian gunungapi di sirkum pasifik. Gunungapi bersanding dengan bencana karena letusannya dapat meluluhlantakkan apa saja yang ada dalam jangkauannya, bahkan pada letusan yang besar seperti letusan Tambora jangkauannya mencapai ribuan kilometer serta dapat mempengaruhi iklim global. Bencana meletusnya gunungapi adalah bukan perkara bencana yang kecil. Letusan Tambora telah memberikan bukti. Gunungapi merupakan sebuah potensi bencana yang berada di sekitar kita. Potensi bencana ini dapat terjadi kapan saja menjadi bencana yang sesungguhnya dan akan menimpa masyarakat di dekatnya.

Muncul pertanyaan dalam benak kita bahwa mungkinkah letusan gunungapi seperti letusan Tambora terjadi lagi pada waktu yang akan datang?. Jawabannya adalah mungkin. Kejadian bencana seperti gunung meletus dan gempabumi merupakan bencana yang dapat berulang pada periode waktu tertentu. Namun berbeda dengan gempabumi, letusan gunungapi dapat diprediksi dengan mengamati kejadian-kejadian pertanda yang menjadi sinyal bahwa suatu gunungapi akan meletus seperti adanya awan hitam dan meningkatnya aktifitas gunungapi tersebut. Pada waktu yang akan datang, meletusnya gunungapi sangat mungkin terjadi di wilayah Nusa Tenggara Barat khususnya.
Melihat peristiwa di masa lalu seharusnya memberikan pelajaran berharga untuk mengambil sikap di masa sekarang dan masa yang akan datang. Sesungguhnya masa lalu menawarkan kumpulan data yang bisa dipelajari agar kita dapat terhindar dari bencana besar yang mungkin terjadi. Efek bencana gunungapi memang tidak dapat dicegah namun efeknya dapat dikurangi. Kerugian yang mungkin ditimbulkan bisa diminimalisir. Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan kapasitas kita untuk menghadapi bencana. Berdasarkan data-data yang berasal dari kejadian masa lalu maka kitaA� dapat membuat skenario-skenario yang mungkin terjadi kemudian membuat metode pencegahannya.

Kapasitas merupakan salah satu faktor penting dalam manajemen risiko bencana, setelah analisis bahaya dan kerentanan. Kapasitas berarti bahwa kemampuan suatu daerah dan masyarakat untuk melakukan tindakan pengurangan tingkat ancaman dan tingkat kerugian akibat bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana telah menyebutkan indikator-indikator yang harus terpenuhi untuk meningkatkan kapasitas yaitu: a) aturan dan kelembagaan penanggulangan bencana; b) peringatan dini dan kajian risiko bencana; c) pendidikan kebencanaan; d) pengurangan faktor risiko dasar; dan e) pembangunan kesiapsiagaan pada seluruh lini. Pada saat ini, aturan dan kelembagaan bencana telah banyak dibuat, namun masih jarang diperhatikan dan dilakukan ketika terjadi bencana. Sejatinya aturan tersebut harus diperhatikan sebelum, ketika, dan sesudah terjadi bencana. Penyusunan rencana kontijensi yang di dalamnya terdapat skenario-skenario kejadian yang mungkin terjadi beserta cara penanggulangannya harus dilakukan sebelum terjadi bencana. Selama ini peraturan selalu dimaksimalkan hanya pada saat penanganan tanggap darurat setelah kejadian bencana. Memaksimalkan fungsi badan penanggulangan bencana masih sangat perlu dilakukan. Tidak hanya untuk kejadian setelah terjadi bencana namun secara terus menerus melakukan kesiapan untuk menghadapi bencana seperti, melakukan analisis-analisis terhadap kejadian sebelumnya, meningkatkan kualitas SDM dan melakukan koordinasi dengan instansi-instansi lain yang terkait. Pemasangan tanda peringatan dini dan jalur evakuasi juga perlu dilakukan di area-area yang dekat dengan sumber bahaya.

Peningkatan kapasitas juga berhubungan dengan pengetahuan masyarakat tentang bencana, maka dari itu pendidikan tentang kebencanaan merupakan hal penting yang harus dilaksanakan. Pendidikan tentang kebencanaan di Indonesia khususnya di Nusa Tenggara Barat masih jarang dilakukan. Selama ini pengetahuan tentang bencana yang disosialisasikan oleh pemerintah hanya fokus untuk kalangan instansi dan masyarakat dewasa, belum mencakup dunia anak-anak. Padahal salah satu anggota masyarakat yang memiliki kerentanan yang tinggi terhadap bencana adalah anak-anak. Pendidikan kebencanaan kepada anak-anak adalah hal penting, mengingat bahwa anak-anak mudah mengingat hal-hal yang diajarkan dan dicontohkan kepada mereka. Sehingga di masa depan mereka akan memiliki ingatan tentang kebencanaan dan cara menghadapinya serta dapat menceritakannya ke teman-temannya yang lain. Pendidikan tentang kebencanaan kepada anak-anak tentu saja harus dilakukan dengan menyenangkan sehingga tidak meninggalkan ingatan yang menakutkan.

Letusan Tambora di masa lalu hendaknya menjadi suatu pelajaran yang berharga bagi masayarakat yang hidup di masa sekarang dan masa depan. Masayarakat tersebut adalah pemerintah, para akademisi dan peneliti, para pemilik badan usaha, serta semua lapisan warga masyarakat. Pemerintah harus terus mendukung penelitian-penelitian atau studi tentang kebencanaan khusunya tentang gunungapi agar dapat memberikan sumbangan berharga sebagai masukan bagi pemerintah dalam membuat kebijakan. Memaksimalkan fungsi instansi-instansi terkait dalam bidang penanggulangan bencana khususnya di NTB, salah satunya dengan meningkatkan sumber daya manusia yang ada di dalamnya dan melakukan koordinasi dengan instansi lainnya. Para akademisi dan peneliti memiliki lahan kesempatan yang luas untuk meneliti tentang geosains khususnya gunungapi, selain untuk membawa nama Indonesia tentu saja dapat membantu memecahkan permasalahan dalam hal kebencanaan. Masyarakat juga harus lebih terbuka, mau menggali informasi dan melek dengan lingkungan tempat tinggalnya sehingga mempunyai bekal untuk menghadapi bencana yang mungkin terjadi di masa mendatang. Pusat data harus dibuat dan harus mudah diakses oleh masyarakat untuk kepentingan penelitian, karena data-data kejadian di masa lalu merupakan salah satu jalan untuk memecahkan permasalahan di masa depan. (*)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys