Ketik disini

Feature Headline

Saking Luasnya sampai Ketiduran di Mobil

Bagikan

*Mengunjungi Mahasiswa Indonesia yang Magang di Peternakan Mahaluas di Australia

Sudah empat tahun Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) menjalin kerja sama dengan Northern Territory Cattlemena��s Association (NTCA, Asosiasi Peternak Northern Territory). Mahasiswa Indonesia mendapat kesempatan belajar mengelola peternakan secara langsung di peternakan Australia. Inilah ceritanya.

***

JOHANDI, 22 tahun, mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Mataram (Unram), Nusa Tenggara Barat, dengan mata berbinar menyalami tamunya, rombongan wartawan Indonesia dan Kedutaan Besar Australia di Jakarta. “Halo, saya Joe,” katanya sembari menjabat tangan saya.

Joe, panggilan Johandi, mengaku senang sekali bisa bertemu dengan orang-orang Indonesia yang berkunjung ke peternakan tempatnya magang di Darwin, Australia. Maklum, selama dua bulan “KKN” di lokasi yang sangat jauh dari keramaian kota, Joe jadi kesepian.

Pemuda asal Gerung, Lombok Barat, itu merupakan satu di antara 20 peserta Indonesia-Australia Pastoral Industry Student Program. Mereka ditempatkan di sejumlah peternakan milik warga di wilayah Northern Territory (NT).

Bersama Debora Rija Kapuru Ana Amah Kapuru, mahasiswa Universitas Nusa Cendana Kupang, Joe magang di Cave Creek Station, peternakan milik keluarga Rohan Sullivan. Peternakan Rohan terletak di Mataranka, 422 km dari Darwin. Lokasinya sangat terpencil. Hampir tidak ada permukiman penduduk. Kami mengunjungi peternakan seluas 125 ribu hektare dengan 7 ribu ekor sapi itu Minggu, 10 Mei lalu.

Siang itu Joe mengenakan seragam peserta program, baju biru lengan panjang. Di lengan bagian kirinya menempel sebuah emblem bendera Merah Putih. Selama masa magang, Joe dan Debora tinggal di rumah keluarga Rohan di kompleks peternakan tersebut. Tak hanya belajar seluk-beluk mengelola peternakan, dua mahasiswa itu juga harus bisa beradaptasi dengan kultur lokal. Karena itu, ketika kami datang, Joe langsung ikut sibuk bersama anak Rohan, Margo Sullivan, membuat minuman. “Enak tinggal di sini. Keluarga Rohan sangat baik,” kata Joe.

Sejak program magang tersebut dibuka pada 2012, sudah empat kali mahasiswa Indonesia diterjunkan ke peternakan-peternakan di NT. “Tahun ini yang paling banyak, 20 orang,” ujar Rohan.

Selain dari Unram dan Universitas Nusa Cendana, mahasiswa peserta program datang dari Universitas Andalas (Unand) Padang, Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Brawijaya Malang, Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta, Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang, dan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado.

Sebelum ditempatkan di peternakan, para mahasiswa menjalani practical training dua minggu di Katherine Rural College Darwin. Mereka diajari beberapa keterampilan khusus seperti menunggang kuda, first aid, mengendarai motor, konstruksi bangunan, penanganan hewan, dan memilih sapi. “Semua itu kemampuan dasar yang harus kami kuasai untuk bekerja di peternakan ini,” ucap Joe.

Joe dan Debora tidak pernah membayangkan akan bekerja di peternakan seluas itu. Apalagi, peternakan tersebut hanya dikelola keluarga Rohan sendiri. “Di Indonesia tidak ada peternakan sapi seluas di sini. Kalau ada, pasti banyak pekerjanya,” ujar Joe. “Jadi, saya sangat salut melihat cara kerja keluarga Rohan mengurus peternakan seluas ini sendirian,” tambah mahasiswa semester enam itu.
Setiap hari Joe dan Debora sudah harus bangun pukul 06.00. Setelah cuci muka dan sarapan, mereka membantu Rohan mengurus sapi-sapinya yang berkeliaran di padang-padang rumput. Mereka juga diajari tahap demi tahap mengelola peternakan. Misalnya cara memberi makan sapi dan memperlakukan hewan ternak dengan baik. Sebab, peternak mesti menaruh respek terhadap sapi-sapi yang diurus. Tidak boleh memperlakukan seenaknya.

Joe dan Debora juga pernah diajak mengunjungi peternakan keluarga Rohan di lahan yang disewanya dari orang Aborigin. Di lahan seluas 54 ribu hektare itu, Rohan memiliki 2 ribu ekor sapi.

“Nah, untuk memberi makan saja dibutuhkan waktu tiga jam perjalanan mobil. Itu saking luasnya lahan peternakan milik keluarga Rohan ini,” cerita Joe.

Kali pertama diajak Rohan, Joe dan Debora sempat bingung. Pasalnya, berjam-jam perjalanan tidak sampai-sampai. “Debora sampai ketiduran di mobil karena luasnya peternakan itu,” lanjut Joe.

Kami juga menemui dua mahasiswa peserta magang di peternakan milik Garry Riggs. Mereka adalah Alfarisi Hudan Hakiki (Kiki) dari Universitas Brawijaya dan Firdha Rosemalinda Paulina (Chue) dari Undip Semarang. Kiki dan Chue juga terlihat gembira bisa bertemu dengan tamu dari Indonesia. “Akhirnya bisa ngomong pakai bahasa Indonesia juga,” kata Chue sembari tersenyum.

Mereka juga senang bisa bersua dengan dua temannya, Joe dan Debora. Sejak penempatan, para mahasiswa itu belum pernah bertemu satu sama lain. Maklum, lokasi peternakan mereka jauh dari mana-mana. Apalagi tempat Chue dan Kiki. Peternakan milik Garry, Lakefield Station, berada lebih pelosok daripada lokasi peternakan Rohan. “Kalau sudah malam sepi banget di sini. Sinyal HP juga nggak ada,” curhat Chue.

Hiburan yang bisa mereka lakukan setelah seharian bekerja biasanya bercengkerama dengan keluarga induk masing-masing. Kebetulan, keluarga Rohan maupun keluarga Garry memiliki anak sebaya dengan para mahasiswa itu. Hanya, mereka baru pulang ke rumah orang tua pada akhir pekan. “Anak-anak itu sekolah di Katherine, di kota. Baru akhir pekan mereka pulang dan mengajak kami main. Anak-anak Pak Garry jago berkuda. Kami sering diajari,” kata Chue.

Chue-Kiki maupun Joe-Debora mengaku bangga bisa mengikuti program magang di peternakan raksasa tersebut. Sebab, mereka dipilih dari sekian ratus pelamar di seluruh Indonesia. Mereka harus menjalani tes seleksi yang ketat.

Bahkan, terpilihnya Joe sempat membuat geger kampung halamannya. Berita tentang lolosnya Joe magang ke Australia menjadi perbincangan para tetangga. “Karena jarang ada anak kampung saya yang bisa ke luar negeri,” ungkapnya tersipu. “Orang kampung ramai. Kata mereka, wah Joe, kamu mau ke luar negeri ya. Hati-hati nanti pulang jadi bule,” kenang Joe menirukan komentar orang di kampung halamannya.

Namun, keberadaan 20 mahasiswa di NT itu sempat membuat keluarga di tanah air cemas. Sebab, hubungan Indonesia-Australia memanas menyusul eksekusi mati dua terpidana Bali Nine. “Meski pemerintah mengimbau warga negara Indonesia yang di Australia untuk tenang, keluarga di rumah tetap cemas,” ucap Joe.

Pihak NTCA juga sempat menemui para mahasiswa Indonesia itu. Mereka datang untuk meyakinkan bahwa semuanya aman. “Mereka menenangkan kami. Kami tidak perlu khawatir. Kata mereka, yang sedang terjadi antara Indonesia dan Australia tidak ada hubungannya dengan program ini. Kami diminta tetap fokus dan belajar. Mereka juga bilang Australia juga memerangi narkoba,” ungkap Kiki. (*/c9/ari)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 wholesale jerseys