Ketik disini

Opini

TMD : Ispirasi Pariwisata Syari’ah

Bagikan

* Oleh : Mugni Sn. (M.Pd.,M.Kom.,Dr.) (Ketua ICMI ORDA Lotim/Mantan Sekretaris Dinas Pariwisata Kab.Lombok Timur)

TAMBORA Menyapa Dunia (TMD) telah menghiasi halaman madia massa Nusa Tenggara Barat beberapa bulan terakhir. Berbagai hal terjadi dalam pemberitaan media. Ada pihak yang pro dan ada juga yang konta. Tetapi pada umumnya masyarakat NTB menyambut baik perhelatan menyambut peringatan 2 abat meletusnya gunung berapi tertinggi di Pualu Sumbawa yang pernah meletus 200 tahun silam. Pada bulan April 2015 letusan Tambora telah genap 200 tahun. Letusan Tambora 200 tahun silam telah mengguncankan dunia karena letusannya sampai memyapa benua Eropah. Tambora telah meluluhlantahkan 3 kerajaan yang ada di kaki Gunung Tambora, di antaranya Kerajaan Sanggar.

Dua rautus tahun yang silam Tambora telah menyapa dunia dengan letusannya yang sangat dahsyat. Letusan Tambora telah melewati batas-batas benua. Baru satu gunung berapi yang meletus, dunia telah menjadi bergetar. Bagaimanakah bila 2, 3 gunung berapai yang di Indonesia meletus secara bersaaan. Atau semua gunung berapi meletus bersamaan. Sampai di manakah getarannya. Mungkin sampai seluruh benua akan bergetar…? Gunung meletus tidak ada yang bisa mengatisipasi. Artinya tidak ada upaya yang bisa dilakukan oleh manusia untuk menunda meletus gunung berapi. Kemampuan ilmiah manusia belum menjangkau ke sana. Beda dengan longsor, misalnya. Untuk mengatisipasi longsor bisa diantisipasi dengan tidak menggunduli pohon/hutan/menanam pohon, dan lain-lain. Bila gunung meletus hanya satu kata yang menjadi jawaban bagi orang yang percaya akan adanya Tuhan (beriman), yakni “itu kehendak Tuhan”. Bila Tuhan telah berkehendak tidak ada satupun makhluk yang bisa menghalangi. Bagi orang yang beriman setiap musibah yang menimpa ada 2 kemungkinan, yakni azab dan ujian. Bila musibah itu terjadi atas perbutan jahat  (melanggar perintah Tuhan) yang dilakukan oleh manusia maka itulah adalah azab. Tetapi bila musibah itu terjadi sementra manusia tidak melanggar larangan Tuhan maka itulah yang disebut dengan ujian. Tuhan menguji ketebelan/kekuatan iman/keyakinan seseorang atas kekuasaan-Nya. Mampukah manusia itu mengubah musibah  itu menjadi peluang…untuk menjadi yang lebih hebat…dan setersunya.

Peringatan dua ratus tahun Tambora meletus motivasi utamanya adalah untuk menjadikan Tambora sebagai salah satu destinasi periwisata andalan di NTB. Peringatan dengan istilah TMD  dimaksudkan untuk menggaet wisatawan untuk berkunjung ke Tambora khsuusnya dan NTB pada umumnya. Berbagai kegiatan dilakukan dalam menyambut TMD dimaksudkan untuk mendatangkan  wisatawan sebanyak-banyaknya. Bahkan presiden pun ikut hadir dalam puncak peringatan, yakni 11 April. Kehadiran presiden diharapkan menjadi magnet tersendiri untuk lebih banyak tamu yang hadir pada rangakian TMD. Dengan demikian TMD untuk kepentingan dunia pariwisata Nusa Tenggara Barat.

Menyadri begitu dahsyatnya letusan Tambora 200 tahun yang silam seharusnya menjadi motivasi bagi seluruh komponen di NTB untuk mewujudkan pariwsiata syari’ah di NTB. Bukankah NTB telah ditetapkan oleh Kementrian Pariwisata untuk mmenjadi salah satu distinasi pariwisata syariah di negeri Pancasila. Nusa Tenggara Barat yang terdiri atas dua pulau yakni Lombok dan Sumbawa telah dilekatkan dengan berbagai label keislaman.

Pulau Lombok terkenal dengan pulau seribu masjid, kerajaan Islam Selaparang, tempat lahirnya organisasi Nahdlatul Wathan yang bercikal bakal dari pondok pesantren yang saat ini telah menaungi ratusan pondok pesantren di  nusantara, dan lain-lain. Sementara pulau Sumbawa terkenal dengan kerajaan Islam dengan istilah kesultanan. Kesultanan Sumbawa, Kesultanan Dompu, dan Kesultanan Bima, dan label-label keislaman lainnya. Penduduk asli dua pulau   ini yang terdiri atas suku Sasak, Samawa dan Mbojo hampir 99,08 % muslim. Dalam disertasi Mugni (2012), sekitar 02 persen penduduk asli pulau Lombok (suku Sasak)  menganut agama Budha. Mereka ini lari ke pegunangan saat terjadi pengislaman oleh Kerajaan Selaparang.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut maka sangatlah beralasan bila Kementerian Pariwisata memantapkan NTB sebagai salah satu propinsi yang dijadikan pilot proyek pertama sebagai destinasi pariwisata syari’ah. Pariwisata syari’ah akan menghendaki seluruh aktivitas dunia kepariwisataan mencerminkan nilai-nilai Islam. Mulai dari transportasi, akomodasi, dan destinasi/obyek wisata.

Transportasi harus mengutamakan nilai-nilai kejujuran dan ketepatan waktu. Tidak ada lagi tawar menawar ongkos bagi wisatawan. Harus semua dalam kepastian. Para pelaku transportasi harus dilatih dan diberikan pemahanan bahwa nilai kejujuran akan menjadi nilai utama  dalam pariwisata syari’ah. Di samping itu ketepatan waktu harus menjadi perhatian utama. Ketepatan waktu dalam perilaku umat Islam sebagai implikasi dari nilai-nilai ibadah sholat yang wajib dijalankan. Waktu sudah ditentukan dan dalam segala keadaan harus dijalankan. Sekalipun Tuhan telah memberikan limit waktu tetapi sholat pada awal waktu nilai pahalanya paling besar. Ini harus menjadi pegangan bagi para pelaku transportasi bahwa jangan karena mengejar setoran adzan diabaikan. Bila adzan telah tiba maka sang sopir harus segera mencari masjid untuk berhenti sholat berjamaah. Ini untuk membuktikan bahwa Lombok memang layak dilabelkan dengan pulau seribu masjid karena massjid dapat ditemukan di mana-mana.

Akomodasi perhotelan harus siap berpenampilan sebagai destinasi periwisata syari’ah. Semua karyawan muslimah tentu wajib memakai jilbab. Jilbab yang sesuai dengen aturan syari’ah, yakni menutupi lekuk-lekuk tubuhnya. Bukan jilbab yang hanya mengedepankan fashion. Berjilbab tetapi lekuk-lekuk tubuhnya semakin nyata. Tentu bukan ini yang diharapkan. Pawai “rimpu” (pekaian khas permpuan Mbojo) yang telah memecahkan rekor MURI serangkaian dengen TMD dapat dikembangkan untuk mendukung distinasi pariwisata sayariah bagi muslimah yang terlibat dalam dunia pariwisata NTB. Kebijakan pemerintah Lombok Barat yang mewajibkan tiap kamar hotel menyediakan Kitab Suci Al-Quran harus menjadi kebijakan pemerintah propinsi. Setiap kamar hotel harus tersedia sajadah dan arah kiblat. Di samping itu, kamar mandi hotel juga harus menyediakan kran khusus untuk berwudlu. Kran khusus untuk berwudlu ini masih belum ditemukan pada kamar-kamar  mandi hotel di NTB. Akan lebih mantap lagi bila hotel-hotel menyediakan mushola yang representatif yang posisinya bukan dipojok-pojok dekat parkir mobil. Bila perlu harus berdampingan dengan aula dan ruang lobby hotel. Dan, yang lebih utama lagi hotel-hotel tidak ada lagi yang menyediakan minum keras, karaoke  dan PS-PS. Bila si bule ingin menginap haruslah beradaptasi. Bila NTB telah menjadi tujuan mereka  karena ada sesuatu yang menarik maka mereka akan tahan tidak minum minuman keras atau berkaraokean.

Destinasi atau obyek wisata bernuansa Islam harus ditata dengan baik. Masjid-masjid, makam-makam para tuan guru, para raja, pondok pesantren sebagai tempat mengkaji ilmu-ilmu keagamaan dan umum harus mencerminkan nilai-nilai keIslaman. Istana kesultanan yang ada di Pulau Sumbawa harus ditata dan budaya/tradisi kesultanan harus dihidupkan kembali. Masjid bukan hanya megah berlantai 2, 3 tetapi yang lebih utama adalah memaksimalkan fungsi masjid sebagai tempat beribadah meningkatkan kualitas umat. Kesadaraan umat untuk mengisi masjid dengan sholat berjamaah harus ditingkatkan. Di samping masjid juga harus menjadi pusat kajian keislaman. Untuk itu,  perpustakaan masjid harus dihidupkan kembali. Bila perpustakaan masjid digalakkan kembali maka masjid akan menjadi tempat belajar dan akan digandrungi oleh generasi muda Islam. Remaja masjid harus dihidupklan kembali dan diberikan fasilitas dari anggaran destinasi pariwisata syari’ah yang dialokasikan oleh Kementerian Pariwisata.

Pondok Pesantren dapat menata diri untuk menjadi destinasi pariwisata syariah. Pondok pesantren sesuai dengan kriteria yang dijelaskan dalam buku tradisi pesantren, yakni di dalamnya ada santri, asrama, kajian kitab, masjid, dan kyai. Santri belajar mengaji, dan mengkaji kitab-kitab keislaman di bawah bimbingan kyai (tuan guru), masjid sebagai pusat kegiatan santri. Di samping para santri belajar pada sekolah-sekolah formal yang didirikan di dalam pondok pesantren. Pondok pesantren dapat menata asrama santri dan pengasuhnya dengan mendirikan bangunan khas daerah, seperti untuk di pulau Lombok dapat mengunakan bangunan seperti lumbung. Pada zaman dulu lumbung lantai 2 dipakai untuk menyimpan padi sedang lantai dasar digunakan untuk beristirahat. Di dalam pondok pesantren ini lantai 2 dapat digunakan sebagai tempat tidur para santri/pengasuh. Sedangkan lantai satu (malak) dapat digunakan untuk belajar mandiri atau berdiskusi para santri di bawah bimbingan pengasuh. Salah satu pondok pesantren yang mengembangkan/memanfaatkan bangunan khas Sasak ini sebagai asrama santri/pengasuh adalah Pondok Pesantren Cendekia DLM NW Aikmel yang berlokasi di dusun Aiklomak Desa Toaya Kec. Aikmel. Di samping itu, pondok pesantren juga dapat mengembangkan kesenian-kesenian Islam yang menjadikan pertunjukan bagi para wisatawan. Pesantren juga mempunyai potensi yang besar untuk menjadi pendamping (guide) para wisatawan yang berasal dari negara-negara Islam. Di Lombok sudah ada beberapa pondok pesantren yang menerapkan bahasa Arab dan bahasa Inggris sebagai media komunikasi sehari-hari seluruh santrinya. Di antaranya Nurul Hakim Kediri, Nurul Harmain Narmada, Yanmu Praya, Ulil Albab Perian, Cendekia Aikmel, dan  lain-lain. Potensi-potensi destinasi pariwisata syari’ah yang akan dapat dikembangkan bila warga NTB menyadari bahwa letusan Tambora 200 tahun silam dapat dijadikan ispirasi dan TMD 2015 penuh inspiratif. Wallahuaklam bissawab. (*)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *