Ketik disini

PELESIR

Wisata Petik Buah Jadi Primadona Baru

Bagikan

* Berkunjung ke Sembalun, Kawasan di Kaki Gunung Rinjani (2)

SEMBALUN yang kaya menawarkan sejuta potensi. Yang terbaru dan sedang digandrungi wisatawan adalah wisata petik buah. Menikmati sensasi buah segar yang dipetik langsung tangan sendiri membuat banyak pihak ketagihan berkunjung.

”Silakan-silakan, langsung ke belakang saja,” kata Inaq Sihman ramah.

Di bagian belakang rumahnya terhampar kebun yang tak begitu besar. Hanya ada empat petak yang masing-masing berukuran tiga are. Satu petak masih belum ditanami. Tiga lainnya terisi deretan pohon stroberi.

Setelah memberikan nampan kecil pada para pengunjung, ia lalu memberi sedikit contoh. Tak berselang lama, pelajaran sudah usai. Petik buah bisa dilakukan. ”Boleh makan sepuasnya kalau masih di sini,” katanya.

Ditemani sejuknya suasana kaki Gunung Rinjani, para wisatawan larut dalam kegiatan itu. Betapa tidak, di depan, pemandangan Rinjani terhampar indah, di belakang sejumlah lembah mengiasi. Belum lagi rasa manis sedikit kecut buah merah kecil ini yang begitu nikmat. Sungguh membuat hati tenang dan gembira.

Selain stroberi, di sana juga mulai berkembang wisata petik buah apel dan jeruk. Bahkan sejumlah petani rencananya memulai buah baru semisal anggur atau bahkan durian. Dari lahan seadanya itulah Inaq Sihman menghidupi keluarganya.

Setelah dua bulan ditanam, buah stroberi bisa terus berbuah setiap hari hingga bulan ke tujuh. Selama itu ia terus memanen pundi-pundi rupiah. Tak banyak memang, hanya seadanya untuk menyambung hidup, namun itu sudah lebih dari cukup untuk menyekolahkan anaknya yang masih kecil-kecil. Untuk setiap tiga mika kecil dihargai dengan Rp 10 ribu. Dalam sehari pengunjung yang datang silih berganti bisa memanen hingga 40 mika. Uang Rp 130 ribu setidaknya sudah dikantong. Iapun tak perlu bersusah payah melakukan kerja keras. Cukup memberi pupuk kandang seadanya dan merawat dengan sesekali memberikan perlakuan khusus. ”Kalau tanam padi, tak sampai segitu saya dapat,” jawabnya polos.

Wisatawan yang berkunjung pun sangat menikmati hal itu. Daripada membeli di supermarket dengan harga jauh lebih mahal dan tak lagi segar, hal ini lebih menjadi pilihan. ”Enakan ini dong, kan petik sendiri dan masih segar,” kata Helena, wisatawan asal Manado.

Jika pemerintah bisa lebih menata polanya, bukan tak mungkin wisata yang satu ini berkembang seperti wisata alam lainnya di Lombok. Bukan tak mungkin juga wisata ekologi ini bisa mengalahkan wisata umum yang biasanya hanya mengandalkan pantai saja. ”Ke pemerintah kami tak minta uang, cukup bantu tata kami saja,” harapnya. (*bersambung)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *