Ketik disini

Opini

Optimisme Membangun Daerah (1)

Bagikan

* Oleh: Mansur Afifi
(Guru Besar FE Unram dan Ekonom Kementerian Keuangan RI)

Pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan pertama 2015 memberikan sinyal berhati-hati. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat. Sesuai dengan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada hari Selasa (5/5), pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal pertama 2015 adalah sebesar 4,71 persen (yoy). Dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang membukukan angka 5,14 persen, pertumbuhan ekonomi pada tiga bulan pertama tahun ini mengalami penurunan sebesar 0,18 persen.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada tiga bulan pertama tahun 2015 mengalami pertumbuhan yang relatif tinggi sebesar 16,53 persen (yoy). Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan periode triwulan pertama tahun 2014, mencatat pertumbuhan sebesar 6,84 persen. Pertumbuhan ekonomi ini dipicu oleh bertumbuhnya sektor pertambangan dan penggalian yang mencapai 86,78 persen. Namun demikian, sektor pertanian masih menjadi penyumbang terbesar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yaitu sebesar 22,86 persen. Sementara itu, sektor pertambangan dan penggalian hanya berkontribusi sebesar 18,10 persen terhadap PDRB.

Pertumbuhan ekonomi NTB yang tinggi tersebut masih menyisakan persoalan karena kualitas pertumbuhannya belum memuaskan. Jika sektor pertambangan dan penggalian dikeluarkan dalam perhitungan, maka ekonomi NTB pada triwulan pertama 2015 hanya tumbuh sebesar 4,97 persen (yoy). Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada tiga bulan pertama tahun 2014 yang mencapai 6,30 persen (yoy). Ini berarti bahwa pembangunan ekonomi di NTB belum mampu menghadirkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi hanya dinikmati oleh sebagian kelompok masyarakat. Sementara kelompok yang lain tidak dapat menikmati pertumbuhan tersebut.

Namun demikian, angka pertumbuhan yang ditampilkan tersebut masih berupa angka triwulan pertama yang berarti masih tersisa tiga triwulan berikutnya hingga akhir tahun anggaran. Oleh karena itu, pertanyaannya kemudian adalah masih adakah peluangatau optimisme mengejar pertumbuhan yang tinggi dan berkualitas hingga akhir tahun?

Sumber Daya Pembangunan

Rendahnya pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada triwulan pertama setiap tahun salah satunya disebabkan oleh tingkat serapan (realisasi) anggaran pendapatan dan belanja negara dan daerah yang rendah. Seperti diketahui belanja/pengeluaran pemerintah merupakan faktor stimulus bagi pertumbuhan ekonomi. Disaat ekspor menurun dan pertumbuhan konsumsi rumah tangga melambat maka investasi pemerintah merupakan satu-satunya energi utama yang dapat mengakselerasi pertumbuhan. Data historis menunjukkan bahwa belanja infrastruktur pemerintah berkontribusi hingga 45,64 persen terhadap pertumbuhan produk domestik bruto nasional.

Realisasi anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) provinsi NTB pada triwulan pertama 2015 relatif rendah yaitu dibawah target yang telah ditetapkan. Realisasi keuangan dari sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) bahkan kurang dari 10 persen yang berarti dibawah target yang telah ditetapkan. Hal ini berpengaruh terhadap efektivitas penggunaan anggaran untuk mendukung dan membiayai kegiatan pembangunan. Akibatnya, anggaran yang semula dihajatkan sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi tidak mendapatkan momentumnya.

Pada tahun 2015, total pendapatan daerah provinsi dan kabupaten/kota di NTB mencapai angka Rp 14,42 triliun. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp 3,04 triliun merupakan pendapatan daerah provinsi NTB atau sebesar 21,09 persen dari total pendapatan dalam APBD konsolidasi. Dibandingkan dengan tahun 2013, APBD provinsi NTB maupun APBD konsolidasi mengalami pertumbuhan sebesar masing-masing 6 persen dan 14,61 persen.

Sumber daya finansial lainnya yang memberikan sumbangan besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah adalah sektor perbankan. Dana pihak ketiga (DPK) yang dapat dihimpun oleh perbankan dan lembaga keuangan lainnya terus mengalami peningkatan. Jumlah dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun pada tahun 2014 mencapai Rp 17,17 triliun, atau meningkat sebesar 16,96 persen dari tahun sebelumnya yang berjumlah Rp 14,68 persen. Komposisi DPK didominasi oleh dana retail berupa giro dan tabungan mencapai angka 71,29 persen. Dominasi dana retail berdampak pada relatif rendahnya biaya dana (cost of fund) sehingga bunga kredit bisa ditekan. Pada tahun 2015 diperkirakan dana pihak ketiga akan terus bertumbuh positif seiring dengan pertumbuhan kegiatan ekonomi di daerah.

Sejalan dengan pertumbuhan DPK, penyaluran kredit kepada masyarakat juga mengalami pertumbuhan yang tidak terpaut jauh dengan pertumbuhan (DPK). Jumlah kredit yang disalurkan pada tahun 2014 adalah Rp 21,24 triliun atau meningkat sebesar 15,56 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Proporsi kredit konsumtif masih yang terbesar dibandingkan dengan kredit untuk modal kerja dan investasi. Sementara loan to deposit ratio/LDR(rasio dana pihak ketiga terhadap kredit) pada tahun 2014 mencapai 128,9 persen. Ini menunjukkan bahwa ketersediaan dana pihak ketiga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan permintaan kredit. Kondisi ini memungkinkan lembaga keuangan melakukan ekspansi dan mengerahkan DPK mengingat peluang pasar yang masih terbuka.(bersambung)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *