Ketik disini

Opini

Memimpikan Ujian Nasional yang Jujur

Bagikan

* Oleh: Thalib, Abu Abdirrahman (Guru SMAN 1 Kediri, Lombok Barat dan Staf Pengajar di Mahad Abu Hurairah Mataram)

ALHAMDULILLAH, segala puji bagi Allah yang telah menuntun hamba-hamba-Nya yang beriman untuk saling berpesan dalam kebenaran dan kesabaran. Shalawat dan salam semoga tetap dicurahkan kepada Rasulullah, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik. Amma baa��du.

Ujian Nasional sebagai hajatan akbar tahunan tetap menjadi fokus perhatian banyak orang, terutama yang terkait dengan dunia pendidikan. Kondisi ini merupakan implikasi langsung dari gaung kegiatan tahunan ini. Gaung ujian nasional ini sudah pasti merambah semua stake holder pendidikan di negeri kita tercinta. Bahkan juga terkait dengan keberadaan sekolah Indonesia di luar negeri.

Di antara pihak yang terkait langsung dengan kegiatan ini adalah siswa, guru, orang tua,A� pejabat dinas pendidikan, BSNP dan kemendiknas.A� Siswa merupakan subjek yang langsung menjadi pelaku dalam mengikuti UN. Sedangkan yang lain seperti orang tua, guru, para pegawai, serta stake holder adalah pelaku tidak langsung dalam penyelenggaraaan Ujian Nasional.

Sesuai dengan judul di atas maka tulisan ini sengaja memfokuskan diri sebagai ikhtiar mewujudkan semangat kejujuran pada siswa yang akan mengikuti kegiatan ujian nasional tahun 2015 ini. Mengapa perlu diingatkan dan disemangati? Bukankah kegiatan ujian nasional adalah rutinitas tahunan? Sudah menjadi kelaziman bahwa UN akanA� menjadi agenda akhir tahun yang diperuntukkan bagi siswa di kelas terakhir, yakni kelas VI SD/MI, kelas IX SMP/MTs, dan kelas XII SMA/MA/SMK.

Peringatan ini merupakan kewajiban bagi setiap orang yang beriman dalam rangka tawashau bil haq watawashau bish shobar (saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran). Dengan niat itu maka harapan penulis sebagaimana judul di atas, yakni memimpikan ujian nasional yang jujur bisa terwujud. Mimpi indah ini tentu saja bukan mimpi penulis sendiri tetapi juga mimpi semua kita. Bahkan nun jauh di sana Mendikbud Anis Baswedan berulang kali di berbagai media massa menggemakan pentingnya kejujuran dalam penyelenggaraan Ujian Nasional.

Oleh karena itu berbagai perbaikan kebijakan pada kegiatan UN dari tahun ke tahun idealnya dapat mewujudkan mimpi kita akan terlaksananya UN yang jujur. Dengan demikian agenda tahunan yang dihajatkan sebagai ajang evaluasi tiga tahunan yang senantiasa menyapa dunia pendidikan memberi nilai dan makna, terutama nilai-nilai kejujuran.

Tentu saja sebagai guru, penulis welcome dengan regulasi dunia pendidikan tahun ini yang telah mengubah fungsi Ujian NasionalA� yang semula dijadikan penentu kelulusan menjadi tidak menentukan kelulusan. Dengan kata lain bahwa ada beberapa perbedaan Ujian Nasional tahun 2015 dibandingkan dengan ujian nasional sebelumnya. Di antara beberapa perbedaan tersebut adalah 1) Nilai UN tahun 2015 tidak lagi menjadi penentu kelulusan, 2) Penentu kelulusan adalah rapat sekolah, 3) Kemendikbud mulai merintis UN dengan komputer/Computer Based Test, sehingga disiapkan soal online, 5)A� Hasil UN 2015 tingkat SMA/MA/SMK bisa dipakai untuk mendaftardi universitas di Malaysia, Hongkong, Singapura dan lainnya.

Dengan beberapa perubahan (baca : perbaikan) seperti poin-poin di atas, kemendikbud menghajatkan bahwa kegiatan UN benar-benar dapat dilaksanakan secara jujur. Karena itu ketika UN menjadi penentuA� kelulusan, seperti sebelumnya maka berbagai praktek tidak terpuji marak dilakukan. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran yang berlebihan baik dari siswa, guru, orang tua, termasuk dinas pendidikan.

Kekhawatiran ini yang memancing dan menjadi pemicu berbagai kecurangan. Anehnya tidak jarang kecurangan tersebut dilakukan secara massif dan terencana. Sehinngga tidak heran ketika para siswa dan guru menyiapkan berbagai cara untuk menghadapi monster ujian nasional. Tentu saja cara-cara seperti ini menjadi kontraproduktif bagi dunia pendikan. Pendidikan yang dihajatkan untuk membentuk karakter terpuji para siswa, justru menghidangkan a�?menu kebohongana�� yang merusak moral dan kepribadian mereka.

Meskipun diakui tidak mudah mewujudkan kejujuran. Harus diakui pula bahwa kejujuran kita masih tergantung pada situasi dan kondisi. Kita mengajarkan para siswa untuk jujur dan jujur tetapi pada saat yang bersamaan kita juga menyodorkan bahwa jujur itu bukan milik kita. Jujur itu hanya pada saat lapang, tetapi boleh tidak jujur jika kepepet. Ujian Nasional terbaca oleh sebagian besar sekolah (kepala sekolah dan guru) sebagai kondisi kepepet atau darurat. Dianggap darurat karena berakibat fatal dan merugikan kepentingan siswa dan sekolah jika diikhtiarkan untuk jujur.

Tentu saja institusi sekolah juga mendapat tekanan dari berbagai pihak yang berkepentingan dengan hasil UN. Saat menghadapi kondisi seperti ini taruhan akan gengsi sekolah dan akhlak jujur akan selalu bertarung. Hanya sedikit di antara kita yang bisa memenangkan pertarungan ini, yaitu mereka yang benar benar mendapat taufik dari Allah a�?Azza wa Jalla.

Bukankah 14 abad lebih yang telah lalu Rasulullah Shalallahu a�?Alaihi Wasallam telah memperingatkan kita akan pentingnya akhlak dan kepribadian jujur. Dari Ibnu Masa��ud Radhiallahu a�?Anhu dari Nabi Shalallahu a�?Alaihi Wasallam bersabda: a�?Sesungguhnya kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan ke syurga dan sesungguhnya seseorang selalu berbuat jujur sehingga dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada kejahatan dan sesungguhnya kejahatan itu menunjukkkan kepada neraka dan sesungguhnya seseorang yang selalu berdusta maka dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang pendustaa�? (Muttafaqun a�?Alaih).

Jujur dan dusta adalah suatu pilihan. Tidak terkecuali dalam kegiatan ujian nasional. Siswa dan guru dituntut jujur, meski dengan segala resiko. Seorang guru yang berusaha jujur dalam ujian nasional mungkin akan dikucilkan oleh segenap warga sekolah. Ditambah lagi dengan resiko-resiko lain yang sangat menekan psikologis seorang guru.

Kepada para siswa juga direfresh ingatannya bahwa UN mulai tahun ini bukan lagi menjadi pemutus lulus dan tidak lulus. Karena rapat dewan guru yang akan menjadi penentu kelulusan siswa. Karena itu penting bagi semua siswa untuk memperbaiki hubungan dengan warga sekolah terutama kepala sekolah dan guru. Karena mereka adalah peserta rapat saat rapat kelulusan tersebut.

Belum hilang dari memori kita semua tentang surat terbuka Nurmillaty Abadiah, siswa kelas XII SMA Khadijah Surabaya setahun yang lalu yang dia tujukan kepada Mendikbud Prof Muhammad Nuh kala itu. Sepintas yang sempat penulis baca bahwa Nurmillaty Abadiah mengajak menteri untuk menyadari akan kesulitan soal UN 2014 kala itu. Dia rupanya tidak sepenuhnya menyalahkan teman-temannya jika berbagai kecurangan masih terjadi. Salah satu penyebabnya menurut dia adalah tingginya tingkat kesulitan soal. Bahkan Taty panggilan akrabnya mengilustrasikan bahwa ada tujuh soal matematika yang tak mampu dijwabnya. Apakah dia bodoh? Tentu saja bukan. Taty merupakan salah satu anggota team peraih medali perak dalam International Competition and Assesments for schools 2012.

Meski memberi banyak masukan kepada mendikbud, alih-alih mendapat respon positif dari beliau, yang ada justru Pak menteri meragukan akan keaslian tulisan tersebut. Para pembaca juga berharap surat terbuka tersebut dijawab dengan objektif guna perbaikan proses pelaksanan UN ke depan, masih jauh panggang dari api karena balasan tersebut tak sesuai harapan kita semua.

Sekali lagi mudah-mudahan di era pemerintahan yang baru ini, yakni UN tahun 2015 kita semua dapat mewujudkan mimpi kita akan nikmatnya ujian nasional yang jujur, sebagaimana pernah penulis alami di era Ebtanas dua puluhan tahunan yang lalu.
Terakhir, penulis mengajak pembaca semuanya agar kita mendoakan segenap siswa SMA/MA/SMK yang mengikuti UN padaA� bulan April tahun 2015 di seluruh Indonesia. Tentunya, kita semua berharap semoga Allah a�?Azza wa jalla memberi taufikNya kepada kita semua. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat dan ikhlas mengharap balasan dari Allah semata.A� Wallahu Aa��lam. (*)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys