Ketik disini

Giri Menang Headline

Banjir Kuripan Dipicu Sungai Dangkal

Bagikan

* Desa Tempos Ikut Diterjang

GIRI MENANG – Banjir yang merendam rumah warga di Desa Kuripan Selatan, Kecamatan Kuripan, Selasa (14/4) menyisakan duka. Rumah yang dihuni tiga anak yatim piatu ambruk dan menjadi satu dari puluhan korban banjir.

Tembok bagian belakang rumah yang terbuat dari bata jebol. Atapnya juga ikut roboh lantaran diterjang banjir setinggi satu meter. ”Jebol karena dorongan air yang deras,” kata salah seorang penghuni rumah Mustafa, Rabu (15/4).

Di rumah yang sudah reyot itu, Mustafa tinggal bersama anak yatim lainnya, Ridwan dan Zaniah. Mereka dibesarkan pasangan suami istri Yan dan Roaini.

Mustafa menuturkan, banjir itu diawali hujan deras disertai angin. Sekitar satu jam menggguyur, air keruh yang berasal dari gunung mulai menggenangi halaman rumahnya. ”Airnya dari gunung. Airnya deras sekali,” aku dia.

Tak lama kemudian, genangan air mulai meninggi dan masuk ke dalam rumah. Awalnya, Mustafa yang saat itu bersama Ridwan tidak terlalu menggubrisnya.

Mereka hanya membuat tanggul penghalangan supaya air tidak masuk ke rumahnya. Namun, air yang disertai lumpur makin membesar dan menerobos masuk. ”Kalau Bapak (Yan, Red) tidak ada di rumah. Dia lagi ngerampek (panen padi, Red),” kata warga RT 2 Dusun Embung ini.

Luapan yang mengepung rumahnya memaksa dua anak yatim itu mencari tempat lebih tinggi. Mereka mengungsi ke sebuah berugak yang tidak jauh dari rumahnya. ”Tiba-tiba tembok rumah kami roboh dan atapnya ambruk,” ujarnya.

Ia pun tidak bisa berbuat banyak dengan kondisi rumah ambruk. Apalagi, orang tua asuhnya Yan belum mengetahui rumahnya ambruk. ”Kami hanya berharap dibantu pemerintah,” aku dia.

Warga lain, Umi Hani menuturkan, luapan air memaksa dirinya memindahkan barang-barang miliknya, termasuk padi yang baru dipanen. Sebab, genangan air telah masuk ke rumah dan makin tinggi. ”Saya pindahkan semua padi dan perabotan rumah lainnya,” aku dia.

Ia menambahkan, genangan air mulai surut malam hari. Namun, dirinya tak berani kembali ke rumah. Dia khawatir ada banjir susulan. ”Kita mau pulang ke rumah, tapi airnya masih deras. Kami memilih menginap di berugak bersama warga lain,” tambahnya.

Kades Kuripan Selatan Zulkarnain mengatakan, ada tiga dusun yang terendam banjir. Yakni Dusun Tunggu Lawang, Dusun Embung, dan Dusun Pelabu.

Rumah yang kena banjir di Dusun Tunggu Lawang RT 6 sebanyak ‎ 40 Kepala Keluarga (KK). Dusun Embung RT 2 delapan KK dan satu rumah anak yatim jebol.

”Dusun Pelabu RT 1 itu sebanyak 6 rumah tenggelam. Airnya mencapai jendela. Kalau di RT 7 Dusun Pelabu ada 20 KK yang kami ungsikan,” akunya.

Banjir yang menggenangi tiga dusun itu karena wilayah berada pada dataran rendah. Saluran primernya tidak berfungsi. Luapan air dari gunung serta air sungai besar di Kuripan Selatan tak bisa dibendung. ”Sungai sudah dangkal dan tidak pernah diangkat sedimennya, sehingga air meluap,” akunya.

Saat banjir menerjang rumah warga, Zulkarnain bersama Camat Kuripan Muhammad Lalu Hakam dan Kepala BPBD ikut membantu mengevakuasi barang dan warga. Selain itu, turun pula pihak Dinas Sosial dan Tagana Lobar.

”Disos memberikan bantuan kepada KK yang mengungsi total. Warga sebanyak 30 orang berasal dari Dusun Pelabu. Mereka diberikan bantuan makanan,” bebernya sambil menjelaskan TNI dan Polri ikut membantu warga mengangkat perabotan rumah.

Akibat banjir ini, lanjut Zulkarnain, banyak warga yang mengalami kerugian. Seperti kehilangan perabot rumahnya dan unggas. Kerusakan menimpa pula pengusaha batu bata.

”Kalau sarana desa yang hilang yakni pos jaga di Dusun Aik Jambe. Pos itu hanyut terbawa air,” bebernya. Banjir tersebut menyumbang juga kerusakan sarana jalan di Dusun Embung. Begitu pula dengan plat jembatan di Dusun Tunggu Lawang. ”Sarana jalan yang rusak total ada di Dusun Aik Jambe,” terang dia.

Ia berharap pemkab memperbaiki saluran irigasi primer Aik Jambe hingga Dusun Pelabu sepanjang 2,3 kilometer. Ia juga meminta agar diperlebar dan dikeruk lumpurnya karena semakin menyempit. ”Sungai Pelabu yang berbatasan dengan Kuripan Induk perlu ada pengangkatan sedimen dan  dipasang bronjong,” pintanya.

Zulkarnain menambahkan, banjir ini hampir tiap tahun menggerogoti. Bahkan, desanya kerap jadi langganan banjir. ”Pokoknya setiap curah hujan tinggi, warga merasa khawatir dan takut ada banjir,” pungkasnya.

Terpisah, Camat Kuripan Muhammad Lalu Hakam mengaku banjir telah surut dan warga yang sempat mengungsi kini kembali ke rumahnya. Saat ini, warga tengah membersihkan rumahnya yang dipenuhi lumpur. ”Airnya sudah surut malam itu (kemarin) juga,” akunya.

Sementara, jalur bypass BIL (Bandara Internasional Lombok) sudah normal kembali. Pengendara yang melintas di jalan dua arah itu telah beraktivitas. ”Kalau di bypass, dari pukul 21.00 Wita sudah normal,” tandasnya. Curah hujan yang tinggi tidak hanya menerjang Kuripan Selatan. Tapi, Desa Tempos Kecamatan Gerung juga kebagian banjir bandang.

Air yang diduga berasa dari gunung mengalir dengan deras. Tanggul yang berada di gunung ambruk. Pohon juga ikut tumbang. Sedangkan, tanggul yang berada di pinggir jalan ikut ambrol.

Sawah warga tidak luput dari terjangan banjir. Lahan pembibit padi warga dipenuhi lumpur dan pasir. Kendati demikian, banjir bandang itu tidak sampai merusak rumah warga.

”Kalau rumah tidak ada yang rusak. Cuma tergenang saja. Yang rusak itu tanggul jalan dan yang ada di gunung,” kata salah seorang warga Desa Tempos, H Hamid, kemarin. (jlo/r6)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *