Ketik disini

Feature

Kota Terowongan dengan Ratusan Jembatan Layang

Bagikan

* Berkunjung ke Tiongkok (4-Habis)

Fujian menjadi salah satu provinsi paling ambisius di Tiongkok. Provinsi ini tak hanya membangun infrastruktur, bisnisnya pun berkembang luar biasa. Ini resepnya.

a�?Untuk investor yang serius, kami bisa menerbitkan izin hanya dalam waktu tiga jam.a�? Itulah salah satu pernyataan Dr Chu Yanli, Senior Consellor Provinsi Fujian kepada Lombok Post.

Pembangunan yang cepat tidak bisa terlaksana jika birokrasnya berbelit-belit. Karena itu, Provinsi Pujian sangat memperhatikan kenyamanan bagi setiap investor yang serius menanamkan modalnya di Fujian.

Tidak seperti daerah lain di Tiongkok, Fujian termasuk kurang beruntung dari sisi bentuk wilayah. Di Fujian banyak gunung, bukit dan laut. Sehingga, harus ada cara yang lebih progresif dan inovatif untuk menarik investor ke wilayah tersebut.

Fakta itu disadari betul oleh pemerintahnya. Berbagai cara dilakukan. Bahkan, sesuatu yang secara nalar manusia cukup sulit dilakukan pun, bisa terealisasi di Fujian. Misalnya, menggali gunung untuk dijadikan jalan, serta membuat jembatan di atas laut.

Penggalian gunung itu dimaksudkan agar jalan di Fujian lebih refresentatif. Tidak ada tanjakan maupun tikungan berbahaya.

a�?Di daerah ini, ada banyak terowongan. Totalnya 20 lebih,a�? jelas Chu.
Panjang terowongan itu antara satu hingga dua kilometer. Sementara lebarnya sekitar 25 meter. Membuat jalan dengan membolongi gunung serta bukit, ternyata cukup ampuh. Setidaknya, akses masyarakat menjadi lebih mudah.

Selain membolongi gunung dan bukit, pemerintah provinsi Fujian juga membuat jembatan layang di atas laut. Jumlahnya pun tak sedikit. Mencapai puluhan jembatan. Tujuannya sama, mempermudah akses masyarakatnya.

Panjang jembatan antara tiga sampai tujuh kilometer. Dengan jembatan ini, masyarakat Fujian lebih leluasa dalam berinteraksi dan mengembangkan ekonominya.

a�?Kami pemerintah di sini sangat percaya bahwa infrastruktur jalan yang baik akan membuat masyarakat hidup lebih sejahtera,a�? tegas Chu.

Setelah infrastruktur mantap, kini pemerintah Fujian mulai membangun kota khusus. kota itu diharapkan bisa menjadi sentra ekonomi bagi provinsi ini. Sejumlah kebijakan berani diberlakukan. Salah satunya, menerapkan pasar bebas. Artinya, barang-barang dari luar negeri yang masuk ke Fujian, tidak dikenakan pajak.

a�?Kami juga mulai membangun obyek pariwisata. Di tempat ini, nanti akan kita bangun salah satu arena judi terbesar,a�? kata Chen Wen, Vice Board of Director Fujian Min Cheng Group.

Selain pasar bebas, Fujian menjadi salah satu lokasi perdagangan hasil laut terbesar di Tiongkok. 60 persen hasil laut yang diperdagangkan di daerah ini, berasal dari Indonesia.

a�?Ikan dari Indonesia sangat digemari warga Tiongkok. Kami sangat tergantung dengan hasil laut Indonesia,a�? kata Zhu Jing We, salah satu pekerja di perusahaan sentra perdagangan ikan di Fujian Tingkok pada Lombok Post.

Di Fujian, Lombok Post juga mengunjungi sejumlah wilayah di FuZhou. Di tempat ini, banyak tempat bersejarah dan terkait langsung dengan Indonesia. Salah satunya adalah museum Cenghoo. Mulai dari kapal yang digunakan berlayar ke Indonesia hingga peninggalan Cenghoo lainnya ada di museum ini.

Selain museum Cenghoo ada juga beberapa museum dan peninggalan tokoh-tokoh Tiongkok lainnya. Peninggalan-peninggalan itu dikumpulkan lalu dijadikan sebagai obyek wisata sejarah.

a�?Bagi kami, sejarah tidak boleh dilupakan. Sejarah akan menuntun kita menjadi lebih baik di masa depan,a�? kata Zhu Funing, warga Fuzhou yang ditemui di salah satu museum.

Setelah dari Fujian, perjalanan saya berlanjut ke Hanian. Hanian merupakan daerah yang menjadi ikon pariwisata di Tiongkok. Di daerah inilah, pertemuan kepala negara yang tergabung dalam Boao Asia digelar setiap tahun. Termasuk Indonesia.

Di daerah ini, ada juga wisata pedesaan di Desa Bei Reng. Layaknya desa Sade di Lombok Tengah.

a�?Dulu, warga desa di sini jarang yang menetap di rumah. Mereka mencari pekerjaan ke luar Fujian hingga ke luar negeri. Mereka menjadi buruh,a�? tutur Lie Tao, salah satu pegawai di pemerintahan Fujian yang secara khusus menemani delegasi.
Namun, sejak dua tahun lalu, warga Bei Reng tak ada yang bekerja di luar daerah atau luar negeri. Mereka pulang dan membangun desa. Mereka bekerja sebagai tenaga wisata sambil bertani di lahan-lahan subur mereka.

a�?Awalnya mereka dikasi modal oleh pemerintah. Kemudian mereka dibangunkan konsep rumah modern,a�? tutur Lie.

Kini, jumlah wisatawan yang datang ke desa ini setiap harinya rata-rata 2.000 orang.

a�?Bahkan di hari-hari libur, jumlahnya meningkat tajam. Bisa sampai 6.000 orang perhari,a�? bebernya.

Tak hanya desa wisata, tapi wisata pantai di Hainan juga berkembang pesat. Tahun lalu, jumlah wisatawan yang berkunjung ke daerah ini mencapai 4,7 juta orang. Sayangnya, dari jumlah itu, hanya sekitar 600 orang wisatawan mancanegara.

a�?Ya, kami masih terus belajar mendatangkan wisatawan mancanegara. Tapi kami yakin itu bisa,a�? tandas Kang Baiying, Deputy Director Foreign & Overseas Chinese Affairs Office of Hainan Province kepada Lombok Post.

Kang Baiying juga sempat bertanya terkait pariwisata di Lombok, NTB. Ketika dijelaskan ada pantai dengan pasir berwarna pink di Lombok, ia terlihat cukup bersemangat. Ia pun menanyakan lokasinya dan menyatakan ingin berkunjung ke pantai Pink.

a�?Saya baru dengar itu. Sungguh luar biasa. Saya ingin melihatnya suatu saat nanti,a�? kata Kang Baiying.

Pernyataan Kang Baiying yang tidak tahu tentang pantai Pink setidaknya menggambarkan kalau pariwisata NTB harus terus berbenah. Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) harus lebih aktif dan bersemangat lagi. Sayangnya, BPPD sejauh ini masih belum sesuai harapan.

Bahkan, ketika Lombok Post meminta brosur promosi pariwisata NTB untuk di bawa ke Tiongkok beberapa hari sebelum keberangkatan, hal itupun tidak bisa didapatkan. Salah satu anggota BPPD yang dihubungi mengaku masih rapat dan belum bisa ditemui. Semoga ke depan, hal seperti ini tidak terjadi lagi. (*/r7)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *