Ketik disini

Ekonomi Bisnis

Perekonomian RI Diprediksi Lesu

Bagikan

MATARAM – Pengamat Ekonomi Nasional DR Anggito Abimanyu meramalkan pelemahan rupiah masih akan berlangsung hingga 2016 mendatang. Bahkan, tekanan terhadap mata uang dalam negeri ini bisa lebih besar ketimbang kondisi saat ini.

a�?Tahun ini tekanan terhadap ekonomi kita kuat. Namun kita berharap ekonomi Indonesia setelah 2016 akan lebih baik lagi,a�? ujarnya saat mengisi kuliah umum bertemakan outlook perekonomian Indonesia tahun 2015 bersama BRIzzi.

Anggito mengatakan, keseimbangan makro Indonesia mengalami ujian berat saat ini. Terlihat dari rupiah yang terdepresiasi hingga 6 persen selama 3 bulan (Jan-Maret 2015). Kondisi ini dinilai mulai mengganggu keseimbangan makro, sektor keuangan dan mikro perekonomian, begitu juga pada daya saing perekonomian.

a�?Semua bidang bisa terdampak dengan kondisi ini, tapi tidak apa yang penting perencanaan benar agar target bisa tercapai,a�? terangnya.

Dia menilai, penurunan nilai tukar rupiah sebagai hal yang wajar. Penyebabnya lebih karena pengaruh ekspektasi normalisasi ekonomi AS dan kondisi defisit neraca pembayaran Indonesia. Namun rupiah dianggapnya masih kompetitif.

a�?Ekspektasi pasar rupiah dalam jangka pendek masih belum stabil dan cenderung melemah, tapi rupiah masih kompetitif,a�? ujarnya yang didampingi Pincab BRI Cabang Mataram M Taufik Anwar.

Walaupun demikian, perkembangan sektor keuangan masih cukup stabil. Harga saham cenderung meningkat dan yield obligasi menurun.
a�?Perbankan masih cukup aman, baik dari sisi NPL dan CAR,a�? tegasnya.

Ia merincikan risiko ekonomi terberat adalah pencapaian sasaran kebijakan fiskal. Target APBN 40 persen dan kenaikan Tax Ratio 1,5 persen dari PDB adalah target yang sangat ambisius dan sulit dapat dicapai. Pertambahan belanja infrastruktur diatas 45 persen merupakan hal yang menyebabkan potensi rendahnya penyerapan anggaran.

Anggito memaparkan pertumbuhan ekonomi di 2015 diperkirakan antara 5,2 hingga 5,6 persen. Hal ini dilihat dari nilai tukar berkisar Rp 12.500 hingga Rp 13 ribu dan inflasi 3-5 persen.

a�?Pertumbuhan DPK dan kredit perbankan cukup tinggi antara 14-16 persen dan 15-17 persen,a�? tandasnya.

Usai menyampaikan kuliah umum di Universitas Mataram, pria yang menjabat sebagai Direktur Penelitian dan Pelatihan Ekonomi dan Bisnis (P2EB) Universitas Gadjah Mada ini melanjutkan dengan tanya jawab. Pada peserta yang yang berhasil menjawab dengan benar, mendapatkan kartu BRIzzi. (nur/r4)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys