Ketik disini

Kriminal

Pemilik Toko Jadi Tersangka

Bagikan

MATARAM – Penanganan kasus dugaan penyimpangan Bantuan Stimulus Perumahan Swadaya (BSPS) tahun 2013 untuk Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara (KLU)memasuki babak baru. Kejaksaan Negeri (Kejari) akhirnya menetapkan satu tersangka.

“Setelah penyidikan selama dua bulan, kita sudah ekspose perkara ini. Hasilnya, baru ditetapkan seorang tersangka,” kata Kepala Seksi (Kasi) Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Mataram, Herya Sakti di ruang kerjanya.

Tersangka berinisial RS selaku pemilik toko material bangunan di Desa Akar-Akar. Toko milik RS bertanggung jawab atas penyaluran material bantuan kepada 667 warga sebagai penerima manfaat di Desa Senaru dan Desa Sukadana.

Toko bersangkutan menerima transfer dana mencapai Rp 5 miliar. Semestinya, masing-masing penerima bantuan mendapat bahan material senilai Rp 7,5 juta. Namun, berdasarkan fakta lapangan, bantuan yang disalurkan pihak toko kepada warga tidak sebesar nominal tersebut.

“Penyimpangan pertama, pemilik toko tidak menyalurkan bantuan sesuai dana yang diterima. Jadi, ada yang dipotong,” ungkap Sakti.

Mekanisme penyaluran bantuan juga tidak mengacu pada ketentuan Permenpera No 6 Tahun 2013 tentang Pedoman Pelaksanaan BSPS. Berdasarkan aturan tersebut, penerima bantuan mestinya mengajukan daftar material yang mereka butuhkan kepada pemilik toko. Namun, dalam pelaksanaannya, penerima manfaat tidak mengajukan usulan. Pihak toko tiba-tiba mengirimkan material meski tidak sesuai kebutuhan.

Penyaluran material itu juga tidak disertai nota yang jelas. “Jadi, jelas ada mekanisme yang dilanggar dalam penyaluran bantuan tersebut,” lanjut Sakti.

Selama dua bulan penyidikan kasus ini, Kejari sendiri sudah memanggil sedikitnya 667 orang saksi. Sebagian besar adalah warga penerima manfaat. Sementara, jumlah pemilik toko yang dipanggil totalnya enam orang.

“Sebenarnya, ada enam pemilik toko yang kita panggil. Namun, yang paling besar indikasi penyimpangannya adalah toko milik RS ini. Jadi, kita tetapkan yang bersangkutan terlebih dahulu sebagai tersangka,” jelas Sakti.

Selanjutnya, kejaksaan masih terus mendalami dugaan penyimpangan dalam penyaluran BSPS di KLU. Dalam waktu dekat, RS akan dipanggil lagi untuk pemeriksaan sebagai tersangka.

“Apakah nanti ada tersangka baru atau tidak, kita tunggu saja perkembangannya. Yang jelas, sekarang alat bukti yang kita peroleh baru mengindikasikan keterlibatan RS,” tandas Sakti. (uki/r8)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *