Ketik disini

Praya

Wali Murid Gedor Sekolah

Bagikan

* Persoalkan Pengalihan Dana BOS

PRAYA – Puluhan wali murid SDN Liwung, Desa Stuta, menggedor sekolah anaknya, kemarin. Mereka mempersoalkan kebijakan kepala sekolah (Kepsek) yang mengalihkan penggunaan dana bantuan operasional sekolah (BOS).

Mereka mencurigai, ada indikasi penyelewenangan atas keputusan ini. Parahnya, komite sekolah dan para guru serta perwakilan wali murid tidak pernah dilibatkan. Penggunaan BOS yang dianggap tidak sesuai, di antaranya seperti cat sekolah sebesar Rp 800 ribu, perbaikan atap Rp 2 juta, atribut siswa Rp 540 ribu. Selain itu, kebutuhan konsumsi guru dan tamu masing-masing Rp 1 juta dan Rp 600 ribu.

a�?Dana yang kami anggap dialihkan untuk kepentingan lain totalnya mencapai Rp 50 juta lebih. Penggunaan dana ini yang kami lihat tidak bisa dipertanggungjawabkan secara tertulis oleh kepsek,a�? kata Hamzan.

Dikatakan mantan guru SDN Liwung tersebut, pengalihan penggunaan dana BOS secara rinci tercantum dalam data yang dipegangnya. Parahnya lagi, ada penggunaan dana BOS untuk pembangunan tembok sekolah. Namun, faktanya bangunan itu sudah berdiri sebelum dana BOS ada.

Tidak itu saja, dana yang harusnya digunakan untuk kepentingan peremajaan bangunan sekolah, justru dialihkan untuk pembangunan area parkir kendaraan guru.

a�?Memang nilai anggarannya kecil. Tapi, kalau dikumpulkan mencapai puluhan juta. Tolong ini dipertanggungjawabkan. Jika tidak, kami minta Kepsek mundur,a�? tegasnya.

Hamzan juga meminta kepada dinas untuk memutasi kepsek ke tempat lain. Lalu mengembalikan dana yang diduga dimanipulasi. Jika tidak, maka berurusan dengan hukum.

a�?Ini merupakan aspirasi kami wali murid. Tolong ini diperhatikan dan ditindaklanjuti oleh UPT Dikdas,a�?imbuhnya.

Menanggapi ini, Kepsek SDN Liwung H Kamarudin menjelaskan, penggalihan dana BOS yang dimaksud. Dia membenarkan, ada beberapa pos anggaran yang dialihkan untuk keperluan lain. Namun, bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Melainkan, murni untuk pembangunan sekolah.

Kamarudin pun siap mempertanggungjawabkan pengalihan penggunaan anggaran tersebut. a�?Dana BOS itu sudah jelas pos-posnya yaitu untuk pembelajaran dan perlengkapan sekolah. Jadi, saya tidak berani melanggar,a�? bantah pria berpeci putih itu.

Pos yang dimaksud, terang Kamarudin seperti makan minum guru, dan tamu, alat tulis kantor (ATK), komputer, barang habis pakai, mebeler sekolah, alat kesehatan, gaji guru tidak tetap (GTT), perlengkapan pakaian siswa. a�?Sampai untuk keperluan membantu anak-anak kita yang sakit. Termasuk, masyarakat lingkar sekolah yang terkena musibah,a�? bebernya.

Jika kebijakannya itu dianggap salah, pihaknya pun menyampaikan kata maaf. Sebaliknya, jika dirinya diminta untuk pindah maka ia siap. a�?Apa yang menjadi tuntutan wali murid, saya tidak keberatan,a�? kata Kamarudin.

Sementara itu, Kepala UPT Dikdas Janapria Hasanudin Ilyas berjanji memberikan pembinaan khusus kepada Kepsek SDN Liwung. a�?Saya berkali-kali menyampaikan kepada kepsek se Kecamatan Janapria, setiap penggunaan anggaran melibatkan komite, wali murid, dan para guru. Tujuannya, mengindari kecurigaan,a�? kata Ilyas.

Kasus yang terjadi di SDN Liwung, menjadi pelajaran berharga bagi seluruh SDN di Janapria. Caranya, mengedepankan transparansi dan akuntabel. Tidak bisa, kebijakan itu dijalankan secara sepihak. Apalagi berbicara anggaran. a�?Kalau ada kebijakan pengalihan anggaran, maka harus ada bukti berita acara, apa alasan dana itu dialihkan,a�? jelasnya.(dss/r11)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *