Ketik disini

Headline Praya

Kades Bujak Dituntut Mundur

Bagikan

*Demo, Warga Bakar Ban Bekas

PRAYA – Perwakilan warga Desa Bujak, Batukliang kembali gedor kantor desanya, kemarin. Kali ini, mereka membawa massa lebih banyak dan melakukan aksi lebih nekat. Mereka membakar ban bekas serta sempat menyegel kantor desa. Kendati dilarang aparat kepolisian, warga tidak memperdulikannya.

“Ini sebagai simbol terbakarnya hati kami melihat perilaku kades yang tega memakan uang rakyatnya,” kata koordinator lapangan (korlap) Nasri di halaman Kantor Desa Bujak.

Pantauan Lombok Post, beberapa kali polisi melarang warga melakukan aksi bakar ban bekas itu. Namun, warga melawan. Hingga mereka pun bernegosiasi dan sepakat membakar ban di pintu masuk kantor desa. Saat aksi itu dilakukan, teriakan agar kades mundur pun terdengar.

Teriakan warga terdengar keras melalui pengeras suara, sembari membeberkan kesalahan yang dilakukan kades kepada masyarakat. Khususnya, menyangkut dugaan penyelewengan anggaran pembangunan desa. Suasana panasnya api ban bekas itu juga, membuat warga sepakat ingin melakukan aksi penyegelan kantor desa.

Tindakan ini pun dilerai anggota polisi yang berjaga sejak pagi. Mereka menginginkan penyegelan hanya dilakukan sementara. Namun, polisi tidak menginginkan adanya aksi semacam itu.

“Kami sudah beri izin membakar ban bekas. Kali ini, tolong dengarkan kami agar tidak menyegel kantor desa,” ujar sejumlah anggota polisi.

Mendengar permintaan itu, mereka tidak bisa berbuat banyak. Mereka pun kembali melakukan orasi. Mereka juga menuntut agar Kejaksaan Negeri (Kejari) Praya secepatnya mengusut laporan yang telah dilayangkan. “Jangan diam saja,” lanjut Nasri.

Kedatangan puluhan warga Desa Bujak ke kantor desanya sendiri ini lagi-lagi tak ditemui kades. Beberapa puluh menit massa datang ke kantor desa, kades langsung meninggalkan ruangan.

Dengan alasan, ada rapat penting di kantor camat dan bupati. “Kami tahu kades kabur dari kantor desa. Ini menunjukkan dia sesungguhnya benar-benar berbuat salah,” katanya.

Harusnya, menurut Nasri, kades bersangkutan menghadapi masyarakat. Lalu menjelaskan pangkal permasalahan yang ada. Bukan sebaliknya bersembunyi dari kesalahan.

“Kalau salah katakan saja salah, maka sama-sama kita perbaiki. Bukan justru menghindar,” tegasnya.

Nasri pun memberi kesempatan kepada Kades Bujak untuk menemui warga kapan pun. Jika tidak, aksi yang lebih besar akan terjadi. Termasuk, mendatangi kantor kejari guna mendesak agar laporan dugaan penyelewengan ADD diusut tuntas.

Menanggapi hal itu, Sekdes Bujak Sapran Undong mengaku tidak bisa berkata banyak atas tuntutan dan keinginan warga. Karena yang berwenang menjawab adalah kades. “Beliau merupakan kuasa pengguna anggaran. Insya Allah saya pribadi akan membicarakan dengan pak kades agar masalah ini bisa diselesaikan melalui jalur musyawarah,” ujarnya.

Urusan pemasukan dan pengeluaran anggaran pembangunan desa, tambah Sapran telah dijelaskan sebelumnya saat aksi warga pertama kalinya pada 11 Mei lalu.

“Lebih detailnya nanti kita sama-sama mendengar dari penjelasan kades langsung. Kita ingin masalah ini diselesaikan secara internal. Tidak melebar kemana-mana,” harapnya.(dss/r11)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *