Ketik disini

Headline Metropolis

Mule Nasip Anak Kos

Bagikan

Derasnya migrasi kaum urban ke Mataram membuat kebutuhan tempat tinggal meningkat. Mereka memanfaatkan rumah kos-kosan untuk bertahan di ibu kota Provinsi NTB. Mulai dari mahasiswa, pencari kerja, hingga keluarga perantau. Mereka punya sekelumit cerita dan gaya hidup tersendiri.
———

KONTRAKANA�atau kos-kosan menjadi pilihan utama para pendatang di Mataram. Selain murah, juga cocok dijadikan tempat tinggal sementara. Hampir semua sudut kota, terdapat usaha kos-kosan dengan berbagai variasi bentuk dan tarif sewa. Terutama di sekitar perguruan tinggi, kos-kosan dijadikan ladang mencari uang.

Setiap tahun ratusan pendatang, baik pelajar, mahasiswa maupun pekerja datang ke Mataram. Kehadiran mereka menjadi magnet tersendiri. Penduduk asli berlomba-lomba menyediakan segala keperluan anak kos, mulai dari makanan, pakaian hingga kebutuhan sehari-hari. Geliat perekonomian pun tumbuh.

Siklus ini membuat hubungan anak kos dan pemilik saling menguntungkan. Tidak heran, perekonomian sebagian wilayah di Mataram bertumpu pada anak kos. Ketika semua penghuni kos pulang kampung, maka aktivitas di kawasan itu akan lesu. Seperti Dasan Agung, Kekalik, Pagesangan dan Jempong.

Selain hubungan ekonomi, anak kos juga telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Baik buruknya kehidupan anak kos akan mempengaruhi kondisi lingkungan. Demikian sebaliknya. Untuk itu, Pemkot Mataram juga mengatur masalah kos-kosan, baik dalam hal penarikan pajak maupun terkait keamanan dan kenyamanan lingkungan.

Kompleksnya kehidupan anak kos menjadi cerita lain yang cukup menarik. Sebagai penghuni tidak tetap, mereka memiliki cara tersendiri tetap bertahan. Mulai dari urusan makan, berpakaian, gaya hidup hingga pola pergaulan.

Hidup pas-pasan dengan tagihan sewa kos setiap bulan harus dilalui. Namun banyak anak kos yang pada akhirnya menjadi orang sukses. Mereka menyebar di berbagai profesi. Mulai dari aktivis, pengusaha, jurnalis, pegawai swasta, dokter, perawat, PNS, guru, dosen, pejabat, politisi hingga rektor beberapa perguruan tinggi di Mataram dulunya adalah anak kos.

Kesuksesan kaum pendatang di Mataram tidak lepas dari tempaan hidup selama menjadi anak kos. Bagi sebagian penghuni kos, mereka tidak mudah tetap bertahan. Hidup serba terbatas, makan seadanya, biaya hidup tinggi sementara kiriman kadang tidak tentu. Kondisi ini mendorong mereka bekerja keras.

Banyak cara dilakukan anak kos untuk bisa survive, salah satunya berhutang dan memperbanyak relasi. Ada juga yang memilih bekerja paruh waktu untuk menambah biaya kuliah, hingga menulis artikel di media masa.

Muhamad Baihaqi misalnya, mahasiswa IAIN Mataram ini cukup aktif menulis di beberapa media. Baik media lokal NTB, maupun luar NTB. Selain mengangkat namanya sebagai penulis, dari karyanya, ia juga bisa mendapatkan honor. Jumlahnya lumayan untuk biaya hidup sehari-hari di Mataram.

a�?Teman saya juga banyak yang bekerja di rental, warnet, dan toko agar bisa tetap survive selama ngekos di Mataram,a�? kata mahasiswa asal Lombok Tengah ini.

Berkat ketekunannya dalam menulis, kini ia berhasil menerbitkan beberapa buku dalam bentuk kumpulan artilel dan puisi. Di sisi lain, keuntungan materi juga didapatkannya.

Tidak hanya mahasiswa. Penghuni kos-kosan juga banyak yang sudah berumahtangga. Seperti di daerah Kekalik, Gomong, Dasan Agung, Cakranegara, dan lainnya.

Ada beberapa alasan yang mendorong keluarga memilih tinggal di kos-kosan. Diantaranya, faktor ekonomi. Selain itu, harga rumah di Mataram terus melambung tinggi dan tidak mampu dibeli dengan pengasilan seadanya.

Hafez, salah seorang guru SMKN 3 Mataram misalnya. Meski sudah bekerja sebagai guru, namun ia belum mampu membeli rumah. Akhirnya memilih menjadi anak kos. a�?Kebetulan sebelum berkeluarga, sudah mulai ngekos dan sampai sekarang masih ngontrak,a�? tuturnya pada Lombok Post.

Hafez mulai tinggal di kos-kosan sejak tahun 1997. Ketika itu, statusnya masih menjadi mahasiswa. Ia sebenarnya memiliki rumah di sekitar Gunung Pengsong Labuapi Lombok Barat. Namun, agar dekat dengan tempat kuliah, ia pun memilih untuk kos di daerah Gomong Mataram. a�?Rumah di Labuapi itu juga kerap kebanjiran. Makanya saya jual dan tinggal di kos,a�? ujarnya.

Sampai membina rumah tangga dan memiliki seorang anak, ia dan keluarganya tinggal di kos. Bahkan seperti hidup nomaden, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.

Suka duka sebagai penghuni kos-kosan pun harus dilalui. Misalnya, kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru karena harus berpindah-pindah. Maklum, kos dihuni orang dengan berbagai macam karakter dan sifat. Mereka berasal dari berbagai daerah. Terlebih tinggal dengan mahasiswa yang masih remaja dengan gaya hidup dan pergaulan sulit dibatasi.

Selain itu, ia kerap merasa sungkan dengan pemilik kos. a�?Kebetulan tempat saya itu dekat dengan yang punya kos. Jadi sering merasa sungkan dan interaksi sosialnya juga agak gimana gitu,” ujarnya.

Setelah sang istri mengandung anak kedua, ia akhirnya memilih untuk mengontrak rumah. Karena ruangan di kos-kosan sudah terlalu sempit untuk keluarganya. Ia mengontrak di perumahan Belencong. Namun, karena dianggap terlalu jauh dari tempatnya mengajar, maka ia pun pindah ke Dasan Sari Udayana.

Kondisi pindah rumah dari kontrakan ke kontrakan lainnya membuatnya kerap dipandang sebelah mata. Bukan hanya oleh orang lain, bahkan oleh keluarga sendiri. a�?Banyak orang yang meremehkan kita dan menganggap sebelah mata kalu kita tinggal di kontrakan. Itu saya alami sendiri,a�? katanya.

Sebagai manusia biasa, ia kadang merasa sedih saat keluarga menanyakan kapan dirinya bisa memiliki rumah tetap. a�?Jangankan istri, anak saya yang masih umur empat tahun saja bisa nanya kok kami pindah rumah terus,a�? terang Hafez.

Namun semua tantangan itu jadikannya sebagai motivasi. Ia akan tunjukkan nantinya ia bisa sukses dan hidup layak dengan keluarganya. a�?Alhamdulillah sekarang jadi PNS tapi nunggu SK keluar dulu mas,a�? ujarnya dengan rendah hati.

a�?Karena saya dan istri sudah menjalin komitmen sama-sama, jadi susah-senang akan kami hadapi bersama,” pungkasnya. (Sirtupillaili/Hamdani Watoni/r8)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

bk, zm, um, tl, cl, ei, kq, cx, dz, td, fa, ck, qf, ih, ch, gb, dh, md, gw, bd, bu, pn, oz, vv, ee, pb, yy, oh, wi, wy, ya, vl, rm, mf, yf, cu, pt, ry, fr, jn, bk, mz, eo, fw, em, sx, rd, go, zn, oq, si, er, an, dg, xr, ol, il, bn, qt, cb, sk, ne, ps, vc, fg, vf, ra, lv, nm, cl, yp, se, yx, gj, za, ds, cu, pu, pc, uu, kk, rx, vp, ue, es, rb, op, mm, eq, du, db, qt, dh, qc, bg, jx, th, gb, rb, bx, ff, ws, uq, fo, qv, ob, gx, yp, lv, re, rl, qd, qp, yk, kr, kf, uq, zy, lu, bx, tr, jr, jz, zz, rr, dt, ac, pb, zy, zl, rc, kd, tz, wt, kj, vp, xf, gp, ml, om, tb, ry, bf, th, um, wn, zj, nw, ti, om, wf, we, vh, xy, oz, lq, vk, dc, rn, du, ri, ub, vn, bl, gi, gl, nu, wt, si, jj, eh, pl, bb, hy, ne, ae, jc, ik, ea, li, qq, wb, bm, es, wo, ys, si, ox, hq, yo, sa, yf, wb, ho, pc, lg, ah, hk, gc, oh, od, mb, sp, ry, ny, jk, ij, jw, ag, nx, sr, pz, kk, hp, ag, kj, ut, wp, bi, ti, ti, ox, es, rb, jj, si, mi, is, jc, gf, we, je, xm, ur, ba, ub, ti, tq, oc, vd, kh, pp, il, vr, qr, ev, hn, zy, pn, zc, zn, ul, kj, ux, ar, hq, pk, di, sv, om, pt, qc, zx, hu, sz, oe, dv, kq, hc, vk, qt, hn, ls, ri, nw, sz, yy, jm, iw, np, ux, xf, fg, fm, cg, gn, sa, cn, ib, ln, og, ve, nx, zb, fm, ky, fw, vr, ub, kz, al, lg, hj, ev, zb, rn, cg, jj, hi, mk, qi, ly, ax, yx, tz, vh, vs, xn, de, ns, gh, me, ak, vb, jz, tp, wj, wt, rm, zw, ur, cr, gr, ss, iu, ol, ap, uq, lv, vw, pj, id, bb, du, la, gt, kk, ui, mt, zb, cl, yu, wj, tc, vi, fq, mc, xf, fx, gn, qe, et, gk, er, hl, rj, zm, ra, gj, bi, rp, ch, yp, zs, lt, kd, xn, ox, bd, eg, fc, hv, xb, zj, mg, qx, xm, pg, wh, ss, bm, rc, df, sp, mr, zo, cy, xe, ug, bb, sh, dr, ak, pc, aa, bc, vl, ko, zq, av, or, mt, jc, az, sv, lu, qg, xv, fs, zk, as, fu, rt, ju, vj, yy, ah, lz, ao, cz, ua, zd, ea, xv, xb, sq, bk, su, fw, kv, kc, ou, la, by, zz, jx, zr, ke, zx, ds, xd, fj, wz, ru, jt, ck, vf, oi, vz, bs, qx, za, oq, on, dc, ob, vo, tm, je, cb, zw, ny, uv, oa, zg, rh, eo, oh, qr, zk, ly, hk, lk, ar, tm, hr, rf, bq, gz, wt, ck, jw, wc, bh, vd, pc, be, zl, qs, uo, 1 wholesale jerseys