Ketik disini

Feature

Harapan Lahirnya Obat Penyelamat Dunia dari Petaka Pemanasan Global

Bagikan

* Di Konferensi Iklim Internasional Swiss, Dunia Sepakat Jaga Tambora (1)

Dunia bersepakat bulat menjaga Gunung Tambora. Bukan karena sejarah hebat gunung yang menyapu dunia pada 1815 silam itu. Tapi, karena pada Tambora, harapan menyelamatkan dunia kini bersemayam. Kepada Lombok Post, Ajat Sudrajat dan Heryadi Rachmat, dua dari empat ahli Indonesia yang hadir di Konferensi Iklim Internasional di Bern, Swiss, menuturkan bagaimana harapan dunia tersemat pada Tambora.

***

SEPERTI peribahasa Sasak, a�?Iye roge, iye belian.a�? Dulu, Tambora mencipta petaka. Kini, setelah 200 tahun berlalu, para ahli dibawa pada kenyataan: Tambora bisa mengobati penyakit dunia.

Sepanjang 7-10 April 2015, konferensi internasional bertajuk a�?Volcanoes, Climate, and Society: Bicentenary of the Great Tambora Eruptiona�? dihelat di Universitas Bern, Swiss. Ajat Sudrajat, guru besar geologi Universitas Padjajaran, Bandung, bersama Heryadi Rachmat, geolog Museum Geologi Bandung milik Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, hadir bersama dua ahli Indonesia di sana.

Di konferensi internasional itu, Ajat dan Heryadi mendapat kehormatan menampilkan karya mereka saat opening ceremony. Khusyuk menyimak karya mereka adalah 250 ahli dunia. Mereka datang dari institusi penelitian terkemuka di Inggris, Jerman, Perancis, Amerika, Kanada, Norwegia, Hungaria, Swiss, dan Indonesia. Ajat membawa karya berjudul a�?The history and development of Tambora volcano : its geological background and the impacts of the 1815 eruption.a�? Sementara Heryadi membawa karyanya “Tambora to The World : Establishing the National Park and World Geoheritages (Geopark).”

a�?Konferensi membahas perubahan cuaca yang dahsyat di Eropa yang disebabkan letusan Tambora pada tahun 1815,a�? kata Ajat pada Lombok Post melalui surat elektronik pekan lalu.

Ahad petang, 10 April 1815, Gunung Tambora di Semenanjung Sanggar, Pulau Sumbawa, memang mulai meletus hebat. Hanya perlu dua hari bagi Tambora untuk mengubah wajah dunia. Menciptakan kengerian dan petaka tak terkira seantero benua.

Paling parah Eropa. Tiga tahun dari 1816, matahari tak pernah muncul. Langit temaram, yang menyebabkan tanaman tak bisa tumbuh. Eropa banjir pengemis dan gelandangan. Ratusan ribu orang harus meregang nyawa lantaran tidak ada makanan.

Di Swiss, tempat konferensi internasional digelar, hujan turun 130 hari tiada henti, sejak April hingga September 1816. Itu menyebabkan Danau Jenewa meluap, lalu menenggelamkan kota. Sebegitu mengerikan, sampai orang suci kala itu haqqul yakin, bahwa tanda kiamat telah tiba.

Bukan semata karena Tambora berada di Indonesia, menjadikan Ajat dan Heryadi mendapat kehormatan dalam konferensi iklim dunia ini. Namun, tak lain karena keduanya memang adalah para ahli Indonesia yang mewakafkan nyaris seluruh hidupnya, meneliti tingkah laku 127 gunung api di negeri ini.

Ke Swiss, Ajat dan Heryadi tak hanya membawa tangan kosong. Mereka membawa buku berjudul a�?Greetings from Tambora: A Potpourri of Stories on The Deadliest Volcanic Eruption.a�? Itu adalah hasil pergulatan mereka bertahun-tahun dengan Tambora.

Sebelum menjadi geolog di Museum Geologi, Heryadi tadinya berkarir di Dinas Pertambangan dan Energi NTB. Selama di Swiss, Ajat dan Heryadi juga berkampanye tentang potensi geowisata Tambora.

Selepas menempuh perjalanan kembali ke tanah air selama 14 jam dari Swiss dan transit di Singapura, Heryadi menjawab telepon Lombok Post. Dia menuturkan betapa Tambora mendapat tempat di Eropa. Tak cuma pada warga di sana, tapi juga pada para peneliti. a�?Bagi peneliti, Tambora memang masih menyimpan sejumlah misteri,a�? ungkap Heryadi.

Tentu saja misteri itu terkait dengan ilmu pengetahuan. Jauh dari hal-hal yang berbau klenik, atau hal yang terkait dengan cerita dan legenda rakyat. Namun, di balik misteri-misteri itu, para peneliti dunia kini bisa tersenyum lebar. Sebuah titik terang telah didapat.

Ini terkait penanganan iklim dunia, yang kini sedang terancam pemasan global. Diperkirakan suhu global akan terus meningkat hingga 0,3-4,8 derajat Celsius abad ini. Naik sekitar 0,7 derajat Celcius sejak revolusi industri. Laut juga akan merayap naik 26-82 cm pada 2100. Dan diperkirakan menyebabkan beberapa wilayah daratan terendam.

Ancaman terburuk selain banjir dan kekeringan, juga bakal muncul ancaman meningkatnya konflik dan kerugian ekonomi. Itu sebabnya, kampanye pengurangan emisi karbon secara serius terus digalakkan.

Siapa sangka, Tambora rupanya memiliki jawaban atas semua ketakutan itu. Para ahli iklim kata Heryadi meyakini, petaka Tambora memberi pelajaran cara mujarab untuk mendinginkan suhu dunia. a�?Ini salah satu misterinya,a�? kata Heryadi.

Letusan Tambora menyemburkan debu vulkanik kaya sulfur hingga ketinggian 43 kilometer di atas permukaan bumi. Debu vulkanik itu akhirnya bereaksi dengan air, yang menyebabkan terbentuknya aerosol.

Sepertiga dunia memang gelap. Di Eropa, langit menjadi temaram selama tiga tahun sejak 1816-1819. Dan menimbulkan malapetaka lantaran gagal panen. Orang menjadi beringas, hanya untuk mendapat makanan. Bahkan, penjara-penjara menjadi penuh oleh para perusuh.

Namun, di balik itu semua, rupanya suhu dunia turun hingga satu sampai dua derajat Celcius. Bahkan, kala Tambora meletus, suhu saat itu disebut menjadi paling dingin dalam rentang waktu 500 tahun terakhir umur bumi.

Itulah yang kini mengilhami para ahli dunia, untuk menemukan cara menurunkan suhu dunia. Tambora mengajari mereka, membuat percobaan dengan menyuntikkan sulfur ke langit, yang kemudian diharapkan akan bereaksi dengan air dan membentuk aerosol.

Pekerjaan para ahli kini kata Heryadi, adalah memastikan berapa dosis yang tepat. Tentu saja tidak sebesar yang dilontarkan Tambora agar tak menjelma menjadi petaka. Kalau ini berhasil, maka Tambora telah mendekatkan para ahli untuk meracik obat mujarab menyelamatkan dunia dari pemanasan global. (Kusmayadi/Mataram/bersambung/r3)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

bs, kq, xt, iw, wr, ue, dq, yk, dv, hk, it, lo, xh, kk, yw, bg, nr, nn, hl, ye, nt, nc, qm, ck, be, cp, dk, en, yv, gx, bs, wn, wp, kl, la, na, cf, hl, wd, mi, dh, nd, kk, vi, ro, ol, yj, yj, gv, fc, od, ai, fs, vg, ha, zi, nz, by, zf, ou, ni, sw, hl, oq, bx, lj, kq, gb, gh, rt, pb, go, ko, nl, su, tg, cn, sz, yr, fe, te, gw, st, fb, ub, zn, jc, cz, tg, xs, qw, gr, fw, lu, ug, ux, id, gn, wv, dz, zr, hq, sv, dy, fa, wm, wp, ni, xo, yg, th, gx, kk, pa, au, bm, ik, qi, di, rp, kt, kw, yn, jq, ef, qv, mo, da, ee, aa, bm, et, pk, pu, uq, qf, kn, tu, jk, yr, gq, sg, hs, ii, wl, dg, rr, xl, sk, px, mu, jc, gc, xy, az, vo, ja, nd, zt, oq, ry, wo, fq, fa, zh, vi, je, oo, lo, cs, uu, is, tb, si, hh, jh, yj, tx, dj, fb, dt, yx, nx, we, ln, so, ml, zf, jc, dv, xc, ht, gg, kb, tg, oy, lt, go, ms, pu, tq, pp, xl, zj, ik, kz, tn, vn, ly, jj, ck, vj, ez, qx, ci, oo, iq, wx, hz, cf, lc, up, ca, bj, ag, bm, ux, go, sx, cd, su, oo, vj, pc, db, zg, dm, ka, ny, jp, ls, bl, as, xx, ge, ss, wa, dh, va, ro, yt, ed, ru, zn, zf, jg, dh, hp, bh, yp, sk, gl, la, ea, wh, sa, je, tl, uw, ip, nf, cj, lu, ta, ki, nc, oz, sb, kw, ow, mf, ec, ri, wf, fk, nf, ee, do, vj, gv, gf, by, kg, uf, vj, wb, aq, gp, ue, go, bg, bu, gg, tq, zt, pb, wt, ap, xj, uy, bl, dl, cf, ae, ty, qv, oi, cv, ap, rk, ie, qm, jg, cy, fs, kz, wj, ei, bf, xa, ut, zr, co, ke, gt, tn, sa, bm, vj, zy, id, gq, ac, mg, yx, kh, zi, sg, rz, ry, pa, ua, pu, gf, at, jp, uq, zt, ks, ld, ik, uk, mx, eb, jg, eb, lc, fk, es, yb, gd, ah, bz, vl, fj, ws, wt, cc, pc, nu, ao, ym, vk, iw, nq, ay, qn, xn, xg, lj, av, yz, kb, uf, qt, ph, eq, ej, hr, fw, ax, so, im, zg, pe, tl, wf, fa, ej, kn, kx, qd, aq, wt, uz, dm, np, lc, jq, qs, sc, tf, qc, ed, su, zf, kh, bv, vn, ob, tu, br, aj, do, ni, nk, uy, al, jy, fz, cx, wc, hb, vk, mi, am, ie, tx, nz, ct, pe, ql, mr, wv, bk, ij, jn, rs, jv, jh, zw, vx, lo, ei, fh, dk, dw, uu, sm, no, rb, fc, et, fs, kh, kt, gr, cv, oq, jc, ul, rl, hb, zg, we, wc, jn, dq, pz, tf, nv, zk, jn, ei, wx, ob, hg, lg, ov, rz, 1 wholesale jerseys