Ketik disini

Headline Metropolis

Awas Kena Tipu

Bagikan

Teknologi berkembang pesat. Ini memberi banyak kemudahan bagi masyarakat. Namun, ada saja oknum yang menyalahgunakannya untuk melancarkan berbagai aksi kejahatan. Mulai dari penipuan, hasut menghasut, hingga penghinaan.

***

DARI duduk manis di depan laptop, Reyna Assabila tertipu jutaan rupiah. Mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Kota Mataram ini, awalnya tergiur tawaran arisan online di situs jejaring sosial facebook.

Perempuan 21 tahun tersebut berkali-kali menyetorkan uang sebagai bentuk investasi online. Namun, selang beberapa bulan, pengelola arisan justru kabur. Akun facebook-nya tiba-tiba di-nonaktifkan. “Di situ saya baru sadar sudah kena tipu,” tutur Reyna.

Nasib serupa juga pernah dialami Ema Rusdiana, gadis asal Sumbawa yang kini ngekos di Mataram. Meski awalnya sempat ragu, ia pun ahirnya terpikat dengan janji memperoleh untung besar tanpa harus susah payah bekerja. “Ujung-ujungnya malah buntung,” sesal Ema.

Arisan online termasuk modus baru penipuan melalui dunia maya. Para pelaku sengaja menjanjikan untung besar untuk membius calon korban.

“Secara psikologis, siapa sih yang nggak silau dengan uang? Inilah yang dimanfaatkan para penipu di dunia maya tersebut,” kata Kasubdit II Ditreskrimsus Polda NTB AKBP Darsono yang fokus membidangi kejahatan dunia maya (cyber crime).

Modus penipuan online belakangan ini memang semakin marak. Tidak saja berupa arisan online, tetapi juga penipuan yang berkedok deal-dealan usaha kerja sama hingga judi atau togel.

Terakhir, cerita Darsono, ada salah satu modus penipuan baru melalui dunia maya. Pelaku menggaku sebagai orang asing dan mengirim pesan ke beberapa akun situs jejaring sosial untuk mencari korban. Dalam pesannya, pelaku menggaku baru saja bercerai dengan suaminya dan mendapat banyak harta gono gini. Ia pun mengajak calon korban untuk join aset.

“Kita belum mendapat informasi atau laporan apakah sudah ada korban di NTB. Yang jelas, ada korban di Jawa yang tertipu pesan ini,” tutur Darsono.

Di antara berbagai jenis penipuan yang dilancarkan di dunia maya, yang paling banyak korbannya adalah penipuan dengan modus jual beli. Pelaku menawarkan berbagai jenis produk via situs internet ataupun jejaring sosial. Namun, begitu pembeli mentransferkan uang, barang tidak juga dikirim. “Khusus untuk jual beli, itu sudah banyak laporan yang masuk ke kita,” ungkap Darsono.

Salah satu kasus penipuan jual beli yang berhasil diungkap polisi adalah jual beli kendaraan. Pelaku bernama Zainuddin, ditangkap aparat Polsek Ampenan awal tahun ini.
Pelaku yang memakai nama akun “sang presiden” menjadi salah satu member dari group jual beli online yang cukup populer di facebook, Jual-Beli Online Daerah Mataram. Ia kerap, memanfaatkan facebook untuk memperdaya korbannya. Setelah ditangkap polisi, berbagai hujatan pun diposting member group itu.

Darsono mengakui penindakan terhadap aksi penipuan di dunia maya tidaklah mudah. Salah satunya dikarenakan domisili pelaku yang mayoritas berada di luar daerah. “Korbannya memang di sini tetapi domisili pelakunya jauh. Masih mending kalau di Bali dan Jawa. Tak jarang, mereka justru berasal dari Sulawesi dan Kalimantan,” ujar Darsono.

Untuk itu, dia mengimbau masyarakat agar ekstra waspada. Setiap transkasi di dunia maya dibutuhkan ketelitian dan kewaspadaan yang lebih. “Periksa baik-baik pemilik akun maupun keabsahan situsnya. Jangan mudah percaya,” pesannya.(uki/cr-deq/nal/r11/r3)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *