Ketik disini

Giri Menang

Salah Tangkap, Korban Lapor Komnas HAM

Bagikan

GIRI MENANG – Mahsum, warga Desa Tempos Kecamatan Gerung, Lombok Barat (Lobar) masih mempermasalahkan dirinya yang menjadi korban salah tangkap. Pria 47 tahun ini ditangkap tim buser Polres Lobar dengan tuduhan terlibat perampokan 2013 lalu.

Buntut dari penangkapan itu, Mahsum melaporkan lima oknum polisi yang bertugas di Satreskrim Polres Lobar. Laporan itu disampaikan korban ke Komnas HAM.

a�?Saya dituduh terlibat perampokan. Tapi, tuduhan itu tidak terbukti,a�? kata Mahsum kepada wartawan di Gerung, kemarin (6/5).

Mahsum menceritakan, penangkapan dirinya berawal dari kasus perampokan yang menimpa Gales, warga Dusun Tanak Putik, Giri Sasak, Lobar. Kala itu, korban perampokan melaporkan kejadian ke Polres.

Laporan tersebut ditindaklanjut dengan memburu kawanan rampok. Hasilnya, polisi menangkap beberapa orang pelaku. Sedangkan kawanan lain masih dilakukan pengejaran.

a�?Korban perampokan itu Gales. Dia lapor ke Polres, lalu sebagian pelaku ditangkap,a�? aku dia.

Entah petunjuk apa yang didapat polisi, nama Mahsum tiba-tiba masuk dalam daftar pengejaran buser. Polisi pun mencari keberadaan pria yang sehari-hari bekerja sebagai sopir dump truk itu.

a�?Saat penangkapan pelaku perempokan, ia sempat menyaksikan. Kebetulan lokasinya dekat kampungnya,a�? aku dia.

Pascapenangkapan pelaku perempokan, Mahsum memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Keesokan harinya, dia berangkat ke Bali untuk membawa barang.

Sepulang dari Bali, saat dia berada di kampungnya, polisi menangkapnya. Ia ditangkap persis di Jalan Buntage Giri Sasak sekitar pukul 16.00 Wita.

a�?Saya tidak tahu, kenapa saya ditangkap,a�? aku dia.

Mahsun masih ingat pertanyaan oknum buser yang menangkapnya. Saat itu, salah seorang memastikan kebenaran namanya Mahsum.

Pertanyaan itu lalu dijawabnya. Tanpa pikir panjang, lima orang oknum buser itu mengangkut paksa Mahsum menggunakan sepeda motor.

a�?Saya sempat bertanya, apa salah saya?. Ternyata, saya dituduh ngerampok,a�? ceritanya.

Usai ditangkap, sambung dia, dirinya dibawa ke jalan Asrama Haji, Mapak, Mataram. Sementara, handphone yang biasa dipakai disita dan diperiksa.

a�?Saya ditanya sambil dipukul bagian telinga. Tangan saya diborgol dan muka ditutup. Di mobil itu saya dipukul,a�? bebernya.

Kekerasan fisik yang dialaminya belum berakhir, lima oknum buser itu kembali menghajarnya di Pantai Ampenan. Bahkan, aku Mahsum, dirinya sempat disiksa menggunakan strum.

a�?Saya disiksa hingga tak berdaya. Karena saya dipaksa untuk ngaku. Mereka juga ancam hanyutkan saya ke kali, jika tidak mengaku,a�? ungkapnya.

Setelah disiksa, lanjut dia, dirinya dibawa dan ditahan. Ia ditahan selama 14 hari. Selama penahanan itu polisi tidak menemukan bukti keterlibatannya dalam kasus perempokan di rumah Gales itu.

a�?Akhirnya saya dibebaskan,a�? aku dia.

Sebelum dilepas, kata dia, oknum buser sempat mencari barang bukti ke rumah. Mereka meggeledah kamar dan isi rumah untuk mencari senjata api.

a�?Saya dicurigai memiliki pistol, tapi mereka tidak temukan. Karena memang saya tidak punya pistol,a�? katanya.

Kekerasan fisik yang dialaminya berdampak pada kesehatan. Pengwlihatannya terganggu lantaran dipukul pada bagian telinga.

a�?Saya minta keadilan karena dirugikan, terutama kesehatan,a�? aku dua.

Mahsum mengaku, dirinya sudah empat kali melaporkan peristiwa yang dialami ke Komnas HAM. Terakhir, dirinya mengirim surat 3 Desember 2014.

a�?Yang saya laporkan ini Pak Gales dan lima oknum polisi,a�? jelasnya.

Surat itu mendapat balasan dari Komnas HAM. Surat itu berisi saran kepada Mahsum untuk melaporkan oknum polisi dan Gales ke Polres.

a�?Sudah saya lapor tapi belum adaa�Z kejelasan,a�? beber dia.

Selain bersurat kepada Mahsum, Komnas HAM juga mengirim surat kepada Kapolda NTB. Surat dengan nomor 1.240/K/PMT/IV/2015 dikirim 2 April lalu.

Surat yang ditandatangani Sub Komisi Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM DR Otto Nur Abdullah berisi klarifikasi Mahsum atas tanggapan Polda NTB.

Berdasarkan surat itu, Polda menyangkal oknum polisi melakukan penganiayaan saat penangkapan Mahsum. Polda berdalih oknum yang menyiksa Mahsum itu diduga anggota Pamswakarsa.

Otto menjelaskan, pengadu (Mahsum) menyangkal semua alasan Polda, apalagi menyebutkan orang yang menganiaya Mahsum adalah Pamswakarsa.

a�?Pengadu mengenali waja salah seorang oknum polisi,a�? katanya dalam surat balasan ke Polda NTB.

Pengadu mengenali salah satu oknum polisi ketika melihat foto dan nama yang terpajang di ruangan Kasatreskrim Polres Lobar. Kala itu, pengadu sempat meminta izin kepada Kasat untuk melihat kembali dan memastikan foto serta nama anggota itu. Namun, permintaannya tidak mendapat restu dari Kasat.

a�?Alasannya, itu foto anggota baru. Pengadu merasa janggal, jika pamswakarsa yang menyiksanya, kenapa foto itu sampai ada di ruang Kasat,a�? bebernya.

Sementara, Kasatreskrim Polres Lobar AKP Sidik Priamursita yang dikonfirmasi mengenai pengaduan ini enggan mengomentari. Namun, ia mengaku jika anggota Polres Lobar memang benar diadukan.

a�?Kami selaku terlapor belum bisa berkomentar, karena khawatir dianggap tidak objektif,a�? katanya singkat. (jlo/r6)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys