Ketik disini

NASIONAL

Empat WNI Lolos Hukuman Mati

Bagikan

JAKARTA – Banyak warga Indonesia (WNI) di luar negeri terancam hukuman mati. Tak sedikit pula yang lolos dari jeratan hukum terberat itu. Seperti empat WNI yang lolos dari ancaman hukuman mati di Malaysia.

Mereka adalah Karni, Sujoko, Sunanto, dan Sudaryono. Keempatnya bebas setelah Hakim Mahkamah Tinggi Taiping, Perak, Jumat lalu memutuskan membebaskan Karni dan kawan-kawan dari ancaman hukuman mati di kasus pembunuhan.

“Saat ini ke empat WNI tersebut dalam proses penyerahan dari polis mahkamah ke polisi penyelidik. Kemudian akan serahkan ke imigrasi,” ujar Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal saat dikonfirmasi, Minggu (17/5).

Sebelumnya, empat warga Lampung itu dituduh melakukan pembunuhan terhadap pencuri yang masuk rumah kongsi mereka pada 23 Juni 2010. Hakim memutuskan untuk melepas namun tidak membebaskan mereka (discharged not amounting to acquittal) pada 22 Mei 2013.
Keputusan tersebut dikarenakan jaksa gagal menghadirkan saksi utama dalam tuduhan pembunuhan pada mereka.

Namun pada Juni 2013, jaksa menuntut ulang atas kesalahan yang sama dengan alasan telah ditemukan saksi utama. Sehingga dilakukan persidangan lanjutan. Setelah melalui beberapa persidangan dengan didampingi pengacara retainer Gooi & Azura, pada 15 Mei 2013, hakim memutuskan untuk melepaskan dan membebaskan (discharged amounting to acquittal) keempat WNI tersebut.

Alasannya, saksi yang diajukan jaksa kurang kuat untuk mendukung dakwaan. Jaksa, kata Iqbal, kemungkinan akan ajukan banding lagi atas putusan terakhir hakim terhadap 4 WNI tersebut. Namun, pemerintah Indonesia tetap berusaha memulangkan ke empatnya ke tanah air.

“Satgas sedang berupaya agar mereka diserahkan langsung ke KBRI untuk selanjutnya dipulangkan,” pungkas Iqbal.

Sementara, proses persidangan Rustawi Tomo Kabul (63), warga Indonesia (WNI) asal Malang yang ditahan otoritas Brunei, terkendala fasilitas penyelidikan. Iqbal mengatakan, otoritas berwenang di Brunei masih terkendala mendalami isi koper Rustawi, yang sementara ini diduga bom ikan dan peluru. Mereka memilih untuk menindaklanjuti permasalahan tersebut dengan memeriksa isi tas ke Singapura.

Keterbatasan itulah yang membuat sidang pertama Rustawi pada 11 Mei lalu tidak memutuskan apapun. “Pihak kepolisian (Brunei) masih mendalami lebih lanjut mengenai konten di koper Rustawi dan hal itu harus dilakukan di Singapura krena belum ada laboratorium yang memadai di Brunei,” ujar Iqbal.

Selain laboratorium tak memadai, Brunei juga melakukan skema khusus menangani hal ini. Ada kerjasama dengan Polri untuk menelisik kasus Rustawi. Rencananya dalam waktu dekat, Kepolisian Brunei akan mengirim personilnya ke Indonesia. “Pihak kepolisian Brunei akan mengirimkan tim ke Malang untuk kajian lebih lanjut bekerjasama dengan Polri,” tutur Iqbal.

Untuk diketahui, dalam kasus Rustawi sebelumnya ada tiga WNI yang ditahan otoritas Brunei. Namun, karena hanya Rustawi yang diketahui membawa benda mencurigakan, maka dua lainnya dibebaaskan. Mereka bertiga ditahan di Brunei saat transit dalaam perjalanan ibadah Umroh.

Salah satu WNI yang diijinkan melakukan perjalanan ke Jeddah, yakni Istri Rustawi, dilaporkan telah selesai Umroh pada 14 Mei lalu. Istri Rustawi sendiri telah berada di Brunei dan melapor kepada KBRI di sana. Perwakilan Indonesia kemudian memfasilitasi bertemu dengaan Rustawi.

Berkaitan dengan proses hukum yang bersangkutan, Iqbal mengatakan akan ada sidang lanjutan pada 25 Mei mendatang. Tim KBRI di Brunei telah melakukan pendampingan penuh terhaadap Rustawi. Bahkan, KBRI sudah menyiapkan pengacara untuk memenangkan perkara Rustawi.

“Sidang selanjutnya direncanakan akan dilaksanakan pada tanggal 25 Mei 2015. Pada persidangan tersebut Saudar. Rustowi akan didampingi pengacara,” pungkasnya. (adn)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *