Ketik disini

Metropolis

Ssst…Ada Bos Narkoba di Lapas Mataram

Bagikan

* Peredaran Narkoba di Dalam Lapas Diduga Libatkan Jaringan

 

MATARAM – Ngeri-ngeri sedap. Itulah gambaran peredaran narkoba di balik jeruji besi. Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi NTB baru saja membongkar praktik peredaran narkoba di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Mataram.

Dari lapas itu, petugas gabungan BNN dan Polda NTB menyita sejumlah perangkat yang digunakan mengonsumsi narkoba. Di antaranya, bong dan ratusan plastik klip yang digunakan untuk mengemas narkoba jenis sabu. ”Terbukti ada konsumsi narkoba di Lapas Mataram, karena ada‎​ bong,” kata Kepala BNN NTB Kombespol Mufti Djusnir dalam konferensi pers di kantornya, Senin (27/4) kemarin.

Ia menegaskan, bong dan plastik klip bening itu menandakan peredaran narkoba secara nyata berlangsung di lapas. Selain itu, laporan masyarakat yang diterima BNN selama ini, ternyata benar. ”Ketika kami menyisir menggunakan anjing pelacak, barang-barang ini sudah dibuang ke luar sel,” akunya.

Mufti menegaskan, peredaran narkoba di dalam lapas melibatkan jaringan. Dugaan itu diperkuat hasil penyelidikan di lapangan. Namun, Mufti belum bisa memastikan ada oknum pegawai lapas yang terlibat. ”Kami belum berani pastikan (oknum petugas lapas). Yang jelas, bos-nya ada‎​ di dalam lapas,” tegas dia.

Saat ini, kata dia, pihaknya sedang melakukan pengembangan. Salah satu yang dibidik adalah proses transaksi. Dari siapa ke siapa barang haram ini bisa tembus ke dalam lapas. ”Kita kejar terus dan data sudah punya. Jaringan peredaran sedang kami selidiki,” ujarnya.

Disinggung sekali lagi mengenai keterlibatan orang dalam lapas, Mufti lagi-lagi tidak menyebutkan. Ia hanya mengungkapkan ada upaya memperlambat proses penggerebekan di lapas.

Ia mengaku, ketika petugas melakukan operasi di dalam lapas, pihaknya sedikit mendapat hambatan. Petugas gabungan itu belum diizinkan masuk sebelum kepala lapas tiba di lokasi. ”Pintu baru dibuka setelah Kalapas datang. Sekitar 20 menit anggota menunggu di luar lapas,” terangnya.

Padahal, sambung dia, operasi itu sudah dilengkapi dengan surat tugas. Bahkan, anggota juga mengantongi surat penetapan dari PN untuk melakukan penggeledahan.

”Jadi, kami telat. Sehingga kami tidak berhasil mengamankan pemiliknya. Karena barang bukti itu ditemukan semuanya di luar. Barang ini tidak bertuan. Tapi semuanya ada‎​ di lapas,” tegasnya lagi.

Penggerebekan sendiri berawal dari laporan masyarakat. Dari hasil penyelidikkan, pihak BNN kembali mendapatkan informasi yang lebih mengerucut ke permasalahan tersebut. “Dari info itu, diduga kuat di dalam lapas telah beredar narkotika hingga pemakaiannya. Bahkan ada transaksi jual beli,” ungkap Mufti.

Dalam penggerebekan yang berlangsung Minggu malam lalu, BNN dibantu anggota Polda NTB serta TNI. Kabid Pemberantasan BNN beserta tim gabungan mendatangi lapas setelah berkoordinasi dengan pihak Lapas Mataram. “Kita bentuk tim gabungan, dari Polda NTB seperti Satsatwa, Ditsabhara Polda NTB dan Brimobda. Ada juga dari TNI. Di antaranya POM AU, POM AL, dan POM AD untuk memback up penggeledahan di Lapas Mataram,” lanjut Mufti.

Disaksikan pihak Lapas Mataram, penggeledahan dilakukan di tengah ratusan para pelaku kejahatan tersebut. Razia itu juga dihujani teriakan para napi. Bahkan sesekali petugas gabungan mendapat lemparan benda dari dalam sel.

Namun mereka terus menjalankan tugasnya. Mereka memasuki tiap sel dan menggeledah dari satu blok ke blok lain. Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Di bantu dengan penciuman tajam anjing pelacak, petugas menemukan banyak sekali alat hisap dan ratusan plastik klip yang diduga digunakan sebagai pembungkus barang haram tersebut.

Benda-benda itu ditemukan anjing pelacak setelah para tahanan sempat membuangnya. “Diduga para napi memanfaatkan kesempatan saat kami menunggu kepala lapas datang,” ujar Mufti.

“Yang jelas barang tersebut tidak mungkin muncul sendiri, pasti ada yang membawanya. Kecuali ada tuyul atau barangnya muncul tiba-tiba, itu beda cerita,” tandasnya. (cr-van/jlo/r8/r3)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *