Ketik disini

Praya

Mau Aman, Tolong Pos Penjagaan Ditempati

Bagikan

* Dari Deklarasi Keamanan Bersama Pelaku Pariwisata (2-habis)

Upaya menjaga keamanan di beberapa objek vital memang sudah dilakukan. Salah satunya mendirikan pos penjagaan. Sayang pos penjagaan itu tak ada isinya.

***

HALA�itu dilontarkan Korwil Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Lombok Tengah Lalu Abdul Hadi Faishal. Dia melihat ada beberapa titik pos penjagaan yang dibangun pemkab sejak 2013 tidak difungsikan sama sekali. Akibatnya, pos-pos tersebut terkesan mubazir.

Pantauan Lombok Post, lokasi pos yang dinamakan pos jaga Tastura itu berada di beberapa titik yang dianggap rawan. Sebut saja, di wilayah Kuta dan sekitarnya, perbatasan Desa Sukadana-Mertak atau berdekatan dengan Mandalika Resort, serta di Labulia Jonggat. Kondisi fisiknya memprihatinkan.

Tembok bangunan mulai rekat, cat buram dan banyak kotoran hewan. Alasan tidak ditempatinya pos jaga Tastura itu karena minim fasilitas seperti listrik, air dan jaringan telekomunikasi. Khususnya lagi, tidak adanya kepastian anggaran pengamanan. Pos itu dihajatkan dijaga secara terpadu antara lain, Kepolisian, Satpol PP, Pam Pantai, dan Dishubkominfo.

Jika pos jaga Tastura itu difungsikan, tentu tidak ada aksi begal yang menimpa mahasiswi Windiyani di jalan raya Dusun Songgong, Desa Sukadana, Pujut. Karena lokasinya berdekatan dengan pos jaga.

a�?Di sinilah fungsi koordinasi dan komunikasi antara pemkab serta kepolisian. Bagaimana mencari jalan keluar agar pos jaga Tastura itu difungsikan,a�? ujar Hadi Faishal.

Termasuk, lanjut direksi da��praya Lombok Hotel ini, agar menyiapkan pos penjagaan non permanen yang terbuat dari tenda. Kalau pun itu sudah terjadwalkan agar cepat direalisasikan di lapangan, mengingat kondisi keamanan mulai mencemaskan.

Langkah itu juga, kata Hadi Faishal, yang diimbangi patroli rutin, 24 jam. a�?Kalau bisa polisi mempublikasikan titik-titik rawan, sehingga masyarakat ada antisipasi dini. Termasuk, merilis residivis yang berpotensi berbuat kejahatan,a�? tegasnya.

Untuk itu, melalui deklarasi bersama menjaga keamanan bersama itu, Hadi Faishal merasa tidak ada sesuatu yang sulit dan berat jika dikerjakan secara bersama. Para pelaku pariwisata siap membantu secara moral dan material guna menjaga keamanan. Karena jika kondisi aman dan nyaman maka kunjungan wisatawan meningkat.

Yang mendapatkan dampaknya, ungkap pria kelahiran Gumi Tatas Tuhu Trasna itu tentu kembali pada pemerintah, pelaku pariwisata dan seluruh elemen masyarakat. a�?Aset obyek wisata ini harus kita jaga bersama. Semoga, deklarasi ini dapat meminimalisasi terjadi aksi kejahatan. Minimal di tempat pekerjaannya masing-masing,a�? ujarnya.

Yang mengikuti deklarasi ini pun, kata Hadi Faishal, diharapkan dapat mengkampanyekan dan mengajak masyarakat untuk mendukung keamanan. a�?Urusan keamanan ini adalah tugas kita bersama. Jangan kita titik beratkan pada aparat saja. Tapi, mari kita bergandengan tangan,a�? ungkapnya.

Sementara itu, Kabid Pemasaran Disbudpar Loteng Suhartono mengaku terus menggalakkan promosi destinasi wisata. Tidak saja di wilayah selatan Loteng, tapi di wilayah utara dan tengah. Karena, masing-masing wilayah itu memiliki keunggulan berbeda. Namun, yang menjadi perhatian wisatawan adalah wilayah selatan.

Di tempat yang satu ini, beber Suhartono, dianggap sebagai surga dunia yang masih perawan. Hanya saja, promosi terkendala keamanan. a�?Kita berharap kedepannya, keamanan di obyek wisata dan jalan raya menuju objek wisata berjalan lancar. Mohon dukungan semua pihak,a�? ujarnya.(Dedi Shopan Shopian/Loteng)

Komentar

Komentar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *