Ketik disini

Feature

Tak Boleh Ikut Lomba karena Menang Terus

Bagikan

* Srikandi-Srikandi Laut Mengukir Sejarah dan Prestasi (1)

Menyambut Hari Kartini, Sabtu besok (18/4) KSAL Laksamana TNI Ade Supandi menyerahkan penghargaan kepada enam srikandi Korps Wanita Angkatan Laut (Kowal) berprestasi. Mereka dinilai mempunyai kemahiran di atas rata-rata, bahkan bila dibandingkan dengan prajurit pria.

***
A�
ENAM anggota Kowal berprestasi itu adalah Sekretaris Pusat Kesehatan TNI Kolonel Laut drg Nora Lelyana, Letkol Laut Ni Ketut Prabhawati (palaksa Pusat Penerbangan TNI-AL), dan Mayor Laut Runik Sri Arumdati (komandan Batalyon IV Taruna AAL). Kemudian, Kapten Laut Rasnah (palaksa Trian Kowal Kartini Detasemen Markas Pangkalan Utama TNI-AL V Surabaya), Kapten Laut Titin Sudarsih (kepala Urusan Redaksi Sekretariat Umum Mabes TNI-AL), dan Sersan Mayor Susmarlini (bintara Urusan Tata Usaha dalam Rumah Sakit Marinir Ewa Pangalila, Gunungsari, Surabaya).

Enam srikandi di matra laut tersebut memang menunjukkan prestasi yang menonjol di bidang masing-masing. Kapten Laut Rasnah, misalnya. Meski usianya sudah menapaki 46 tahun, dia tetap berprestasi tinggi. Performanya merupakan kombinasi kelapa dan mesin diesel. Tambah kental santannya, dia semakin tidak tertandingi. Di lingkungan Kowal se-Indonesia, Rasnah termasuk manusia ikan yang belum tersaingi.

Rasnah masih yang tercepat di nomor renang gaya bebas. Pada peringatan HUT Kowal 2015 Januari lalu, perempuan yang berulang tahun setiap 8 Mei itu masih yang terbaik di kejuaraan selam tanpa alat di kolam renang. Dia juga langganan juara renang laut. Bahkan, lantaran sering menang di lomba renang menyeberangi Selat Madura, Rasnah sampai diembargo tidak boleh ikut dalam kejuaraan antaranggota Kowal tersebut.

“Saat kejuaraan renang Selat Madura Hari Armada 2014, ada senior yang melarang saya ikut, khawatir tidak ada juara baru,” cerita Rasnah di sela-sela latihan dayung di Dermaga Kalimas, Ketabang Kali, Surabaya, kamis (16/4).

Ibu satu anak kelahiran Malino, Sulawesi Selatan, itu pun menuruti imbauan seniornya tersebut. Dia bisa memahami pelarangan itu karena regenerasi perenang laut dan menyelam di jajaran Kowal memang termasuk lambat.

Alumnus SGO Negeri Makassar 1988 itu masuk Kowal melalui jalur Pendidikan Calon Bintara Militer Sukarela VII/1 pada 1988. Penempatan pertama di Subdirektorat Perawatan Personel Dinas Administrasi Personel Komando Armada RI Kawasan Barat (Armabar) menjadi kesempatan Rasnah menjelajahi perairan Indonesia Barat. “Penyelaman pertama di Kepulauan Seribu mengasah renang laut saya,” tutur Rasnah.

Berkat skill yang di atas rata-rata di bidang renang dan menyelam, Rasnah lalu dipindahtugaskan ke Akademi Angkatan Laut (AAL) di Surabaya. Di kampus AAL Bumimoro itu, dia dipercaya sebagai kepala Subseksi Operasi Administrasi Jasmani Departemen Jasmani AAL. Seiring tugasnya itu, prestasi Rasnah tambah moncer. Bahkan, dia menambah kemahirannya di bidang atletik, yakni di nomor lempar cakram dan lempar lembing. Bukan hanya itu. Dia juga menekuni tenis lapangan serta anggar.

“Saya memang tidak bisa diam. Karena itu, waktu saya di luar tugas kantor, ya di lapangan atau di kolam renang,” paparnya.

Berbagai destinasi renang laut dan menyelam di wilayah Indonesia Timur telah dia jelajahi. Dia mengaku paling terkesan ketika mengikuti survei lokasi selam eksotis dan menantang di Gili Labek, Sumenep. Salah satu kepulauan terluar Jatim itu harus ditempuh empat jam dengan menggunakan perahu karet.

“Ketika itu saya orientasi medan sebelum pejabat-pejabat menyelam di lokasi tersebut. Medannya benar-benar ekstrem dan banyak bulu babi beracun. Karena itu, tidak kami rekomendasi untuk diselami,” kenang Rasnah.

Jika Rasnah diapresiasi sebagai perenang laut yang belum tertandingi, penerjun payung Kowal pertama masih dipegang Kapten Laut Titin Sudarsih. Kepala Urusan Redaksi Sekretariat Umum Mabes TNI-AL itu masih hebat di udara meski usianya sudah menjelang 49 tahun. Prajurit perempuan kelahiran Magetan, 1 Agustus 1966, tersebut merupakan siswa pertama Kowal yang mengikuti kursus terjun payung bersama pasukan Batalyon Intai Amfibi (Taifib) di Komando Latih Korps Marinir.

“Kesempatan itu datang setelah saya dua tahun masuk tentara pada 1989,” tutur Titin kamis (16/4). Sejak 24 tahun silam hidupnya akrab dengan ketinggian, altimeter, dan parasut. Berbagai event ekshibisi dan kejuaraan terjun payung diikuti sampai olimpiade militer di Rio de Janeiro, Brasil, 2011. Dia tampil bersama empat penerjun wanita TNI lainnya. Yakni, seorang anggota Kowad (Korps Wanita Angkatan Darat) dari Kopassus TNI-AD dan tiga Wara (Wanita TNI Angkatan Udara).

Sebagai satu di antara dua penerjun dari Kowal yang masih aktif (satunya lagi penerjun Kowal Lettu Laut Boedi Setianingsih, pengasuh taruni AAL), Titin selalu menjadi andalan TNI-AL dalam setiap kegiatan. Termasuk penerjunan menantang saat perhelatan Sail Raja Ampat, Agustus 2014. Angin kencang membuat pendaratan ke geladak KRI Surabaya yang berlayar di seberang plaza Pantai Waisai Torang Cinta terasa sport jantung.

“Tapi, alhamdulillah, hal tidak diinginkan (gagal mendarat tepat) tidak sampai terjadi,” ujar Kowal yang tinggal di Bogor itu.

Sering berlatih dan terjun bareng prajurit Yontaifib membuat Titin sering disangka Kowal di satuan elite. Tentara baret ungu itu merupakan salah satu pasukan khusus TNI-AL selain personel Satuan Komando Pasukan Katak dan Detasemen Jala Mangkara.

Hampir seluruh pengabdiannya dicurahkan sebagai penerjun. Selama itu pula dia telah mengantongi lebih dari 682 kali terjun. Satu di antara penerjunan tersebut sempat nyaris mengancam nyawanya. Sebab, payung utama gagal mengembang sempurna. Untung, dia bisa segera membuka parasut cadangan.

“Yang saya catat dalam logbook itu hanya terjun yang baik-baik saja. Kalau ditotal dengan yang jelek-jelek bisa dua kali lipat lebih jumlahnya,” jelas Kowal yang tampil dalam PON XIII/1993 dan PON XVII/2012 itu.

Satu lagi Kowal yang mendapat apresiasi dari KSAL Laksamana TNI Ade Supandi. Dia adalah Sersan Mayor (Serma) Susmarlini. Bintara Urusan Tata Usaha dalam Rumah Sakit Marinir Ewa Pangalila, Gunungsari, Surabaya, itu satu-satunya Kowal yang berkesempatan memamerkan kelihaiannya mengemudikan kendaraan tempur amfibi LVT saat HUT Ke-69 Korps Marinir di Bumi Marinir, Karangpilang, 15 November 2014.

“Saya tidak tahu mengapa yang ditunjuk saya. Ketika itu ada sebelas nomine Kowal yang diikutkan kursus mengemudi ranpur di Resimen Kavaleri Pasukan Marinir,” ungkap Susmarlini.

Kowal asisten paramedis rumah sakit di bawah Pangkalan Marinir (Lanmar) Surabaya itu paling muda di antara lima srikandi laut yang menerima penghargaan dari KSAL. Sukses perempuan kelahiran Sumenep, 9 Juni 1980, tersebut nyetir tank belasan ton berbuah apresiasi. Susmarlini dinobatkan sebagai warga kehormatan Resimen Kavaleri Marinir pada 15 Januari 2015. Atas penghargaan itu, ibu dua anak tersebut berhak memakai brevet kavaleri Korps Marinir.

Bagi Susmarlini, komando utama yang dahulu bernama KKO (Korps Komando Operasi) itu sudah mendarah daging dalam dirinya. Sejak pendidikan calon bintara XIX pada 2000, perempuan yang hobi lari dan voli itu tetap setia bertugas di Rumkitalmar Gunungsari. (Suryo Eko Prasetyo/Surabaya/bersambung/c10/ari)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys