Ketik disini

Headline NASIONAL

Bola di Tangan Kemenpora

Bagikan

* Tim Transisi Siapkan Turnamen dan Ambil Alih Kantor PSSI

JAKARTA – Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) seharusnya bergerak lebih cepat memperbaiki tatanan sepak bola Indonesia setelah PSSI mendapat sanksi dari FIFA. Apalagi, kementerian pimpinan Imam Nahrawi itu telah mendapat dukungan langsung dari Presiden Joko Widodo.

Tokoh sepak bola nasional, Ferril Raymond Hattu mengatakan, sanksi dari FIFA dan singnal positif dari presiden seharususnya segera ditangkap Kemenpora. “Bola sekarang berada di tangan Kemenpora. Jangan sampai momentum ini hilang begitu saja, karena rakyat sudah menggantung banyak harapan ke mereka,” ujar Ferril, kemarin.

Menurutnya, cara yang tepat untuk menangkap momentum tersebut adalah melakukan konsolidasi secara masif dengan semua pemilik klub dan asosiasi provinsi (Asprov) sepak bola di seluruh tanah air. Pertimbangannya, klub dan asprov adalah stakeholder utama untuk memperbaiki tata kelola sepakbola Indonesia ke arah yang lebih baik.

Memang, setelah seluruh kompetisi di Indonesia dihentikan oleh PSSI pada 2 Mei lalu, tidak sedikit klub yang meradang. Betapa tidak, kompetisi hanyalah satu-satunya jalan bagi klub-klub Indonesia untuk bisa bertahan hidup. “Dan, untuk merangkul semua klub memang bukan pekerjaan mudah. Tapi, itu yang harus dilakukan,” tegasnya.

Selain itu, mantan kapten timnas Indonesia ini menyebutkan, semangat tinggi Imam Nahrawi untuk memperbaiki sepakbola tanah air harus dibarengi dengan persiapan dana yang maksimal. Terutama ketika akan memutar kembali kompetisi tanah air. “Jadi, semua komponen yang saat ini memiliki semangat memperbaiki sepakbola sudah seharusnya bergerak cepat,” tandasnya.

Di sisi lain, salah satu anggota Tim Transisi PSSI bentukan Menpora, Zuhairi Misrawi mengungkapkan, mereka sudah memiliki lima rencana jangka pendek yang harus segera dieksekusi. Salah satunya rencana perhelatan Piala Kemerdekaan yang akan digelar pertengahan Juni ini.

“Kami sudah melakukan pendekatan dengan klub-klub profesional (Liga Indonesia, Red) dan sebagian besar dari mereka telah menyatakan kesiapannya untuk ikut dalam turnamen ini,” ujar Zuhairi. “Kami tahu bahwa klub-klub Indonesia membutuhkan banyaknya pertandingan, dan wajib bagi kami untuk menangkap semangat itu,” timpalnya.

Selain Piala Kemerdekaan, Tim Transisi juga sudah merencanakan Piala Panglima TNI yang rencananya akan berlangsung sebelum perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan 17 Agustus mendatang. “Dua turnamen itu akan menjadi test case bagi kami sebelum menggelar kompetisi profesional untuk Liga Indonesia dan Divisi Utama,” timpalnya.

Selain Misrawi, Cheppy T Wartono yang juga salah satu anggota Tim Transisi PSSI menyebutkan, salah satu yang paling utama yang akan mereka lakukan adalah pengambilalihan kantor PSSI di bilangan Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta. “Karena setelah sanksi FIFA itu turun, mereka (PSSI, Red) kan sudah tidak bisa melakukan apa-apa di sana,” jelasnya.

Nah, salah satu langkah untuk mempercepat pengambilalihan kantor PSSI tersebut, Cheppy menyebutkan, Tim Transisi sudah bekerja sama dengan pihak Sekretariat Negara (Setneg) dan Polri. Itu tidak lain karena penggunaan kantor PSSI tersebut berada langsung di bawah kendali Setneg.

Dari internal pemain, kekecewaan akan sanksi FIFA kepada PSSI keluar dari mulut Andik Vermansah, pemain Indonesia yang merumput di Malaysia Super League (MSL) bersama Selangor FA. Come back manis yang sedianya dijalani Andik saat Indonesia menjalani pertandingan Pra Piala Dunia (PPD) 2018 kontra Taiwan (11/6) mendatang terancam buyar tak berbekas.

Sebab, pasca sanksi FIFA turun, segala aktivitas sepakbola Indonesia di pentas internasional bakal mandek. “Lha mau gimana, sanksi turun saya gak tahu kalau timnas apa masih tetap jalan,” terang penyerang sayap asal Surabaya tersebut. Padahal sebelumnya dia cukup antusias menyambut pemanggilan namanya masuk di skuad timnas senior besutan Peter Huistra tersebut.

“Sampai saat ini saya masih nunggu kabar berikutnya dari Jakarta,” kata pemain bernomor punggung 7 itu. Pemanggilan dirinya ke timnas senior dianggap sebagai momentum untuk ambil bagian dalam peningkatan sepakbola Imdonesia.

Di sisi lain, gelandang muda Persib, Dedi Kusnandar yang juga masuk daftar nama skuad PPD 2018 menyatakan dia hanya bisa pasrah. “Sebenarnya ini menjadi kiprah pertama saya di timnas senior,” ujar kompatriot Andik di SEA Games Myanmar 2013 itu.

Isu panas soal kemelut sepakbola Indonesia ditangkap pula kalangan parlemen. Wacana penggunan hak interpelasi yang sudah muncul beberapa hari terakhir, makin deras bergulir. Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menegaskan, hak meminta keterangan pada pemerintah itu penting diajukan.

Menurut dia, sejak awal publik tidak pernah mengerti dengan apa yang dipikirkan pemerintah melalui Kemenpora terkait kemelut persepakbolaan. “Pemerintah harus jelaskan secara resmi apa yang terjadi kepada publik. Dan, penjelasan ini harus melalui penggunaan hak interpelasi DPR,” tegas Fahri Hamzah di Jakarta, kemarin.

Dia menilai, keinginan memperbaiki PSSI dan sepakbola Indonesia tidak tercermin dalam sikap harian pemerintah. Menurutnya, yang nampak di depan publik justru ketidakmengertian persoalan hingga akhirnya PSSI dibekukan.

Sejak awal, kata dia, semua orang paham kalau FIFA adalah lembaga yang serius. Sebuah federasi sepakbola dunia berumur lebih dari 111 tahun yang memiliki mekanisme yang baku. Intervensi pemerintah adalah momok dalam statuta yang dimiliki. “Maka, tidak ada cara lain, masalah ini harus diinvestigasi secara menyeluruh, kita tidak boleh membiarkan anomali terus melanda persepakbolaan kita,” tandas politisi PKS itu.

Fahri kemudian menyinggung tentang rencana besar untuk PSSI dan persepakbolaan Indonesia yang sering disampaikan pemerintah. Menurut dia, pada momen interpelasi nantilah saat yang tepat untuk menjelaskan semuanya.

“Momentum ini juga pelajaran berharga agar pemerintah tidak lagi mengambil keputusan sembrono yang tidak saja telah dipatahkan oleh pengadilan, tetapi sekarang menjadi sanksi bagi sepakbola Indonesia,” pungkas Fahri.

Pertanyakan Keabsahan Isi Surat FIFA

Sementara itu, pihak Kemenpora sepertinya belum yakin betul dengan surat sanksi dari FIFA kepada PSSI. Sebaliknya, mereka masih mempertanyakan keabsahan surat yang diterbitkan federasi sepak bola internasional, 30 Mei lalu itu.

“Ada sejumlah kejanggalan yang perlu dipertanyakan kepada FIFA,” ujar Juru Bicara Kemenpora Gatot S Dewa Broto, kemarin. “Selain ada sejumlah kejanggalan substansi surat, juga ada kejanggalan beberapa bagian surat dari aspek gramatikal. Sehingga ini menyangkut kredibilitas FIFA itu sendiri,” lanjutnya.

Nah, salah satu yang membuat Gatot masih sangsi dengan surat tersebut, terkait diperbolehkannya Indonesia berlaga di SEA Games Singapura. Pertimbangan FIFA, skuad Indonesia sudah berada di Singapura dan menjalani pertandingan di sana. Padahal, pertandingan pertama Indonesia adalah melawan Myamnar, 2 Juni besok.

“Bagaimana mungkin kalimat tersebut terstruktur dalam bentuk past continous tense, sesuatu yang sedang terjadi pada masa lalu, sementara Sea Games-nya itu sendiri belum berlangsung. Hal kecil ini yang membuat kami sangsi dengan surat dari FIFA itu,” jelas pria yang juga Deputi V Bidang Keharmonisan dan Kemitraan Kemenpora ini.

Kendati begitu, Gatot menyatakan, pemerintah dalam hal ini pihak Kemenpora akan bertanggung jawab atas semua dampak yang terjadi setelah adanya sanksi dari FIFA kepada PSSI tersebut. “Pemerintah tidak abai untuk harus segera melakukan sejumlah langkah strategis sebagai konsekuensi dari sanksi ini,” ujarnya.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban itu, Gatot menyebutkan, Kemenpora akan bersinergis dengan berbagai lembaga terkait untuk segera menyempurnakan blue print pembenahan sepakbola nasional dalam waktu secepatnya. “Dengan harapan, dapat diperoleh grand strategi yang lebih komprehensif, transparan, objektif dalam penataan ulang sistem pengelolaan sepakbola nasional” tambahnya.

Sementara itu, meski memiliki sejumlah masalah di gramatikal dalam isi surat, Wakil Ketua Umum PSSI Erwin Dwi Budiawan mengungkapkan, surat sanksi terhadap PSSI dari FIFA tersebut adalah benar adanya. “Surat itu memang benar-benar dari FIFA,” kata Erwin. “Kami akan segera melakukan pertemuan dengan anggota Exco (Executive Committee) PSSI untuk membahas masalah ini,” timpalnya. (dik/nap/dyn/r3)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *