Ketik disini

Feature

Penataan Sungai dan Bangunan di Tianjin Bisa Dicontoh

Bagikan

* Berkunjung ke Tiongkok

Tianjin merupakan kota ajaib di Tiongkok. Berkat pemimpin yang visioner daerah yang minim kekayaan alam ini menjelma menjadi salah satu ikon Tiongkok.

Ini masih soal Tianjin. Meski hanya setengah hari berada di kota tersebut, banyak pelajaran yang saya dapat.

Konon, wilayah Tianjin merupakan daratan yang terbentuk dari sedimentasi beberapa sungai yang bermuara di Teluk Bohai. Nama Tianjin dalam River Record in History of Jin mempunyai arti anak surga. Hal tersebut berkaitan dengan cerita Kaisar Yongle, seorang putra Kaisar Taizu dari Dinasti Ming.

Saat itu, Kaisar Yongle melakukan perlawanan terhadap generasi penerus Kaisar Taizu yang bernama Zhu Yunwen, cucu Kaisar Hongwu di Nanjing guna meraih takhta kerajaan. Dia memulai perlawan tersebut dari wilayah Sungai Gu, kemudian memberi nama wilayah tersebut dengan nama Tianjin setelah berhasil meraih takhta kerajaan.

Tianjin benar-benar membuat saya seperti bermimpi. Memimpikan keindahan yang tak ada habisnya. Jalannya, budayanya, pariwisatanya, bangunannya, hingga keramah-tamahan masyarakatnya.

Di Tianjin, suatu yang tak mungkin bisa jadi mungkin. Salah satu buktinya adalah sungai. Di Tianjin, dulu tak ada sungai besar. Jalannya berkelok-kelok dan naik turun. Masyarakatnya sangat terbelakang, miskin, dan kumuh. Tak ada yang bisa dibanggakan.

Tapi, itu dulu! Sekarang, Tianjin berubah total. Selain jalan, sungainya juga luar biasa. Sungai ini berbeda dengan sungai di NTB, bahkan Indonesia. Semua sungai di Tianjin adalah hasil rekayasa manusia, alias dibuat tangan-tangan manusia.

Pantas saja, sungai di Tianjin tak berkelok-kelok. Bentuknya lurus seperti membelah kota tersebut. Lebarnya pun rata-rata 300 meter. “Semua sungai ini dibuat beberapa tahun lalu. Fungsinya banyak sekali,” kata Lie Xiao, salah satu pendamping saya selama berada di Tiongkok. Lie merupakan utusan dari Konsulat Jenderal Tiongkok.

Fungsi sungai di Tianjin adalah mencegah terjadinya banjir. “Dulu, sebelum ada sungai ini, Tianjin sering banjir. Tapi sekarang, semuanya berubah. Hujan sebesar apa pun, Tianjin selalu bebas dari ancaman banjir,” kata Lie.

Selain mencegah banjir, sungai ini disulap menjadi tempat wisata. Konsep ini dibuat untuk menutupi kekurangan Tianjin yang tidak memiliki pantai indah layaknya Lombok. Di atas sungai, dibangun jembatan penghubung. Pembatas jembatan dihias. Sehingga terlihat indah, terutama pada malam hari.

Pemerintah juga menyediakan kapal khusus bagi wisatawan yang berkunjung ke sungai ini. Kapal tersebut akan membawa wisatawan mengelilingi sungai sambil melihat keindahan jembatan yang dihias dan gedung pencakar langit yang dibangun di sisi sungai.

Ketika menaiki kapal tersebut, saya sempat membayangkan Sungai Jangkuk, sungai terbesar yang membelah Kota Mataram. Andai saja Pemerintah Kota Mataram kreatif, paling tidak separo dari keindahan sungai Tianjin bisa ditiru. Minimal soal kebersihannya.

Ya, sungai di Tianjin cukup jernih. Tak sehelai sampah pun ditemui di tempat ini. Ini kenyataan. Sampai-sampai saya tidak fokus menikmati keindahan sungai ini ketika berada di atas kapal, hanya untuk mencari sehelai sampah.

Harus diakui, fakta ini aneh bin ajaib. Bagaimana mungkin sungai panjang dan seluas itu tidak ada sampahnya. Sebab, di Mataram saja, sungai Jangkuk yang tidak terlalu besar, selalu penuh dengan sampah. “Ini seperti mustahil, tapi faktanya saya tidak bisa menemukan sehelai sampahpun,” kata saya dalam hati.

Tianjin juga menawarkan wisata bangunan kuno. Ya, di tempat ini, wisatawan nyaris tak merasakan sedang berada di Tiongkok. Kemasannya persis seperti Eropa, tepatnya Italia. Mulai dari bangunan hingga makanan yang disajikan.

Konon, di salah satu sisi Kota Tianjin ini, dulu merupakan markas warga pendatang asal Italia. Namun, setelah Perang Dunia II berakhir, bangunan-bangunan itu menjadi tak berpenghuni.

Bangunan kuno itu kemudian dirawat tanpa mengubah desain awalnya. “Tempat ini menjadi tempat favorit wisatawan Eropa yang sedang berkunjung ke Tiongkok,” kata Zhang Jianing, salah satu pedagang di tempat itu.

Saat berada di sini, lagi-lagi saya kepikiran soal Mataram. Tepatnya Ampenan. Jika saja Pemerintah Kota Mataram lebih kreatif dan menghargai sejarah, tentu Ampenan tak seperti sekarang ini. Kumuh dan bangunan-bangunan peninggalan Belanda di sana terlihat tidak terawat.

Tianjin bisa menjadi salah satu referensi bagi Mataram. Karena banyak kesamaan objek yang bisa dimanfaatkan. Tentu, untuk menjadi seperti Tianjin, tidaklah mudah. Butuh waktu dan dana melimpah. Namun, jika dimulai dari sekarang, bukan tidak mungkin 30 tahun ke depan harapan itu bisa terealisasi.

“Butuh 30 tahun untuk menjadikan Tianjin seperti sekarang ini. Semua itu bisa terealisasi karena kekompakan pemerintah dan kami sebagai masyarakat. Pemerintah terbuka dan bersih dari praktik korupsi. Sedangkan kami sebagai masyarakat mendukungnya dengan penuh semangat,” tutur Wang Bo, salah satu warga Tianjin. (*/bersambung/r3)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *